Impian di Tengah Musim, naskah William Shakespeare, sutradara Suyatna Anirun Produksi Studiclub Teater Bandung (STB) 1992
Pengantar
Secara faktual Bandung merupakan kota yang diperhitungkan pergerakannya di kancah kehidupan dan perkembangan Teater Modern di Indonesia, selain Jakarta dan Yogyakarta. Tentu saja dengan tidak mengenyampingkan kota kota lain seperti Solo, Medan, Makasar, Surabaya, Padang dan lain lain yang juga mempunyai dinamika tersendiri dalam kehidupan dan perkembangan teaternya.

Kota Bandung kehidupan dan perkembangan teaternya bisa mencapai ke taraf yang seperti ini salahsatu faktornya adalah karena di kota inilah lahir kelompok teater tertua di Indonesia yaitu Studiklub Teater Bandung (STB), yang disyahkan melalui akte notaris pendirian pada tahun 1958. Dengan ada kata “Studiklub” dalam penamaannya bisa memberikan kesan bahwa para pendirinya adalah para mahasiswa, diantaranya Jim Adhilimas (Mahasiswa Seni Rupa ITB), Suyatna Anirun (Mahasiswa Seni Rupa ITB), Sutardjo Wiramiharja (Mahasiswa Psikologi UI) dan Tin Kartini (Mahasiswa Fak Hukum UNPAR). Bahkan gagasan pendiriannya pun diawali dengan pementasan Drama naskah lakon “Jayaprana” karya Jef Last dalam rangka ulang tahun Jurusan Seni Rupa ITB.
Setelah Studiklub Teater Bandung lahir, maka berikutnya lahir beberapa kelompok teater lainnnya di Bandung dan luar Bandung yang kemudian menjadi kelompok teater terkemuka di Indonesia, seperti Bengkel Teater Rendra (Yogyakarta yang kemudian pindah ke Jakarta atau lebih tepatnya di Depok), Teater Populer (Jakarta), Teater Kecil (Jakarta), Teater Mandiri (Jakarta), Teater Koma (Jakarta). Pada generasi setelahnya beberapa kelompok teater bisa dicatat, yaitu Teater Payung Hitam (Bandung), Teater SAE dan Teater Kubur (Jakarta), Teater Gadag Gidig Solo, Teater Garasi Yogyakarta, dan lain lain..
Apabila kata “pergerakan” dimaknai sebagai sebuah tindakan,dan upaya untuk mengarah kepada kemajuan dan perubahan, maka secara umum pergerakannya itu terfokus kepada manajemen organisasi dan produksi serta eksplorasi estetika yang mencakup kepada keaktoran, tata rupa visual, naskah lakon dan teknik penyutradaraan. Hasilnya, di setiap daerah melahirkan perbedaan dan persamaan manajerial dan bentuk pengucapan artistiknya. Namun, dalam konterks diskusi kita ini akan dibatasi pada pergerakan di Bandung saja.
Bermula dari Teater Tradisional dan Modern Konvensional.
Mengawali uraian selanjutnya kita perlu berkenalan dengan beberapa istilah yang familiar di dalam kehidupan dan perkembangan teater Indonesia, di antaranya: Teater (segala yang dipertunjukan, peristiwa, gedung pertunjukan, gedung bioskop, drama), Drama (pertunjukan yang memakai naskah lakon dan dimainkan oleh para aktor. Jadi, sebenarnya drama merupakan bagian dari teater), Sandiwara (istilah yang berasal dari Bahasa Jawa yang berarti pesan rahasia,dan secara bentuk pementasan sama dengan drama), Tonil (drama dalam istilah Bahasa Belanda), Drama Tari (drama yang pengungkapan visualnya lebih ditekankan pada gerak tari), Teater Tari (Pementasan tari yang secara visual lebih diperkaya dengan tatarupa pentas), Teater Tradisional (jenis teater yang hidup dan berkembang di suatu daerah dan mematuhi pakem pakem yang telah ditetapkan secara turun temurun), Teater Modern (Teater yang telah keluar dari pakem pakem teater tradisional bahkan meninggalkan sama sekali dan dipengaruhi oleh konsep konsep estetika teater dari luar baik secara teoritis maupun praksis.), Teater Kontemporer (Teater yang hidup dan dipentaskan saat ini dengan mengusung tema tema yang konterkstual.), Teater Eksperimental (Teater yang dipresentasikan dengan tujuan untuk mengeksplorasi dan menemukan idiom idiom pengucapan artistik yang baru), Teater Konvensional (Teater semacam ini disematkan kepada teater yang masih setia mempergunakan pakem pakem atau konvensi bahwa teater itu harus mempunyai tema, plot, struktur dramatik dan klimak. Harus jelas bentuknya, komedi, tragerdi atau melodrama. Harus jelas alirannya, realisme atau non realisme), Teater Musikal (Teater yang memakai naskah lakon dan menitikberatkan kepada unsur musik, tari dan nyanyian), Cabaret (mengadopsi jenis teater yang berkembang di Amerika khususnya yang lebih menitik beratkan pada tari dan nyanyian, namun oleh aktivis teater di Bandung jenis teater ini dikembangkan menjadi seperti Teater Musikal)
Istilah istilah di atas yang akrab di ranah kehidupan dan perkembangan teater di Bandung, menjadi rujukan di dalam upaya pergerakan para aktivis teater baik dalam konteks manajemen maupun pencarian dan penemuan identitas estetikanya. Sejauh ini beberapa kelompok teater yang aktivitasnya konsisten bisa mencapainya.
Bandung, seperti kota kota besar di Indonesia mempunyai Teater Tradisional seperti Longser, Wayang Golek, Sandiwara Sunda dan Reog. Jenis teater ini mengalami jaman keemasannya pada sekitar tahun 1930 sampai dengan tahun 1970-an. Meskipun masih hidup tetapi kondisinya seperti “hidup enggan mati tak mau”. Kondisi sekarang ini ditengarai akibat dari pengorganisasian yang lemah, tidak profesional, minim regenerasi dan ditinggalkan penontonnya karena tidak adaptif dengan perkembangan jaman akibat terlalu patuh pada pakem pakemnya. Para aktivis teater tradisional muda mencoba untuk beranjak dari sikap ini dengan jalan merekontruksi bahkan mendekontruksi pakem dan mengambil hanya esensinya seperti unsur musikal, tarian, komedi, dramaturgi yang cair dan egaliter dengan penogntonnya. Ada pun struktur bentuk dan aspek aspek ritualnya tidak terlalu dijadikan pakem lagi, kendati upaya ini mendapat tantangan dari pelaku pelaku teater tradisisonal generasi tua, Hasilnya saat ini memunculkan kelompok kelompok teater tradisional seperti Lingkung Seni Sandiwara Sunda Ringkang Gumiwang, Kelompok Longser Injuk, Teater Toneel dan Bandung Mooi. Meskipun prekuensi pementasannya masih jarang namun mereka berupaya setiap tahun bisa melaksanakan pementasan.Sedangkan Wayang Golek tetap dihidupkan dan dikembangkan oleh keluarga dalang kenamaan Abah Sunarya di Desa Jelekong.

Teater, termasuk teater modern biasa disebut seni kolektif, memerlukan partisipasi banyak orang sesuai dengan tugas dan fungsinya. Oleh karena itu produksi pementasan teater harus dikemas dalam bentuk keorganisasian. Pengorganisasian ini bisa dalam bentuk organisasi komunitas, event organizer, atau melekat pada organisasi gedung pertunjukan di mana teater itu di pentaskan. Di Indonesia, khususnya di Bandung, yang sudah lajim dan berjalan adalah organisasi yang melekat pada komunitasnya. Karena pada umumnya kegiatan pementasan teater di Bandung belum professional yang berorientasi pada profit dan bisa memberikan dampak sosial ekonomi kepada para pelakunya. Tidak salah kalau ada yang menyebut sebagai klangenan, hobi. Oleh karena itu, kelompok teater di Bandung rentan vakum tidak mengadakan kegiatan bahkan membubarkan diri akibat keketiadakan biaya produksi dan kekuarangan sponsor, dengan berbagai alasan anggotanya mengundurkan diri. Pementasan biayanya kebanyakan diusahakan ketuanya. Akibatbatnya kalau ketuanya vakum atau merninggal dunia maka otomatis kelompok terater itu vakum.Persoalan ini sampai sekarang masih menjadi penyakit laten, belum terlihat ada kelompok teater yang mampu memecahkannya, hanya baru mampu sampai tahap upaya.
Diinformasikan di atas bahwa kelompok teater modern di Bandung diawali oleh Studiklub Teater Bandung (STB), dimana yang menjadi eksponen awalnya adalah para mahasiswa, dan sampai saat ini pergerakan mahasiswa di kampus kampus yang berda di wilayah Bandung tetap berdenyut melalui unit kegiatan mahasiswa dan atau sebagai praktik dari mata kuliah drama di Jurusan Bahasa dan Sastra.
Sebagaimana pada umumnya mahasiswa, pasti gandrung dengan berbagai hal yang sifatnya teoritis dan sudah diilmukan. Begitu juga dengan para mahasiswa yang menjadi aktivis teater di STB, buku buku teater yang membahas berbagai aspek di dalam teater seperti sejarah teater, aliran teater, teori penyutradaraan, akting, khasanah naskah lakon, penataan artistik dan lain lain dijadikan rujukan. Buku buku ini semua berasal dari para penulis teater dari luar negeri karena di dalam negeri belum ada yang mampu. Maka dari itu naskah naskah lakon dan nama nama penulisnya, teori akting dan aktor aktornya, teori penyutradaraan dan sutradaranya dari luar negeri dari sejak jaman Yunani kuno abad ketiga Sebelum Masehi sampai dengan abad ke. 20 menjadi akrab dan dicoba untuk difahami dan dikuasai. Maka dari itu, naskah lakon yang dimainkan serta teori pementasannya banyak dipakai dari luar khususnya Barat dan lebih spesifik dari Yunani Seperti teori Aristoteles yang lebih dikenal dengan teori dramaturgi yang konvensional itu. Jadi di awal kehadiran teater modern di Bandung melalui STB bisa dikatakan sebagai teater modern konvensional.
Nama nama penulis lakon dari Barat dan Amerika seperti Sophokles, Aristophanes, William Shakerspeare, Goethe, Berthold Brecht, Moliere, Ionesco, Becket, Ibsen, Strinberg, Tenesse William, Arthur Miller, kerap dipentaskan karya karyanya dengan berbagai cara dan versi, diterjemahkan dengan tetap mempertahankan isi dan bentuknya, diadaptasi dan disadur.
Begitu pula dengan nama nama teoritikus teater yang pada umumnya sutradara dan aktor teater seperti Constantin Stanislavsky, Richard Boreslavsky, Bertold Brecht, Jerzy Grotovsky, Antonin Artaud, Martin Eslin, Peter Brook, Augusto Boal, Lee Strasberg, dan lain lain tidak ketinggalan untuk dipelajari dan dipraktekan ajaran ajaranmnya.Maka baik langsung maupun tidak langsung, disadari maupun tidak disadari, estetika teater Bandung pada waktu itu lebih berrorientasi pada estetika barat. Dan ini pun disadari oleh aktivis teater di Bandung pada waktu itu terutama yang berafiliasi dengan Studiklub Teater Bandung (STB).
Tahun 1970-an bisa dikatakan sebagai tonggak dari pergerakan teater di Bandung untuk lebih menemukan jati diri dan lebih leluasa mengembangkan kreativitasnya baik dari segi isi (tema cerita) maupun bentuknya. Pada era ini mulai muncul kelompopk kelompok dan atau komunitas teater baru seperti Teater Remy Silado, Teater Braga, Teater Ge-Er, Teater Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB), yang menulis naskah lakon sendiri dan memainkan naskah naskah lakon karya pengarang dalam negeri yang pada waktu itu mulai bermunculan seperti Putu Wijaya, Akhudiat, Vredy Kastam Martha,Riantiarno. Juga diadakannya Festival Teater Jawa Barat pada tahun 1977 dan tahun 1979 oleh Bidang Kesenian Provinsi Jawa Barat mampu melahirkan kelompok kelompok teater baru baik yang ada di lingkungan kampus maupun berada di luar kampus, Dan yang tidak kalah petingnya adalah lahirnya Jurusan Teater ASTI Bandung tahun 1978 lebih menyemarakan aktivitas teater di Bandung, baik dalam bentuk kajian dan diskusi maupun pementasan.
Pada era ini pun yang penting untuk dicatat adalah mulai ada keberanian untuk menjadikan teater tradisisonal sebagai sumber penciptaan teater modern. Ini bisa terlihat pada karya STB yang berjudul Tabib Tetiron naskah lakon karya Moliere dan Pengadikan Anak Angat naskah lakon karya Bertold Brecht. Teater tradisional Longser dan Wayang Golek dijadikan pijakan konsep estetikanya.
Tahun 1980 sampai dengan tahun 1990-an bisa dikatakan merupakan era keemasan kehidupan dan perkembangan teater di Bandung. Era ini bisa hadir karena Ekosistemnya relatif terbentuk. Karya Teater semakin banyak lahir karena bermunculannya kelompok teater, seniman teater lahir karena didukung oleh media yang mewartakan karya karyanya, juga gedung pertunjukan memfasilitasinya. Pemerintah dan lembaga kebudayaan asing seperti Goethe Institute dan Pusat Kebudayan Perncais (CCF) ikut mengambil peranan. Penonton dari berbagai kalangan antusias datang ke tempat pertunjukan. Pada era ini pula keberanian untuk mengeksploarasi estetika baru semakin mengemuka Sehinga pementasan teater lebih segar, variatif dan inovatif. Pada era ini muncul kelompok kelompok teater baru seperti Teater Lisette, Sang Saka, Sanggar Kita, Teater Payung Hitam, Teater Sunda Kiwari, Teater Re-Publik, dan lain lain.

Karena secara sosiologis kehidupan dan perkembangan teater di Bandung ini mayoritas digerakan oleh generasi muda dan lebih spesifiknya pelajar dan mahasiswa, maka di sini hukum alam memagang peranan penting, proses seleksi terjadi. Begitu menginjak ke era tahun 2000-an sampai dengan sekarang, aktivis teater pada era tahun 1990-an ke belakang semakin berkurang dengan berbagai alasan, lulus sekolah, lulus kuliah, bekerja dalam bidang lain, berkeluarga, pindah tempat tinggal ke kota lain dan atau meninggal.dunia.
Pada era tahun 2000-an sampai dengan sekarang ini meskipun patut ditengarai sebagai era stagnan dalam pergerakan perkembangan dan kehidupan teater di Bandung, namun beberapa kelopmpok teater baru muncul, yang lama tetap berkarya, bahkan Teater Payung Hitam berani mendeklarasikan diri estetika teaternya sebagai “Teater Tubuh”, yaitu teater yang lebih menitik beratkan kepada kekauatan tubuh sebagai media akspresinya. Pada era ini kelompok teater yang patut dicatat adalah Teater Actor Un Limited, Laskar Panggung, Teater Casanova, Teater Pictorial, Teater Alibi, Teater CCL, Teater Candu dll.
Kesimpulan
Dari uraian diatas yang merupakan rangkuman karya tulis dan pengamatan yang masih perlu diperdalam pengkajiannya secara sistematis dengan metodelogi yang valid, paling tidak bisa diambil beberapa kesimpulan; di Kota Bandung terdapat kehidupan dan perkembangan teater tradisisonal dan modern; teater tradisional meskipun masih hidup tetapi tidak berkembang; teater modern bermula dari STB yang menganut teater yang berestetika konvensional Barat; sejalan dengan perjalanan waktu di Bandung tumbuh kelompok teater secara kuantitas dan memberikan dorongan untuk melakukan eksplorasi penemuan estetika teater baru; tahun 2000-an sampai dengan sekarang pergerakannya mengalami stagnan meskipun beberapa kelompok teater baru muncul dan kelompok teater lama masih berkarya; organisasi teater di Bandung belum profesionalsehingga aspek penonton belum menjadi perhatian penting baik secara kualitatif maupun kuantitatif, kelompok teater di Bandung rentan vakum dan bubar dengan berbagai alasan, Mayoritas ktivis dan penonton teater di Bandung pelajar dan mahasiswa.









