PEREMPUAN PENJAGA RAHIM SUCI
dramatik. Versi Teatrikal – Pementasan. lampu redup. Suara denting. Nafas terdengar berat. Lalu sunyi.
Narator / Perempuan
(suara gemetar namun tajam) : Aku…
bukan hanya daging yang kau nilai dari lekuk dan rupa…
Aku adalah akar,
tempat semesta pertama kali bertanya…
“Siapa aku… dari mana aku berasal?”
(hening sebentar, lalu keras) : Dari rahimku!
Dari rahim perempuan!
Yang kau injak-injak dengan adat,
kau bungkam dengan aturan warisan patriarki,
kau silamkan dalam kisah yang kau tulis sepihak!
(suara menurun, getir dan kuat) : Tapi aku…
aku tetap menjaga.
Rahim ini—
bukan cuma ruang hidup,
tapi perjanjian sakral antara jiwa dan bumi.
Di sini,
bergetar darah pertama yang akan jadi bangsa,
berdenyut doa yang tak pernah terdengar,
tapi menghidupi dunia!
(berjalan ke depan panggung perlahan) : Aku perempuan…
penjaga rahim suci—
yang tak bisa kau bayar dengan pujian palsu,
atau sebutan “malaikat rumah tangga”…
Tidak!
Aku bukan malaikat—
aku manusia…
yang berdarah,
berpeluh,
dan berani berdiri!
(teriak lantang) : Aku perempuan!
Yang menolak dibisukan!
Yang menjaga rahim ini
bukan hanya dari benih yang tak bertanggung jawab—
tapi dari dunia
yang terus menggerogoti harga diriku!
(hening. Lalu lirih, hampir seperti bisikan) : Kau tahu…
tak ada yang lebih suci dari tempat hidup bermula,
dan tak ada yang lebih kuat dari perempuan
yang tahu apa yang ia jaga.
(tatap penonton. Nada mengeras pelan) : Jangan kau uji kesabaranku…
karena jika aku murka—
takkan lahir lagi generasi yang tahu malu!
(lampu redup perlahan. Musik lirih. Kalimat terakhir diucapkan dengan teguh) : Aku perempuan.
Aku penjaga.
Aku rahim yang suci…
dan tak akan tunduk… pada siapa pun… selain kebenaran!
2025 rd




