PUISI Diro Aritonang

Diro 1

BERLIN & HOLOCAUST

aku berjalan menyelusuri
masa kerajaan Prusia
hingga masa Nazi,
di kota berlin, jalan bersalju,
sesekali disapu gerimis.
negara yang terbelah menjadi dua.
Jerman Barat dan Jerman Timur
yang dikelilingi eksklav,
kini reruntukan Tembok Berlin
jadi merchandise,
jadi lambang reunifikasi Jerman.

aku tertunduk di gerbang brandenburg,
di east side gallery
bagian akhir dari Tembok Berlin,
bukti sisa sejarah kota
terngiang lembutnya alunan mesra
“Adagio” Johann Sebastian Bach,
udara dingin di tengah salju berjatuhan,
tak ada angin.
sayatan cello Adagio mengiris
sampailah aku
di tugu kemengan
Berlin Siegessäule Angel,
aku berdiri di jatung kota
empat sudut kota berlin,
kupandang dari kejauhan Dewi Viktoria,
goldelse si “wanita tinggi”
mengingatkanku kembali
pada masa kejayaan Prusia.
Nazi menyebutnya
sebagai Welthauptstadt Germani
mendesain ulang
di pusat Großer Stern di Tiergarten
untuk diselamatkan dari serangan sekutu.
kembali kehalusan Adagio
menyelusuri relief relief sejarah.
tiba-tiba aku tersentak
interjeksi holocaust!

ya holocaust.
ingat Führer.
terdengar derap jejak
baris kaki militer Nazi
lamat-lamat suara itu datang.
holocaust.
menyapu kaum Yahudi,
dijebloskan
di kamp konsentrasi Sachsenhausen,
bahkan dikirim ke kamp kematian
di kamp konsentrasi Auschwitz.
menjalar anti-semitisme,
di tangan Adolf Hitler
dikumandangkan pada ras yang inferior itu.
“holocaust”.
kemurnian ras dan ekspansi spasial
adalah inti dari pandangan dunia Hitler,
dengan jalani hukum Nuremberg
stigmatisasi dan penganiayaan
bagi kaum Yahudi.
di malam peristiwa Kristallnachy,
malam “pecahan kaca”
Sinagoge Yahudi dibakar,
pembantaian terjadi.
“holocaust”.
sambil menikmati Blutrote Rosen
dan kemerduan suara Marlene Dietrich,
Hitler berdansa bersama Eva Braun.
sampai akhir kuhayati suara
“the last days of hitler:
twilight of the gods” karya Kim Seabrook,
kisah yang begitu indah
dari manusia setengah dewa,
seperti dalam kisah menggugah
masa senja para dewa
opera Götterdämmerung
yang digelar Richard Wagner
bagai sungai yang mengalir deras
menerjang bebatuan keras.
kini, holocaust berubah
berubah paradigma
berubah wujud
menjelama menjadi genosida!

semenatara aku berjalan
di udara yang dingin
gerimis bersalju
aku menuju sesuatu
untuk berkeliling dunia
menikmati keunikan berbagai bangsa
di internationale tourismus-börse berlin.

Berlin, German Barat 2004


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *