lakon drama satu babak
NIGHT. Di sebuah beranda. Perjamuan kecil. Ada sebuah gitar menggantung di dinding.
PEREMPUAN:
Sebenarnya apa yang aku perbuat selama ini hanyalah hal-hal yang bisa, sepertihalnya nalar orang kebanyakan yang bisa melakukannya, tapi orang-orang menobatkanku sebagai mesin solusi.
LELAKI:
Terlalu merendah. Atau jangan-jangan kau tak mau membantuku?
PEREMPUAN:
Soalnya bukan itu, MENARIK NAFAS PANJANG aku takut seluruh ideku bisa menghancurkan idemu yang sudah dibangun. Mending kalau lebih baik. Meski pun lebih baik tetap ada yang mengganjal di hati.
LELAKI:
Justeru kedatanganku untuk hal itu. Selalu berupaya ingin memberikan yang terbaik untuk negeri ini.
PEREMPUAN:
Tapi hati tidak sesederhana itu!
LELAKI:
Ya, dalam hal ini kau benar, adakalanya ide yang sudah terealisasikan bisa hancur dengan ide baru. Sakit memang, tapi demi kepentingan kolektif, apa salahnya? Yang terpenting, kita tetap menjunjung tinggi cita-cita luhur para pelopor Negeri. Dan aku yakin, bahwa Negeri ini bisa berdiri dengan kokoh paska melewati banyaknya mengorbankan rasa atau perasaan demi terwujudnya impian. MENARIK NAPAS PANJANG SAMBIL MEMANDANGI DADA OBJEK. Seperti yang sudah kita tahu, bahwa sejarah mencatat: Di itu waktu, para pelopor tidak bisa lepas dari berselisih tentunya.
PEREMPUAN:
Apa kau yakin tidak akan sakit hati, ketika namaku yang berkibar, kelak?
LELAKI:
Sudah aku katakan di muka, maksud dan kedatanganku. Kecuali kau mencemaskan namamu tidak tercatat dalam sejarah.
PEREMPUAN:
Maaf, aku tidak menudingmu sejauh itu.
LELAKI:
Tentu saja. Ah, bilamana penghianatan itu terjadi?
PEREMPUAN:
Itu hal yang lumrah terjadi. Bahkan dan terkadang sandiwara pun perlu dimainkan.
LELAKI:
Kembali ke pokok bahasan, apa ide kau tentang peta baru Nusantara?
PEREMPUAN:
Kita harus memulainya dengan diksi lumrah.
LELAKI:
Maksud kau?
PEREMPUAN:
Kita kesampingkan dulu tentang gejolak politik dan seluruh unsur elemen yang membentuknya.
LELAKI:
Elemen yang membentuknya? Oh… maksud kau itu mengenyampingkan KKN?
PEREMPUAN:
Tepat. Toh, bagaimana rancangan sistem yang kita tengah bangun bisa berjalan dengan sempurna, kalau kita meredam gejolak tersebut terlebih dahulu, justru kita yang akan diberangus.
LELAKI:
Solusinya?
PEREMPUAN:
Bekerja dengan hati.
LELAKI:
Apakah sandiwara diperlukan?
PEREMPUAN:
Sandiwara sebagai senjata pamungkas, jika kita terlalu banyak rongrongan dari berbagai lini.
LELAKI:
Baik. Langkah pertamanya lumrah. Lantas untuk langkah keduanya?
PEREMUAN:
Menebarkan isu-isu positif yang bisa merangsang pikiran untuk berkata sepakat.
LELAKI:
Contohnya?
PEREMPUAN:
Kita rekrut seluruh generasi dan berdayakan seluruh konten kreator untuk lebih menajamkannya. Sehingga ruang publik tercipta. Bukan sekadar ruang publik biasa, melainkan benar-benar murni bisa menampung ide dan aspirasi mereka dengan kita bisa mewadahinya serta memfasilitasinya. Mewadahi artinya bisa memfilter dan mengarahkan. Memfasilitasi artinya, ketika ide atau aspirasi itu benar-benar kompeten dan sesuai dengan target. Ruang publik itu bernama ruang pangauban.
LELAKI:
Contoh projeknya seperti apa?
PEREMPUAN:
Tentu saja, kau sebagai Pimpinan Hulu harus punya segudang gagasan yang menarik. Bukan hanya menarik, tetapi terealisasikan dengan baik. Contoh projeknya membangun kantung-kantung seni di setiap daerah, lengkap dengan pamongnya. Ketika kantong-kantong seni itu tumbuh subur, maka paradigma budaya dan kebudayaan akan tumbuh dengan sendirinya. Produk-produk unggulan pasti tercipta. Daya saing mulai terlihat. Pasar muali bermain. Di sini, Koperasi mulai dihidupan lagi!
LELAKI:
Kenapa harus dimulai dari seni, bukan langsung dari segi ekonomi? Ah, kau ini!
PEREMPUAN:
Sebab itu akar dari segenap ide dalam membangun kebudayaan dan budaya yang membudaya. Dulu, kita hanya bisa melihat mobil terbang hanya ada di film-film kartun, sebagai khayali. MENATATP TAJAM KE DEPAN. Ada budaya gotong royong dalam seni: disiplin, jujur dan bertanggug jawab. Dan hal itu sebagai cerminan luhur dari warisan Pancasila. HENING. Kini soalnya adalah hidup untuk seni atau seni untuk hidup?
LELAKI:
Apa ada alasan lainnya lagi, yang bisa memperkuat hal itu? MENGAMBIL GITAR.
PEREMPUAN:
MENGAMBIL GELAS YANG SUDAH BERISI MINIUMAN. Berbicara Nusantara. Berbicara banyak suku, ras dan Bahasa. Masing-masing punya ciri khasnya dalam berkebudayaan. Sebagaimana tujuh unsur kebudayaan yang dicetuskan oleh Koencoroningrat, sebenarnya sudah ada dan hidup di setiap suku dengan prakternya yang berbeda, tapi benang merahnya sama. Ah, apakah kau lupa?
LELAKI:
Lupa? HENING. Sepanjang waktu ini aku fokus mendengarkan kau. Sekiranya apa yang aku lupa?
PEREMPUAN:
Orang senang berkumpul. Orang senang bercerita dan orang senang berbagi. Artinya objek pemajuan kebudayaan dan bisnis pariwisata sebagai salah satu tonggak untuk menuju Indonesia emas. Kita hidupkan kembali dolanan dan kisah-kisah foklor yang sudah jarang terdengar kala menjelang tidur. Kita kemas jadi pementasan sandiwara. Dari sana souvenir bisa menjadi salah satu produknya. Dan banyak lagi dari unsur seni yang bisa menjadi produk untuk dimarketkan. Miniatur alat musik angklung, karinding dan lainnya. Dengan begitu target memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa lambat laun bisa tercapai.
LELAKI:
Termasuk cara menenun, membatik, membajak dan menanam padi?
PEREMPUAN:
Tepat. Ngomong-ngomong tentang padi, aku jadi teringat pada Sajak Hijau karya Piet Ardjianto yang pernah kita aransemen semasa kuliah dulu. Tidak salah kan dalam situasi yang tidak seimbang ini kita releksasi sejenak?
LELAKI:
Tentu saja, kita perlu hiburan. Kau masih ingat dengan liriknya? MULAI MEMAINKAN INTRO.
PEREMPUAN:
Tentu. BERNANYI Kutanam padi dan cinta kasih / di sawahku di hatimu / melulur tubuh sebelum subuh / mimpi mengalir bayi lahir/ melingkar tenang / bergelantung riang / di dadamu / di lenganku. Reff. Melingkar tenang / bergelantung riang / di dadamu / di lenganku. 2x. MINUM Sajak sendiri termasuk artefak. Sepertihalnya cagar budaya, sebagai warisan adi luhung dari para leluhur. Cagar budaya sebagai karya seni yang masih ada dan bisa dikata abadi. Seperti halnya cagar alam. Kita kaya dengan budaya dan alam yang full eksotik. Kita tinggal merawatnya dengan baik, sepertihalnya merawat tubuh kita, niscaya siklus ekonomi akan berjalan dengan sendirinya. Usaha-usaha mikro akan tumbuh subur. Kita tinggal mendampinginya dalam asupan.
Suasana sejenak hening. Nampak seorang lelaki termenung dalam gemingnya.
PEREMPUAN:
Melamun lagi?
LELAKI:
Kau benar. Bahwa nilai suatu artefak adalah nilai sejarahnya. Dan sebuah puisi selalu menyimpan sejarah di dalamnya. Bicara artefak, aku ingin mengartefakan darahku di rahim kau!
PEREMPUAN:
Hem… jadi, BERUSAHA TENANG jadi tujuanmu datang ke kediamanku itu untuk menyatakan pernyataan cinta, bukan projek mensejahterakan dan mencerdaskan kehidupan bangsa? SINIS Ujung-ujungnya sandiwara lagi deh!
LELAKI:
Ini bukan sandiwara, tetapi aku membutuhkan keduanya. Kita pun harus punya regenerasi yang sinambung. Apakah kau bersedia untuk menjadi istriku?
PEREMPUAN:
Terkadang asing meraja dalam geming diri!
Mereka saling terdiam. Curi-curi pandang. Sampai VO. Soundtrack habis. Black-out
VO. SOUNDTRACK: Cinta hadir mengusik jiwa | Bagai rumput di beranda | tumbuhnya tak terduga | ingin segera dilucut | tapi cinta bukanlah rumput | hati siapa yang tak kalut | kala cinta membuntut | bayang dirinya mengunggis hati | bayang dirinya mengunggis hati ||
Black-Out.
[170823]









