Api yang diturunkan
dari lautan neraka, menjadi butir-butir berlian di bumi, bagi manusia yang hilang kejujuran. Bahkan Tuhan bisa dibeli seribu tiga
di bursa pasar kaki lima!
Inilah cerita legenda
di bumi tercinta.
Telah lama tanah ini
bernama ‘Negeri Korupsi’
kemiskinan tak dibatasi
kemakmuran sembunyi
dibalik wajah wali,
di hati pencuri.
Sang dalang yang tak bisa dibeli hatinya dengan bertumpuk uang siluman, berkalam kata:
“Apabila negara sudah dikuasai mahluk bernama koruptor, yang tak mau dicap pembawa sumber bencana, jangan pernah berharap cahaya merosot dari langit. Jangan menatap matahari sambil berdoa minta petunjuk. Panasnya akan ditekuk, diplintir, dipermainkan tangan-tangan yang lebih cekatan memalsukan tanda tangan Tuhan.
‘Negeri Korupsi’ dikuasai koruptor, malaikat pencatat pun bisa diminta “klarifikasi”. Bila menolak, bisa dilaporkan balik, dianggap “melampaui kewenangan dukun santet”.
Aneh?
Lha ya tidaklah.
Inilah republik serasa warung kopi, peraturan dan kewarasan, bisa dicicil. Bisa dinego seperti beli sandal jepit di pasar kaki lima.
Di ‘Negeri Korupsi,’
Koruptor wajib sakti, memiliki senjata melebihi mesin pembunuh massal, yaitu: ilmu tinggi belut putih: dijamin gesit, licin, lincah, tak gampang dipegang. Hari ini kepala merunduk, besok dada berdiri di podium menyuarakan ‘Anti korupsi!’ Sekarang menangis di depan publik, esok cengar-cengir sembari menandatangani proyek imajinasi dengan angka serba fantastis. Dini hari pakai rompi oranye, di pagi buta bersetelan jas, berparfum Italia, duduk terdepan, di kursi istimewa dalam seminar ‘Kejujuran Harga Mati!’ Gemuruh hore di antara riuh tepuk tangan, bukan untuk meyakini, tapi merasa terdesak, sebab kejujuran sudah kehabisan peluru untuk mematikan.
Sanksi eksekusi mati?
Eh ladalaaah! Kejujuran dilarang bermimpi. Selama negeri di bawah darah biru koruptor, ‘eksekusi mati’ serupa wacana sebelum tidur. ibarat pesta kembang api, di malam tahun baru: dinyalakan sesaat, agar kejujuran biar bahagia, setelah itu, menghilang, bertukar kelamin: hukuman seumur hidup versi irama blues diskon Agustusan, dipotong masa tahanan plus remisi, dipercepat “evaluasi perilaku baik.” Horeee, merdeka dari jajahan penjara! Kata ‘dimiskinkan,’ dilempar ke comberan. Bukan tempo waktu perjalanan penjara di padang tandus. Malah ujud lebih kinclong dari sebelum diciduk, seakan baru keluar dari ruang sauna, sehabis lulur susu tujuh rupa. Si betina seperti ratu, si jantan laksana raja dari surga.
Amboi!
Terpujilah ‘Negeri Korupsi!’
Alamak!
Koruptor berbaju insyaf, bersulam taubat nasuha, bergincu seribu sesal, cuma berlaku di depan kamera. Ketika kamera mati, taubat pun ikutan mati. Saat Kamera menyala, taubat bercahaya lagi. Kilau kelap-kelip mirip lampu diskotik, taubatan menyesuaikan irama keadaan, kecoa hanya bisa sedikit kegelian.
Di ujung zaman,
anak berhati nabi, berkata:
“Kalau takdirnya babi (maaf!),
mana mungkin bisa jadi sapi, apalagi merpati atau rajawali, terlalu jauh menjadi garuda
bisa terbang seluas di langit, bernapas tanpa batas dan
menebar melati dari hati.
Sedangkan si babi,
sampai mati,
tetap babi!
Alam merekam lewat teknologi digital, koruptor memiliki kekuatan istimewa, yaitu:
- Lupa pendek akal,
- Lupa terlihat koreng,
- Lupa kehilangan kursi.
Justru tiga dasar selalu lupa, menjadi spesies paling defensif di republik ini, tak gampang punah, dari zaman purba sampai merdeka. Terus bertelur, menetas beranak, di balik bangunan negara, lupa kian merapuh.
Di negeri ini,
koruptor menjadi raja
di atas kehidupan manusia.
Tuhan di ujung telunjuk, dianggap aparat desa yang bisa diberi upeti agar memberikan “izin moral” untuk berpesta pora dalam menjarah.
Tuhan—yang bagi mereka seolah tunduk, patuh, manut, takut dibunuh oleh koruptor. Begitu congkaknya mereka, sampai-sampai doa pun mereka minta dibuatkan versi premium, lengkap dengan pembelaan spiritual “hamba ini terpaksa”.
Mungkin malaikat heran, kenapa bumi tak kunjung disapu bersih. Jawabannya sederhana: malaikat terlalu malu untuk melaporkan kerjaannya kepada Tuhan, karena setiap hari laporan mereka dipenuhi nama-nama yang sama.
Negeri dikuasai koruptor bukan negeri yang mati. Justru ia hidup. Tapi hidup seperti ikan dalam kolam tercemar: berenang, tapi keracunan perlahan. Masyarakat berjalan, tetap bekerja, tetap bayar pajak, tetap tertawa, tetapi semuanya seperti menanggung beban tak terlihat. Yang disebut “kemajuan” hanya sekadar kata-kata motivasi di spanduk pinggir jalan: Mari Maju Bersama!—padahal jalanan bolong, listrik padam, rumah sakit penuh, sekolah bocor, dan masyarakat harus bernafas dengan logika yang penyok, bonyok.
Di tengah kondisi zaman ‘Kolobendu’, kritik sosial menjadi semacam musik cadas. Keras, bising, memekakkan, tapi justru itulah yang menjaga pendengaran tetap waras. Puisi pamflet lahir dari rasa frustrasi, dari perut lapar yang tak bisa lagi disuruh sabar, dari keringat petani yang terus diambil tanpa izin, dan dari anak sekolah yang masih harus belajar tentang kejujuran dari buku, bukan dari pemerintah.
Sementara itu, para koruptor sibuk dengan urusan mereka sendiri. Mereka rapat di ruangan ber-AC, menyeruput kopi impor, membahas angka-angka besar yang tak pernah bisa dibayangkan rakyat biasa. Angka-angka yang bisa membangun jembatan, rumah sakit, sekolah, atau ketahanan pangan. Tapi angka itu justru terbang ke rekening pribadi, ke perusahaan istri, ke yayasan keluarga, ke rekening anak-anak mereka di luar negeri. Dan kita, rakyat, hanya dapat brosur: Mohon maaf program belum terlaksana karena kendala teknis.
Kendala teknis itu apa? Ternyata sangat sederhana: alat penghitung uang mereka rusak karena terlalu sering dipakai.
Namun, pamflet tak boleh berhenti pada keluhan. Pamflet sejati selalu menyelipkan solusi. Satir bukan sekadar sindiran; ia adalah cermin yang memaksa kita bertanya pada diri sendiri.
Apa solusi bila negara dikuasai koruptor?
PERTAMA, berhenti berharap malaikat turun tangan. Malaikat sibuk, dan mereka bukan petugas customer service untuk negara yang malas belajar integritas. Kita harus menggerakkan diri sendiri: belajar jujur dari hal kecil—mengembalikan uang kembalian lebih, tidak menyogok untuk urusan pribadi, tidak memanipulasi laporan kerja, tidak menormalisasi kebohongan kecil. Karena korupsi tidak lahir dari raksasa. Korupsi lahir dari semut-semut kecil yang dibiarkan tumbuh menjadi monster.
KEDUA, hukum harus menjadi hukum, bukan saran. Hukuman mati? Tidak perlu dipuja. Tidak perlu menjadi fantasi kolektif. Yang jauh lebih penting adalah kepastian hukum. Hukum bukan pedang lentur. Jangan lagi ada remisi untuk koruptor. Jangan ada fasilitas mewah di penjara. Jangan ada masa tahanan yang dipotong sesuka hati. Biarkan koruptor merasakan hidup seperti rakyat yang mereka zalimi: makan seadanya, tidur seadanya, mandi seadanya. Itu lebih menyakitkan daripada mati.
KETIGA, perbaiki imunitas moral bangsa. Ini bukan propaganda kelas seminar. Ini pekerjaan panjang. Moral hanya kuat bila rakyat punya kesejahteraan. Gaji cukup, pendidikan layak, pembinaan jelas. Negara yang miskin pendidikan akan selalu kaya dengan koruptor. Karena korupsi paling awal bukanlah mencuri uang negara; korupsi paling awal adalah mencuri kesempatan orang lain untuk belajar menjadi manusia baik.
KEEMPAT, rakyat harus lebih cerewet, bukan pasrah. Cerewet yang cerdas, bukan cerewet emosional. Rakyat harus memaki ketika perlu, tertawa ketika tepat, mengkritik secara konstruktif, dan mengawasi tanpa henti. Karena di negara yang dikuasai koruptor, rakyat diam adalah minyak pelumas bagi sistem yang busuk.
KELIMA, bangun budaya malu. Bukan bagi rakyat—tetapi bagi pejabat. Pejabat yang ketahuan korupsi harus malu bukan karena takut dipenjara, tapi takut diludahi sejarah. Kita perlu menghidupkan kembali budaya bahwa kehormatan jauh lebih berharga daripada rekening bank. Tanpa itu, negara hanya akan menjadi rumah kaca yang retak—dari luar terlihat indah, dari dalam penuh serpihan.
Dan mari kita bahas sedikit tentang “Tuhan pun bisa diatur”. Frasa satir itu menyakitkan, tapi justru karena dekat dengan kenyataan. Banyak koruptor bersembunyi di balik agama, di balik simbol moral, di balik ritual suci.
Setiap kali ada skandal, mereka segera mengeluarkan kartu sakti: doa, sedekah, pernyataan religius, atau air mata buatan. Seolah-olah Tuhan adalah manajer humas yang bekerja lembur untuk membersihkan reputasi mereka.
Padahal Tuhan tak butuh dibela. Tuhan tak butuh hubungan masyarakat. Yang butuh pembelaan adalah rakyat—karena rakyatlah yang menjadi korban dari setiap rupiah haram yang diambil.
Bayangkan berapa sekolah yang tak jadi berdiri, berapa puskesmas yang tak jadi dibangun, berapa petani yang tetap miskin karena subsidi dicuri, berapa anak yang kehilangan gizi, karena anggaran gizi dialihkan menjadi “biaya koordinasi”.
Dan negara terus berjalan, pura-pura tidak tahu. Seperti orang tua yang pura-pura tidak melihat anaknya mencuri kue di meja, padahal kue itu sudah habis separuh.
Tetapi mari jujur: koruptor tidak jatuh dari langit. Mereka lahir dari sistem. Sistem yang terlalu lunak, yang terlalu kompromistis, yang terlalu mudah memaafkan atas nama “kemanusiaan”. Kemanusiaan? O, betapa suci kata itu, sampai-sampai digunakan untuk melindungi orang yang tidak punya rasa kemanusiaan sedikit pun.
Di pengadilan, mereka menangis.
Di penjara, menyuap.
Di luar penjara, kembali berdiri sebagai orang terhormat.
Lalu orang-orang jujur?
Mereka hanya dapat ucapan terima kasih, lalu disingkirkan karena dianggap mengganggu kenyamanan para elit.
Sampai kapan?
Sampai rakyat berhenti menjadi penonton yang baik.
Negeri ini bisa diselamatkan.
Bukan oleh super hero,
bukan oleh jenderal turun gunung, bukan oleh tokoh suci yang konon tak punya dosa.
Negeri ini hanya bisa diselamatkan oleh masyarakat yang terus menyuarakan rasa tak-tahannya—masyarakat yang tidak mau lagi dikibuli, ditipu, dikelabui. Masyarakat yang berani tertawa di tengah kesedihan, berani memaki di tengah takut, berani bersuara di tengah ancaman.
Pamflet ini bukan sekadar luapan emosi. Ia adalah alarm jam weker nasional. Bunyi nyaringnya menandai bahwa kita sudah terlalu lama tidur dalam mimpi manis yang diproduksi para elite. Alarm ini tidak meminta kita bangun sekaligus. Alarm ini hanya meminta kita membuka mata, satu demi satu.
Apabila negara sudah dikuasai koruptor, hukuman mati hanya menjadi hiburan bagi orang-orang jujur.
Tapi ingat: kejujuran bukan untuk dihibur. Kejujuran harus diberdayakan.
Koruptor boleh menyangka mereka bisa mengatur segalanya. Tapi ada satu hal yang tidak bisa mereka beli, tidak bisa mereka suap, tidak bisa mereka remisi:
KESADARAN SEMESTA RAKYAT
Dan ketika kesadaran itu bangkit, pelan tapi pasti, negara bisa kembali menjadi rumah bersama, bukan kandang tempat babi-babi rakus berkeliaran mencari celah.
Sampai saat itu tiba, mari terus menyuarakan perlawanan, meski hanya dengan kata-kata.
Karena setiap kata adalah peluru moral. Dan peluru moral, bila ditembakkan dengan benar, konsisten, bertubi-tubi, bukan lempar ubi, KATA-KATA bisa menembus akar jiwa, melemahkan detak jantung ruh, terdoktrin, seakan besok: KEMATIAN DATANG!
Dari Desa Singasari
Rabu, 26 Nov 2025
03.06









