Deretan yang membesarkan Teater Payung Hitam Bandung; Rachman Sabur, Cristiawan, Iman Soleh, Tatang R. Macan, Lobby Studio Teater ISBI Bandung, Februari 2025
Tubuh sebagai Episentrum Perlawanan: Sebuah Manifesto Fisik
Teater Payung Hitam (TPH) Bandung bukanlah sekadar nama dalam daftar panjang kelompok teater di Indonesia, melainkan sebuah kawah candradimuka bagi pencarian kejujuran kemanusiaan yang paling radikal. Sejak pertama kali menancapkan kukunya di bawah arahan sutradara Rachman Sabur, TPH telah memilih jalur yang tidak biasa: menjadikan tubuh sebagai instrumen utama sekaligus basis ekspresi yang tak tergantikan. Estetika yang mereka usung merupakan sebuah “Ideologi Tubuh” yang kemudian mengkristal menjadi “Ideologi Karya”—sebuah sikap yang membedakan mereka secara tajam dengan komunitas-komunitas teater fisik lainnya di Nusantara.
Kekhasan TPH terletak pada penolakannya terhadap estetika yang sekadar dekoratif atau pemanja mata. Bagi komunitas ini, teater adalah arena kritik sosial, politik, dan budaya yang menempatkan raga manusia di garis depan pertempuran gagasan. Di saat banyak kelompok teater kontemporer terjebak dalam gaya visual yang dangkal atau sekadar mengekor tren digital, TPH justru melakukan interogasi mendalam terhadap anatomi kesadaran aktornya. Tubuh di panggung TPH bukan lagi objek yang diperintah untuk menari atau bergerak indah, melainkan subjek yang memproduksi makna secara mandiri melalui rasa sakit, ketegangan otot, dan napas yang jujur. Inilah yang mendasari mengapa setiap pementasan TPH selalu terasa menggetarkan sekaligus mencekam; ada taruhan nyawa artistik dalam setiap gerak aktornya.
Black Method: Kertas Kerja Pembongkaran Realitas
Kehidupan artistik TPH dibangun di atas kertas kerja yang sangat spesifik, yang oleh Asep Budimandalam Kosapoin.com, Januari 2026, disebut sebagai Black Method. Pendekatan ini bukan sekadar teknik olah tubuh, melainkan sebuah ruang pembongkaran realitas, di mana tubuh aktor diinterogasi melalui latihan yang militan dan tanpa kompromi untuk menyuarakan hal-hal yang sering kali disembunyikan oleh tabu sosial maupun politik. Sebagaimana dijelaskannya, bahwa; kata “Black” (Hitam) dalam metode ini bukan sekadar warna panggung atau kostum, melainkan simbol perlawanan, kedalaman, dan keberanian untuk “blak-blakan” dalam menyingkap sisi gelap realitas kemanusiaan.
Dalam praktik Black Method, aktor dipacu untuk menghancurkan ego-ego estetiknya. Mereka tidak dilatih untuk menjadi terampil menari, tetapi dilatih untuk menjadi berani dalam ketidakberdayaan fisik. Latihan yang dilakukan sering kali melampaui batas kewajaran, menciptakan kondisi di mana tubuh melepaskan refleks-refleks jujur yang tidak bisa dimanipulasi oleh logika verbal. Inilah yang membuat “Kertas Kerja” TPH menjadi sangat disegani; ia adalah sebuah metodologi yang menuntut totalitas hidup dari para pelakunya.
Tony Broer: Manifestasi Raga yang Melampaui Kata
Militansi fisik ini mewujud secara ikonik melalui raga Tony Broer. Sebagai aktor yang menjadi personifikasi hidup dari “Ideologi Tubuh” TPH, Tony Broer telah mengubah raga menjadi teks hidup yang melampaui batas komunikasi verbal manusia modern. Melalui disiplin yang asketik dan militansi yang hampir mustahil ditiru, ia membuktikan bahwa tubuh mampu menjadi instrumen kritik yang lebih tajam daripada ribuan baris naskah drama konvensional.
Dalam setiap penampilannya, Tony Broer tidak sedang “berakting”; ia sedang “mengalami” ruang dan waktu secara fisik. Penonton tidak hanya melihat gerak, tetapi merasakan energi, keringat, dan getaran dari tubuh yang sedang berjuang melawan gravitasi maupun penindasan makna. Kehadiran Tony Broer di TPH memperkokoh argumen bahwa tubuh adalah benteng terakhir kejujuran di tengah dunia yang penuh dengan kepalsuan citra. Ia adalah bukti hidup bahwa Ideologi Karya TPH berakar pada pengabdian fisik dan ketubuhan yang tak kenal ampun.
Jejak Pementasan Monumental: Dekonstruksi dan Kritik Sosial
Ketajaman “Ideologi Karya” TPH terpancar melalui deretan pementasan monumental yang kini menjadi tonggak sejarah teater kontemporer Indonesia. Dalam lakon Meta Teater atawa Dunia Tanpa Makna, TPH memperlihatkan bagaimana ruang panggung diubah menjadi arena dekonstruksi eksistensial. Di sana, makna-makna yang dianggap mapan dipreteli habis-habisan melalui kehadiran fisik aktor yang intens, memaksa penonton merenungi absurdisme kehidupan modern.
Semangat perlawanan berlanjut dalam lakon Kaspar, sebuah eksplorasi tentang bagaimana bahasa digunakan oleh kekuasaan sebagai alat penaklukan terhadap individu. TPH merespons dominasi verbal ini dengan perlawanan tubuh secara total, menunjukkan bahwa eksistensi manusia tetap bisa bertahan melalui gerak impulsif yang bebas dari jeratan tata bahasa formal. Selanjutnya, puncak dari kegelisahan kontemporer TPH mewujud dalam karya Merah Bolong Putih Doblong Hitam hadir sebagai pernyataan estetik yang sangat politis, menggambarkan robeknya identitas bangsa melalui visualisasi raga yang getir namun bertenaga.
Lalu kegelisahan kontemporer TPH mewujud dan menunjukan ketegasan absurdis dalam karya terbaru, Wawancara Dengan Fir’aun pada bulan November 2025 yang lalu. Di sini, TPH tetap konsisten menggunakan tubuh sebagai cermin kekuasaan yang rakus. Pementasan ini bukan sekadar kritik terhadap satu rezim, melainkan kritik universal terhadap hasrat manusia akan kekuasaan yang sering kali menghancurkan kemanusiaan itu sendiri. Di tahun 2026 ini, pementasan tersebut tetap terasa aktual, membuktikan bahwa Ideologi Karya TPH memiliki daya tahan yang melampaui zaman.
Distingsi Ontologis: Menolak Penyeragaman Medan Teater Tubuh
Meskipun Afrizal Malna (2026) dalam tulisannya memetakan bahwa fenomena teater tubuh maupun teater fisik di Indonesia membentang luas dan beragam, daftar panjang kelompok yang ia sebutkan justru mengaburkan esensi paling mendalam dari apa yang dikerjakan oleh TPH Bandung. Afrizal Malna menyebutkan deretan kelompok mulai dari Teater Republik (Bandung), Teater Sae (Jakarta), Teater Kubur (Jakarta), Teater Api (Surabaya), Teater Garasi (Yogyakarta), Teater Kita (Makasar), Teater Hitam Putih (Sumatera Barat), hingga komunitas-komunitas yang lebih muda seperti Rokateater, Kala Teater , Komunitas Nan Tumpah, hingga Nara Teater di Flores Timur. Namun, penempatan TPH dalam deretan tersebut tidak pada tempatnya oleh sebab secara metodis menunjukan perbedaan yang tegas.
TPH memiliki distingsi ontologis yang tidak bisa disamaratakan dengan komunitas manapun dalam daftar tersebut, terutama kelompok-kelompok yang baru tumbuh “kemarin sore”. Perbedaan mendasar ini terletak pada titik berangkat proses kreatifnya: jika banyak komunitas lain terjebak pada sekadar “estetika gerak”—sebuah kecenderungan di mana tubuh hanya digunakan untuk mencapai komposisi visual yang artistik atau akrobatik—TPH justru bekerja pada level “ideologi tubuh”. Di bawah asuhan Rachman Sabur, tubuh bukan lagi objek yang diperintah untuk menari, melainkan subjek yang memproduksi makna secara mandiri. Ideologi tubuh ini kemudian mengkristal menjadi sebuah “Ideologi Karya”.
Kertas kerja Black Method mempertegas bahwa keberadaan TPH adalah untuk “membongkar” realitas secara jujur dan radikal. Di saat komunitas lain mungkin menggunakan fisik sebagai elemen pendukung narasi atau bagian dari hibriditas media, TPH menjadikannya sebagai basis ekspresi tunggal yang asketik. Kelompok-kelompok seperti Teater Kita Makassar, Teater Satu Lampung, atau Komunitas Berkat Yakin memiliki jalur pencarian mereka sendiri, namun menyatukan mereka dalam satu “medan teater tubuh” yang seolah seragam dengan TPH adalah sebuah kekeliruan pembacaan. TPH tidak sedang mencari variasi gerak; mereka sedang mencari kejujuran di balik raga yang disiksa oleh realitas sosial dan politik.
Dialektika Global: Grotowski, Boal, hingga Lehmann
Meskipun secara deskriptif estetika TPH tumbuh dari tanah lokal, mereka tidak menutup mata terhadap dialektika teater global. Ada pengaruh ketubuhan asketik dari Jerzy Grotowski (1968) melalui konsep Poor Theatre yang mengeliminasi elemen dekoratif demi kemurnian aktor. TPH menyerap semangat ini namun memberikan sentuhan kritik sosial yang lebih lugas. Mereka juga bersinggungan dengan struktur narasi pasca-dramatik Hans-Thies Lehmann (2006), di mana teks didekonstruksi demi mengedepankan performativitas visual dan kinetik.
Selain itu, semangat pembebasan Augusto Boal (1979) serta efek keterjarakan (verfremdungseffekt) Bertolt Brecht (1964) turut memberi warna pada cara TPH berkomunikasi dengan publiknya. TPH tidak membiarkan penonton hanyut dalam empati yang melankolis, melainkan mendorong mereka untuk menjaga jarak kritis melalui visual raga yang provokatif. Namun, semua pengaruh global ini berhasil dilebur ke dalam raga para aktor TPH melalui proses latihan yang sangat militan, menghasilkan sebuah sintesa estetik yang sepenuhnya otentik dan memiliki daya ledak khas Bandung.
Kolektivitas Militan: Silsilah Motor Penggerak Lintas Generasi
Kekuatan kolektif TPH ditopang oleh motor-motor penggerak lintas generasi yang bekerja dengan disiplin tinggi. Nama-nama pionir seperti ; Sukarsa Taslim, Nur Rahmat SN (Teater Alit), Ben Tomorow (Alm) (Pantomer BMC), Leonardi, W. Cristiawan, Irwan Guntari (Teater Alibi Bandung), Iman Soleh (CCL Bandung), Didin Sirozudin, Rudi Mulyana (Australia), Tatang R. Macan, Tony Bolor, Doni Siswanto, Sujono Bladak, Hery Die (Alm), Buce Dirgantara, hingga Denny Cholid telah meletakkan fondasi yang tak tergoyahkan sejak era 1980-an.
Semangat ini kemudian diteruskan secara estafet oleh generasi berikutnya; Rusli Keleeng (Alm), Yadi Bagong, Dede Dablo, Deden Yusuf Sutris, Hendra Mbot, Cep Kohar, Bazier, M. Wail, Dian Remeh, dan Felik. Menariknya, kekuatan narasi panggung TPH juga diperkuat oleh kehadiran langsung Asep Budiman dan Gaos FM. Keduanya membawa pengalaman intelektual dan teknis yang tajam dari Teater Re-Publik pimpinan Benny Yohanes (Benjon). Sinergi ini memberikan dimensi performativitas yang lebih luas—intelektual sekaligus intens—memperkaya cakrawala artistik TPH tanpa pernah sedikit pun mengkhianati akar ketubuhannya yang keras.
Migrasi Estetika dan Masterpiece Kontemporer
Fenomena migrasi estetika TPH Bandung, terlihat nyata melalui para penggeraknya yang pernah bergulat bersama ketika di Bandung. Mereka menempati posisi strategis di berbagai daerah, menanamkan etos kerja teater yang militan melampaui batas-batas geografis Bandung:
- Didin Sirozudin di Jambi dan Saepul Sapturi di NTB, berhasil menyuntikkan disiplin TPH ke dalam ruang birokrasi seni di Taman Budaya, sekaligus kreator teater dan pertumbuhan di wilayah pembinaanya.
- Karnadi Sunanto (Alm) di Sulawesi, Gungun Gumilar (Alm) yang sempat di Bengkulu, hingga Imas Sobariah (Teater Satu) di Bandar Lampung, bertindak sebagai agen penumbuh militansi teater di tingkat provinsi masing-masing.
Demikian juga di Sumatera Barat, melalui pemikiran Tatang R, Macan-bahwa metodologi TPH Bandung ini kemudian mengalami hibridisasi dengan kekuatan lokalitas Minangkabau di ISI Padangpanjang. Tatang menegaskan bahwa TPH Bandung adalah Masterpiece Kontemporer Indonesia yang kekuatannya berakar pada ketangguhan manusia, bukan pada tren sesaat. Dalam pandangan Prof. Saini KM, yang diterbitkan pada Kosapoin.com 30 Januari 2026; Kelompok Teater Payung Hitam telah menjadi salah satu kelompok teater yang terpandang. Itu berkat sejumlah pementasannya. Yang merupakan afirmasi kehadirannya di dunia perteateran Indonesia(bahkan di luar negeri). TPH Bandung membuktikan, bahwa ideologi yang ditanamkan melalui tubuh akan terus tumbuh dan berkembang ke mana pun raga para penggeraknya melangkah.
Penutup: Benteng Terakhir Kejujuran
Teater Payung Hitam Bandung tetap setia pada jalannya: menjadikan tubuh sebagai benteng terakhir kejujuran. Di tengah dunia yang semakin digital dan penuh dengan manipulasi visual pada tahun 2026 ini, kehadiran Ketubuhan yang total dari aktor-aktor TPH adalah sebuah pengingat akan kemanusiaan yang utuh dan tak terekayasa. TPH bukan sekadar sebuah kelompok teater; ia adalah sebuah pernyataan sikap yang konsisten, sebuah “Ideologi Karya” yang akan terus mewarnai dan memberi arah pada sejarah panjang teater kontemporer di Indonesia.
Daftar Pustaka
- Boal, A. (1979). Theater of the Oppressed. London: Pluto Press.
- Brecht, B. (1964). Brecht on Theatre: The Development of an Aesthetic. New York: Hill and Wang.
- Budiman, A. (2026). Black Method Teater Payung Hitam Bandung: Kertas Kerja Tubuh dan Ruang Pembongkaran Realitas. Diakses dari Kosapoin.com.
- Grotowski, J. (1968). Towards a Poor Theatre. Holstebro: Odin Teatret Forlag.
- Lehmann, H. T. (2006). Postdramatic Theatre. London: Routledge.
- Rusmana, T. (2026). Teater Payung Hitam (TPH) Bandung, Masterpiece Kontemporer Indonesia. Diakses dari Kosapoin.com.







