Raso on the Tongue, Pareso in the Finger karya Wendy HS, S.Sn., M.Sn., dok. foto Ab. Asmarandana(Source: kosapoin.com/rite-of-limen-ketika-penonton-diajak-melewati-batas-pertunjukan)
YOGYAKARTA, 27 Agustus 2026 — Pertunjukan Rite of Limen: Raso on the Tongue, Pareso in the Finger karya Wendy HS, S.Sn., M.Sn., tidak memulai pertunjukan dengan batas yang tegas antara panggung dan penonton. Sejak awal, batas itu justru dibuka.(Source: kosapoin.com/rite-of-limen-ketika-penonton-diajak-melewati-batas-pertunjukan)
Dinding keempat yang selama ini memisahkan aktor dan penonton seperti sengaja disingkirkan. Performer hadir dengan tubuh yang terus bergerak, membangun suasana melalui gestur, suara, dan ritus yang terasa dekat dengan tradisi Minangkabau.(Source: kosapoin.com/rite-of-limen-ketika-penonton-diajak-melewati-batas-pertunjukan)
Seruan “layauuuuuuuu” dan “salam ya salam” membuka ruang pertunjukan seperti sebuah panggilan ritual. Kaba kemudian hadir sebagai bagian dari cara bertutur, sementara tubuh performer menjadi medium utama untuk membawa penonton masuk ke dalam peristiwa.(Source: kosapoin.com/rite-of-limen-ketika-penonton-diajak-melewati-batas-pertunjukan)
Namun, pengalaman itu tidak berhenti pada apa yang dilihat. Penonton kemudian diajak mengunyah pinang yang sengaja dibawa dari Padang Panjang. Sebagian penonton mencoba pinang tersebut. Di titik ini, pertunjukan tidak lagi hanya menjadi tontonan, melainkan pengalaman inderawi.(Source: kosapoin.com/rite-of-limen-ketika-penonton-diajak-melewati-batas-pertunjukan)
Pinang menjadi semacam pintu masuk. Rasa hadir di lidah, sementara sentuhan dan gerak mengaktifkan tubuh. Penonton perlahan dipindahkan dari posisi sebagai pengamat menjadi bagian dari ritual pertunjukan.(Source: kosapoin.com/rite-of-limen-ketika-penonton-diajak-melewati-batas-pertunjukan)
Gagasan tersebut sejalan dengan judul Rite of Limen. Limen dapat dibaca sebagai ambang atau batas, sebuah ruang peralihan dari satu keadaan menuju keadaan lainnya. Dalam pertunjukan ini, batas antara penonton dan performer, antara tradisi dan kontemporer, serta antara melihat dan mengalami, dibuat menjadi cair.(Source: kosapoin.com/rite-of-limen-ketika-penonton-diajak-melewati-batas-pertunjukan)
Frasa “Raso on the Tongue, Pareso in the Finger” pun memperoleh makna yang konkret. Raso atau rasa tidak hanya menjadi gagasan, tetapi benar-benar dialami melalui lidah. Sementara pareso, sebagai proses merasakan dan menguji melalui pengalaman, hadir melalui tubuh dan indera.(Source: kosapoin.com/rite-of-limen-ketika-penonton-diajak-melewati-batas-pertunjukan)
Dengan demikian, tradisi tidak ditempatkan sebagai benda yang hanya dipajang untuk disaksikan. Tradisi dihadirkan sebagai pengalaman yang harus disentuh, dirasakan, dan dijalani.(Source: kosapoin.com/rite-of-limen-ketika-penonton-diajak-melewati-batas-pertunjukan)
Tubuh performer yang terus bergerak menjadi penghubung antara gagasan dan pengalaman penonton. Tidak ada jarak aman yang terlalu nyaman. Penonton diajak masuk, mencicipi, mendengar, melihat, sekaligus merasakan bagaimana sebuah ritus bekerja di dalam ruang pertunjukan.(Source: kosapoin.com/rite-of-limen-ketika-penonton-diajak-melewati-batas-pertunjukan)
Rite of Limen akhirnya memperlihatkan bahwa teater dapat dimulai bahkan sebelum sebuah cerita disampaikan. Ia dapat bermula dari sebuah salam, gerak tubuh, suara, rasa pinang, dan keberanian untuk menghapus batas.(Source: kosapoin.com/rite-of-limen-ketika-penonton-diajak-melewati-batas-pertunjukan)
Di sana, panggung bukan lagi sekadar tempat performer bermain. Panggung berubah menjadi ruang peralihan, tempat penonton untuk sesaat meninggalkan posisi sebagai penonton dan mengalami sendiri sebuah peristiwa budaya melalui tubuhnya.(Source: kosapoin.com/rite-of-limen-ketika-penonton-diajak-melewati-batas-pertunjukan)

Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown




