Pementasan Teater Tradisional Longser “Keuyeup Apu”, Naskah/Sutradara: Hermana HMT, Produksi: Bandungmooi/2024. Foto Jepretan Yoyo C. Durachman.
Teater masa kini tidak lagi sesederhana seperti yang mungkin dibayangkan oleh sebagian orang. Dalam perkembangannya, teater telah menjadi sebuah medan kreativitas yang begitu kompleks, sehingga menuntut peran sutradara untuk memikul tanggung jawab yang semakin berat.
Sutradara bukan hanya dituntut untuk menguasai teknik penyutradaraan, tetapi juga harus mampu memahami berbagai jenis lakon serta metode pementasan yang kian beragam. Ada lakon-lakon yang sengaja “lari” dari realita yang menawarkan absurditas, simbolisme, atau fantasi sebagai bentuk kebebasan ekspresi. Di sisi lain, muncul juga lakon bertema sosial yang kadang lebih berfungsi sebagai alat propaganda daripada karya seni.
Tidak berhenti di situ, dunia teater juga mengenal bentuk pementasan tanpa naskah sama sekali. Di sini, kekuatan improvisasi para pemain dan visi sutradara menjadi kunci utama dalam membangun pertunjukan yang hidup dan komunikatif.
Jika kita memandang teater secara lebih luas, banyak bentuk pertunjukan sebenarnya masih bernaung di bawah payung besar “teater”: opera, pantomim, komedi musikal, balet, hingga berbagai bentuk pertunjukan tradisional maupun modern. Kesemuanya memiliki pendekatan artistik dan estetikanya sendiri, tetapi tetap berpijak pada prinsip dasar seni pertunjukan: menghadirkan kehidupan di atas panggung.
Namun, sekompleks apa pun proses kreatif di balik panggung, hasil akhirnya bagi penonton kerap dapat disederhanakan menjadi tiga kategori: sebuah pementasan yang buruk, pementasan yang cukup bagus, atau pementasan yang benar-benar bagus yang mampu meninggalkan kesan mendalam, menggugah emosi, dan memicu refleksi.
Di sinilah letak keindahan sekaligus tantangan dari teater modern. Sebuah panggung adalah ruang yang selalu membuka diri bagi eksperimen, kritik sosial, hingga keindahan artistiknya. Tugas dan tanggung jawab sutradara menjadi begitu penting untuk memastikan keseluruhan proses kreatif itu terwujud sebagai karya seni yang bukan hanya selesai dipentaskan, tetapi juga hidup dan bernapas bersama penontonnya.***









