Metadata Diri
Sudah bertahun-tahun aku mencarinya, seperti seorang musafir yang mengeja peta dalam dada, jejaknya pun penuh dengan ketidakpastian. Aku pernah mencarinya di batu-batu pijakan, di lereng-lereng kematian, dan di sepanjang jalur pendakian. Tetapi belum pernah kutenemukan sedikit pun jejaknya. Mungkin, yang ku cari hanya sekadar batas logika kuasa-Nya.
Saat ini, dadaku terasa mulai sesak karena rindu yang terus menggelegak, oleh waktu yang tak pernah mengenal arah pulang. Hanya gema dari kesunyian jiwaku yang ringkih, menuntun langkah seperti musafir itu.
Ah, lagi-lagi aku kembali pulang, tempat yang paling asing namun paling kerap kutemui; tempat segala pencarian bermula dan mungkin akan berakhir disana.
Malang, 2024

PUISI Ayie S Bukhary
Petaka
Selepas sandiwara, seperti panggung yang ditinggal sutradara.
Entah kemana, entah sampai kapan, aku tertahan dalam hunian dan tuntutan.
Tanpamu, hari-hariku luka dan liku, tak ada tuntunan dan tumpuan.
Bagaikan hidup seperti wabah yang diciptakan tak bertuan.
Hanguslah, aku dimusnahkan.
Tasik, 2024

PUISI Yesmil Anwar
Tuhan, Aku Titip Kembali
Kalau memang kenapa, haruskah bagaimana?
Kalau harus berhenti, apakah perlu tersakiti?
Ataukah biarkan saja menjalar di lain hati
Agar semua orang tahu, betapa rapuhnya janji
Sebenarnya, mungkin tak sebaiknya bersikap
Apalagi hanya sebatas ungkap, seharusnya
Rumah ibadahmu adalah aku, baik – buruknya
Tanpa kau patahkan dengan kata dan rasa
Kalau memang kau anggap mengatur
Itu karena cemasku tak pernah kau dengar
Bukan sekadar takut kehilangan? Bukan!
Tapi, lebih dari apa yang kau duga dan kira
Sebab kau hanyalah titipan, yang kini
Barangkali, sedang kehilangan arah dan tujuan
Ciamis, 2025

PUISI Ihya M Kulon
Kemaluan
Aku tidak malu jika pun dikata bukan seorang pembaca buku. Sebab membaca bukan soal citra, melainkan sebuah kendali komunikasi. Justru yang membuatku malu adalah ketika aku tak tahu, dan tetap merasa tak perlu tahu.
Aku juga akan lebih malu pada ketidaktahuanku tentang hal-hal yang menyentuh qalbu, tentang keluarga, saudara, kawan, alam, hewan, atau bahkan keberadaan Tuhanku sendiri.
Aku malu bukan karena belum pernah membaca ratusan halaman buku, tapi karena pernah merasa cukup tahu, padahal baru mengenal “cangkang” dari luka liku ke-akuanku itu.
Sejatinya, rasa malu yang paling dangkal adalah saat di titik sadar diriku sendiri. Oo… Sepertinya dunia ini terlalu luas untuk dibanggakan dalam ruang sempit kemaluan kita sendiri.
Tasik, 2025

SAJAK-SAJAK Rachman Sabur
Menapaki jejak pikir
Kehidupan ini tak lebih dari menyoal waktu
Mengajakku menyelami sunyi dalam pasrah
Seperti angin yang melintas tak menentu
Empat musim gilir singgah. Tiba-tiba Basah
Tasik, 2025









