Radio genggam itu tidak pernah dimatikan. Bahkan saat suara-suara dari laut terdengar seperti dengung asing yang tak bisa dikenali, ia tetap membiarkannya menyala. Letaknya selalu di tempat yang sama: di atas meja kayu tua yang mulai remah oleh garam dan waktu. Ia tidak membersihkannya setiap hari, tapi selalu mengecek baterai dan menyentuhnya sejenak, seolah sedang memeriksa denyut sesuatu yang tak bisa dilihat.
Itu alat suaminya. Bukan yang sekarang dibawa ke laut, tapi yang lama. Yang dulu selalu terselip di pinggangnya, sebelum ia berangkat subuh dan pulang lewat tengah malam. Benda itu tak pernah dimatikan, karena bagi perempuan itu, ia bukan sekadar alat. Ia adalah peninggalan, seperti tempurung yang masih menyimpan gema.
Suaminya kini membawa yang baru, pemberian dari seorang pria Sri Lanka yang pernah tinggal dua minggu di Tassipi. Ia datang sebagai penumpang yang ditolong, diam dan kurus, dan sebelum pergi ia memberikan perangkat itu kepada suaminya. Hanya satu kalimat dalam bahasa yang perempuan itu tak pahami:
“In uncertain waves, we might meet.”
Alat lama itu tetap tinggal di rumah, menjadi satu-satunya benda yang menghubungkan suara dan kehilangan. Perempuan itu menyalakannya tiap pagi, dan mematikannya hanya kalau hujan terlalu deras. Ia tahu, gelombangnya tak bisa menjangkau perahu-perahu di laut dalam. Tapi ia tetap menyalakannya. Ia kerap mendengar suara datang dari tempat yang tak disangka: suara nelayan dari pulau lain, tangisan bocah yang terjebak gelombang, gema asing yang tak ia mengerti. Dan di antara semua suara itu, ia selalu berharap akan terdengar satu: suara suaminya, nelayan Tassipi.
Ia bukan perempuan yang menangis keras. Ia adalah ibu. Sebab menjadi ibu lebih berat daripada menjadi perempuan. Ia harus memastikan anaknya tidur, makan, sekolah, dan tetap percaya bahwa ayah mereka sedang bekerja, bukan hilang. Ia harus menjaga rumah dari remah kayu dan reruntuhan, tapi suara terakhir dari suami hanyalah:
“Kami terpisah dua kapal. Jangan tunggu di dermaga. Kalau malam ini belum ada kabar, anggap saja saya di Pulau Pasir.”
Ia mendengar itu dari alat lama, seminggu sebelum sinyal benar-benar hilang. Setelahnya, ia tak lagi ke dermaga. Tapi hatinya tetap berdiri di tepi laut.
Anaknya belum tahu kenapa ibunya tak pernah mematikan benda kecil itu. Tapi tiap malam, ketika anaknya tidur, perempuan itu mendekatkan bibirnya ke ujung antena dan membisikkan, “Ayahmu belum kembali. Tapi ini suaranya.”
Ia tahu, anaknya butuh nasi, bukan gema. Tapi ibu mana yang bisa menakar waktu?
Benda itu, baginya, bukan sekadar alat. Ia adalah penjaga sunyi. Ia adalah suara yang disimpan, bukan untuk didengar, tapi untuk dikenang. Ia tak menanti jawaban. Ia menanti gema. Dan setiap pagi, ketika matahari belum sempurna muncul, ia akan menyalakannya kembali.
Kadang ia mendengar suara lelaki dari laut lain memanggil dengan cemas:
“Hatee… hatee… ada yang bisa dengar kah?”
Ia tak menjawab. Tapi ia mendengarkan. Karena mungkin, satu-satunya yang bisa ia lakukan di dunia ini, hanyalah itu: menjaga gelombang.
Dan mungkin, suatu hari, dari ribuan suara yang tak dikenali itu, satu akan datang, sangat lirih, nyaris tak terdengar:
“Aku di sini.”
Dan jika nanti ia tak sempat menyalakannya lagi, perangkat itu tetap akan tinggal. Karena suara terakhir tak pernah benar-benar padam. Ia hanya berpindah ke hati yang belum mendengarnya.
Mungkin, jika ada yang menyalakannya suatu hari nanti, dari sela-sela dengung kosong akan muncul satu kalimat, sangat pelan, seolah tersimpan di dasar suara:
“In uncertain waves, we might meet.” []









