Aku adalah bayang dari perahu purba yang pernah menantang samudra tanpa peta. Lambungku dari akar doa, layarku dari tenun sejarah tapi kini aku terombang ambing oleh bayu yang tak kumengerti.
Bayu itu bukan lagi dari langit timur Ia datang dari menara-menara asing dari jari-jari tak terlihat yang menggeser arah tanpa sentuh layar
Simbol-simbol yang dulu kupeluk kini jadi dekorasi pesta Topeng tari ditukar lensa, aksara tua ditelan mesin pencari dan suara leluhurku tersesat dalam bisu museum yang lebih banyak berkilat daripada berbicara.
Kita, bangsa ini duduk di meja makan dunia bukan sebagai tamu, tapi hidangan Kopi kita diseruput tapi cerita kita tak dicicipi Tanah kita digali tapi luka kita dibungkam dengan mata uang yang tak punya nama
Dan perang kini tak perlu senjata Cukup sebar data, tekan satu tombol lalu lihat anak-anak negeri lupa pada lagu ibunya.
Tapi dengar masih ada gemetar di tanah ini Suara pelan dari akar yang belum tercabut yang berkata: “Ingat siapa dirimu, sebelum badai mengubahmu jadi debu.”
Aku bukan ingin menolak zaman tapi aku tak ingin hilang dalam arus Tak semua yang berkilau adalah jalan Tak semua yang asing harus ditiru
Karena sebuah bangsa bukan sekadar bendera tapi luka dan cinta yang ditulis dengan tangan sendiri Dan selama tidak lupa belum tenggelam
Aku masih di sini Antara bayang dan bayu Menjaga agar perahu ini tak kehilangan arah meski layar-layarnya mulai koyak oleh tangan kita sendiri
Yoyo C. Durachman lahir di Bandung 21 September 1954. Sejak lahir sampai sekarang tinggal di Kota Bandung dan Cimahi- Jawa Barat, meskipun tahun 1977 pernah tinggal di Jakarta selama enam bulan untuk menimba/mengamati pengalaman menjadi penulis dan aktivis teater.
Tahun 1978 menjadi Mahasiswa angkatan pertama Jurusan Teater ASTI (kini ISBI) Bandung dan sekaligus pada waktu itu juga bergabung dengan Studiklub Teater Bandung (STB) dengan kapasitas sebagai Aktor, Asisten Sutradara dan Sutradara, sampai sekarang. Di STB terlibat dalam pementasan pementasan; Lingkaran Kapur Putih, karya: Bertold Brecht; Antigone, karya: Sophokles, Egmont, karya: Goethe; Burung Camar, karya: Anton Chekov dan Impian di Tengah Musim, karya: W. Shakespeare. di STB pun pernah menyutradarai; Nyanyian Angsa, karya: Anton Chekov; Tiga Kehidupan Karya: Yasmina Resa dan Macbeth, karya: W. Shakespeare. Selain di STB aktif dalam pementasan Sanggar Kita Bandung, Jurusan Teater ISBI Bandung dengan kapasitas sebagai Aktor, Sutradara dan Produser.
Dunia kepenulisan meskipun tidak produktif, diakrabinya dengan menulis Cerpen, Puisi, Esai yang dimuat di Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Suara Karya, Gala, Bandung Pos, Prioritas dan Mandala, dan Jurnal Panggung serta dalam buku bunga rampai tulisan.
Sebagai Dosen Teater pernah mengajar di ISBI Bandung (1983-2019), IKIP (kini UPI- 1990-1995) dan IKJ (2002-2014).
Aktivitasnya sebagai penulis diperkaya dengan penelitian yang hasilnya dibukukan dengan Judul; Enam Teater/1996, Teater Tradisi dan Baru/2009, Perkembangan Konsep Penyutradaraan/2008.
Aktif menjadi Jury dan narasumber work shop dan seminar di Perguruan Tinggi dan beberapa Event dan Festival. Selain daripada itu pernah menjadi pengurus Dewan Kesenian Kota Bandung/2019-2023 dan kini menjadi Pengurus Dewan Kesenian Kota Cimahi (DKKC)2016 SD Sekarang.
Sebuah Monolog Detok detok kowInlo ton ketod kaw iw(BERULANG-ULANG) MUNCUL DOGOLO BIN LOGODOLO (KEPADA PENONTON)Hadirin maaf ya diulang-ulang itu bahasa…
(TERDENGAR BUNYI ALAT TENUN BUKAN MESIN (ATBM) UNTUK MEMBUAT LURIK)(TERDENGAR TEMBANGAN)Kecantikan fisik bisa memudar seiring berjalan waktuKecantikan batin semakin bersinar…