Aku bukan yang terbaik, tak juga tercepat,
tak pula paling dikenal, tak disanjung di atas panggung megah, tak difoto kamera, tak
dipuja di dunia maya.
Tapi aku masih di sini, menulis, melukis, menata, menenun makna dari benang waktu yang kusut, dari sisa keyakinan yang tak pernah padam, tenggelam.
Aku tak ingin jadi bayangan orang lain, tak ingin meniru langkah siapa pun. Aku hanya ingin menjadi aku yang mungkin gagal hari ini, tapi tak berhenti mencoba esok pagi. Sebab bagiku, berkarya bukan perlombaan,.melainkan napas. Selama napas ini berembus, selama jantung masih berdetak, maka karya adalah bentuk syukurku pada Tuhan.
Aku bukan yang terbaik.Tapi setiap kali pena menari di atas kertas, setiap kali nada kutulis di antara senyap, ada sesuatu yang tumbuh dari diriku: sebuah keyakinan kecil bahwa dunia ini masih bisa kutinggalkan dengan jejak, bukan dengan keluhan.
Aku tahu, tak semua orang akan memahami tulisanku. Tak semua orang akan suka pada nadaku. Tak semua orang akan tepuk tangan setelah aku bicara. Namun aku tak menulis untuk disukai, aku menulis untuk hidup. Aku tak berkarya untuk dikenang, aku berkarya agar jiwa ini tak hilang.
Kadang aku lelah. Lelah oleh kritik yang tak membangun, oleh cibiran yang tak memahami, oleh tawa yang menganggap karya hanyalah permainan. Tapi bukankah kapal yang kokoh takkan terbentuk tanpa hantaman ombak? Bukankah baja takkan kuat tanpa dibakar oleh api?
Maka biarlah, aku dibakar oleh panasnya perjuangan, dipukul oleh dinginnya pengabaian, karena dari sanalah tekadku ditempa.
Aku bukan yang terbaik, tapi aku ingin memberikan yang terbaik. Bukan karena aku ingin dikenal, melainkan karena aku ingin berarti. Setiap karya kecil yang kulahirkan, adalah persembahan sederhana untuk dunia yang sering lupa pada kesederhanaan. Untuk manusia yang sibuk mengejar gemerlap,.aku ingin menjadi lilin kecil yang menyala, bukan obor yang cepat padam.
Aku tidak punya segalanya: tidak kekayaan, tidak jabatan, tidak popularitas. Yang kumiliki hanya satu—ketulusan untuk mencoba.
Dan dari ketulusan itu, aku belajar bahwa karya tidak lahir dari kesempurnaan, tapi dari keberanian untuk melangkah meski tak tahu arah, dari kesetiaan untuk terus berbuat meski tak ada yang menonton, dari keyakinan bahwa setiap usaha akan menemukan tempatnya sendiri di hati semesta. Berkarya, bagiku, adalah bentuk doa yang hidup..Setiap kalimat adalah harapan, setiap warna adalah pengakuan, setiap nada adalah langkah menuju keabadian.
Aku menulis bukan untuk menang, tapi agar aku tidak menyerah. Aku mencipta bukan untuk dipuji, tapi agar aku tidak berhenti bernapas. Karena ada orang yang mati sebelum waktunya—bukan karena usia, melainkan karena berhenti bermimpi. Dan aku tidak ingin mati sebelum waktuku. Aku ingin berkarya hingga napasku menjadi tinta terakhir. Hingga tanganku gemetar. namun masih menulis di udara, hingga suaraku serak, namun masih bernyanyi dalam diam, hingga tubuhku rebah, namun pikiranku tetap menari di atas panggung imajinasiku sendiri.
Aku ingin terus berjalan, meski peluh menetes dari harapan. Aku ingin terus menulis, meski tinta sudah kering oleh kelelahan.
Aku ingin terus melukis, meski kanvas hidup sudah pudar warnanya. Karena berhenti bukan pilihanku kecuali setelah mati. Berkarya, bagiku, adalah cara mencintai dunia tanpa syarat.
Aku mungkin tak bisa mengubah dunia, tapi aku bisa mengubah diriku dan membiarkan perubahan itu.menyentuh satu hati, satu jiwa,.satu kehidupan lain yang membacanya. Jika suatu hari aku tiada, aku ingin karya-karyaku tetap berbicara. Bukan dengan kebanggaan, tapi dengan kejujuran. Bukan dengan kemegahan, tapi dengan keberanian. Karena aku percaya—setiap karya yang lahir dari hati,.tidak akan pernah mati.
Mereka mungkin akan lupa namaku, tapi mereka akan ingat pesanku..Mereka mungkin akan menghapus wajahku, tapi tidak makna yang kuwariskan..Karya itu seperti benih, tidak semua tumbuh di musim yang sama.
Ada yang menunggu hujan, ada yang menunggu tangan-tangan baru menanamnya kembali. Dan bila suatu hari karyaku jatuh di tanah, biarlah ia jadi pupuk bagi generasi yang tumbuh sesudahku.
Aku bukan yang terbaik, tapi aku ingin berjuang seolah aku bisa..Aku bukan yang terpintar, tapi aku ingin belajar seolah waktu tak terbatas. Aku bukan yang terkuat,.tapi aku ingin berdiri tegak.di hadapan setiap badai yang datang. Karena setiap langkah kecil adalah bagian dari perjalanan besar.
Setiap goresan kecil adalah bagian dari lukisan abadi kehidupan. Dan setiap usaha, sekecil apa pun, adalah bentuk terindah dari keberanian. Aku tidak takut gagal. Yang kutakuti hanyalah berhenti mencoba. Karena kegagalan adalah tanda aku hidup, tanda aku melangkah, tanda aku tidak menyerah.
Kegagalan bukan akhir dari segalanya, melainkan pintu menuju pemahaman. Bahwa setiap luka di perjalanan.adalah goresan tangan Tuhan yang sedang membentukku menjadi kuat. Maka biarlah,
aku terus berjalan dengan langkah kecilku, menulis dengan tangan yang lelah, menyanyi dengan suara yang serak, melukis dengan warna yang tersisa, bermimpi dengan mata yang mulai renta.
Aku tidak ingin berhenti sampai dunia berhenti mendengarkan, aku hanya akan berhenti, setelah Tuhan memanggilku pulang. Karena berkarya bagiku adalah cara untuk hidup, dan kematian hanyalah jeda menuju karya abadi yang berikutnya.
Aku bukan yang terbaik. Tapi aku percaya, selama aku memberi yang terbaik, hidupku tidak akan sia-sia. Sebab karya sejati tidak diukur dari penghargaan, melainkan dari kejujuran hati yang melahirkannya. Aku akan terus berkarya, dengan tinta keyakinan, dengan keringat perjuangan, dengan cinta yang tak pernah lelah.
Sampai hari terakhir nanti, ketika tangan tak lagi bisa menulis, ketika mata tak lagi bisa menatap, ketika jiwa kembali kepada yang Maha Mencipta—biarlah dunia tahu: Aku bukan yang terbaik, tapi aku telah berusaha untuk memberikan yang terbaik dalam setiap karya, dalam setiap napas, dalam setiap hidupku— dan aku hanya akan berhenti, setelah mati.
Dari Timur Bekasi
Kamis, 06 Nov 2025
00.01









