foto, dok. Jose Rizal Manua
Di sebuah meja yang sunyi,
ketika tubuh mulai menyerah
namun pikiran masih menyala,
Asrul Sani menulis—
bukan lakon,
melainkan amanat.
Ia tahu,
waktu mungkin tak lagi berpihak,
tetapi cinta
selalu punya cara
menunggu panggungnya sendiri.
Maka lahirlah Nabila—
bukan sekadar perempuan,
melainkan simpul
antara kasih dan kuasa,
antara kesetiaan dan harga diri,
antara diam yang menyelamatkan
dan suara yang harus dibayar mahal.
Untukmu, Mutiara,
yang telah menjadi rumah
bagi kata-kata yang belum sempat berjalan,
yang memelihara naskah
seperti menjaga bara
agar tak padam oleh usia dan duka.
Dua puluh dua tahun
kau simpan kesabaran itu,
bukan di lemari arsip,
melainkan di dada—
tempat cinta belajar setia
tanpa menuntut tepuk tangan.
Lalu datang malam itu,
lampu panggung menyala
seperti doa yang akhirnya dijawab.
Kata-kata yang dulu ditulis
dengan napas terakhir,
kini berdiri tegak
di hadapan zaman yang baru.
Jose Rizal Manua
tidak mengangkat naskah ini
sebagai peninggalan,
melainkan sebagai kehidupan.
Ia tidak memoles luka,
tidak meninabobokan konflik,
ia membiarkan kebenaran berdiri
dengan getirnya sendiri.
Di tangannya,
Nabila tak menjadi fosil,
melainkan cermin.
Ia memantulkan wajah-wajah kita—
tentang cinta yang sering bersyarat,
tentang kuasa yang mudah mengusir
lalu tergesa memanggil kembali.
Dan ketika Nabila berdiri,
bukan lagi sebagai istri yang menunggu izin,
melainkan manusia yang bertanya:
“Apakah aku masih boleh memilih?”
Di situlah Asrul Sani berbicara
melampaui zamannya.
Bahwa perempuan
bukan halaman tambahan
dalam buku kekuasaan lelaki,
melainkan bab utuh
yang tak boleh dihapus
hanya demi keselamatan karier.
Mutiara,
malam itu engkau bukan sekadar produser,
bukan sekadar penjaga warisan,
melainkan saksi
bahwa cinta sejati
tak selalu selesai di kehidupan,
ia bisa berlanjut
di panggung,
di tubuh aktor,
di napas penonton
yang pulang dengan hati terguncang.
Asrul Sani telah pergi,
tetapi cintanya tidak.
Ia kini berdiri
di antara lampu dan gelap,
menyapa kita pelan:
“Jagalah kemanusiaan,
bahkan ketika kuasa tampak menang.”
Dan Nabila pun selesai—
bukan dengan jawaban,
melainkan dengan keberanian
untuk bertanya.
Karena cinta sejati,
seperti seni yang jujur,
tak pernah nyaman,
tetapi selalu perlu.

