SITI LURIK

monolog SITI LURIK

(TERDENGAR BUNYI ALAT TENUN BUKAN MESIN (ATBM) UNTUK MEMBUAT LURIK)
(TERDENGAR TEMBANGAN)
Kecantikan fisik bisa memudar seiring berjalan waktu
Kecantikan batin semakin bersinar seiring waktu juga
Keindahan batin menghindari prilaku buruk
Menghakimi orang
Menyimpan dendam
Bergantung pada yang semu
Pesona lahir dari hati yang tulus, pikiran yang jernih.
Sikap penuh kasih
Bukan hanya cantik tapi berharga.
Dalam lingkaran yang disentuh
Siti Lurik contohnya.
(TERJEMAHAN DALAM BAHASA JAWA)
Kaéndahan fisik
Bisa sirna kanthi wektu
Kaendahan batin
Uga katon luwuh padhang liwat waktu
Kaendahan batin nyingkiran tumidak ala ngadili wong liyo
Ngempet dendam ngandeleke barang sing entheng
Pesona asale saha
Ati sing tulus lan pikiran sing resik
Sikap tresna orang mung aya
Nanging regane ing bunder kang kena
Siti Lurik ngarane.

(LAMPU TEMARAM)
NAMPAK SAWITRI BERKIMONO LURIK WARNA PELANGI (KEPADA PENONTON)

Itu dongeng nenek buyutku dari ibuku Nyimas Basudaran dari Pajang.
Kalau mau tidur aku ditembangkan puja-puji pada Dewi Sawitri yang disebutnya Siti Lurik, sampai aku dinamai Sawitri juga.

Dewi Sawitri sangat pandai dan setia, suaminya Setiawan, anak raja yang disingkirkan raja Lalim. Suaminya dan keluarganya dibuang ke hutan Dandaka.

Dewi Sawitri ingin suaminya bahagia, apapun akan ditempuhnya, seperti tadi yang ditembangkan.

(DUDUK MERAMU JAMU)

Dewi Sawitri juga dongengnya membuat jamu, dari tanaman hutan yang dipetik untuk suaminya dan kedua mertuanya, supaya sehat dan panjang usianya.

Aku juga sama suka buat jamu, dilatih sama Mbah Kedasih, orangnya kecil tapi cekatan, segala bisa. Mbah Kedasih dipungut sejak kecil oleh nenek buyut, diwariskan pengabdiannya ke ibuku, sehingga sudah seperti saudara. Aku pernah tanya pada ibuku, mengapa Mbah Kedasih itu tubuhnya bogel ?

(MERUBAH SURA)

Huss, jangan lihat rupa dan tubuh orang, dimata Gusti Allah sama nduk, ibuku berkata sambil setengah berbisik. Aku jadi ingat paman Kunto, sejarawan. Aku tanya ke rumahnya di Semaki. Aku ingin cari tahu tentang rupa dan tubuh Mbah Kedasih. Paman Kunto sesaat diam, lalu menyeruput kopinya dan menghisap cangklongnya.

(MERUBAH SUARA AGAK BERAT)
Begini Witri, itu trah polowijo.
(SUARA ASLI)
Maksudnya?
(MENGUBAH SUARA LAGI)
Polowijo itu sebutan saja. Manusia yang penuh pengabdian, penanam kebaikan-kebaikan. Dulu para raja Jawa dan para bangsawan suka menampung
Polowijo, untuk apa? Untuk menerima kelebihan Gusti Allah yang tidak membeda-bedakan makhluknya, seperti nenek buyutmu. Dilanjut ibumu.
(SUARA ASLI)
Mereka punya keluarga? Paman Kunto mengangguk lalu melanjutkan bicaranya.
(MENGUBAH SUARA)
Ya, punya. Mereka disebut abdi dalem Polowijo. Mereka terdiri dari orang-orang bertubuh kerdil, albino, bongkok, pincang dan lainnya. Kesetiaan mereka
tak diragukan.
Raja-raja Jawa menjadikan mereka pengiring dalam acara jumenengan, grebeg, membawa perlengkapan uberampe. Kalau dikaitkan dengan wayang
mereka Panakawan setia.
(SUARA ASLI)
Jadi Mbah Kedasih?
(MENGUBAH SUARA)
Kedasih? Ya. Ada sebutan pujut atau cacat jasmani, ada Bhondan atau berkulit hitam, pendek, atau cebol. Wyal berpunuk, wungkul atau bongkok. Kau
belajar apa dari Kedasih?
(SUARA ASLI)
Membuat jamu dan mencintai lurik-lurik. Ya, menarik karena kalau membuat jamu suka menembang.
(MENEMBANG)
Rasa jamu manis, asem, sedikit pedas hangat, pedas pahit tawar, manis kembali.
Asam manis lambang hidup
Manis anak sampai dewasa
Sedikit pedas hangat lambang egoistis
Hidup sedikit pedas
Pedas manis lambang usia 19 – 21, labil.
Pahit lambang hidup.
Pahit harus dinikmati
Kunci sirih lambang
Setelah pahit akan datang kebaikan
Jamu penghangat lambang pengayoman
Jamu uyup uyub lambang pengabdian diri seutuhnya. Pasrah, tulus seorang hamba pada Tuhannya.
Jamu sium artinya sirep tanpa narpa, diam tanpa meminta apa-apa.
Kembali pada Tuhan dalam keadaan fitrah.
(TERJEMAHAN)
Rasa jamu manis, kecut, rada pedhes anget, pedhes, pait, hambar lan manis mareh.
Kecut manis nglambangake urip saka bocah cilik nganti dewasa
Rada pedhes lan anget nglambangke egoisme
Urip sing rada pedhes
Manis lan pedhes nglambangake taun-taun remaja. Sing ora stabil.
Pahit nglambangake urip, nanging pahit kudu dinikmati
Sirih nglambangake rasa seneng, sawise pahit jamu anget nglambangke pangayoman
Jamu nyiup nyiup nglambangake bakti kas lengkap pasrah lan iklase hamba marang Gusti
Jamu sium tegese lagi turu tanpa njaluke opo-opo
Bah menyang Gusti ing kahanan alam.
(TERGANTUNG KEMAMPUAN AKTOR, TEMBANG BISA DITEMBANGKAN LANGSUNG ATAU PAKAI SLIDE MULTIMEDIA DAPAT DENGAN TERJEMAHANNYA. KALAU SEMUANYA GAK BISA AKTOR HANYA MENDENGAR TEMBANGAN YANG DLANTUNKAN ORANG LAIN)

(KEPADA PENONTON)

Begitulah tembang jamu Mbah Kedasih.

Tembangan itu ajaran yang diwariskan sejak dulu. Aku sekarang buka usaha rumah lurik dan jamu Kedasih. Alhamdulillah, bertahap tapi pasti usahaku berkembang. Keluarga Mbah Kedasih diperkerjakan didalam usahaku. Ada Manyar, ada Kutilang, ada Beluka, nama panggilan mereka nama-nama burung. Mbah Kedasih bilang biar mudah manggil. Nama gak berarti kalau kelakuannya gak bagus, sekarang banyak nama bagus-bagus tapi kelakuan demit, begitu kata Mbah Kedasih.

Para Palawijan ini luar biasa pengabdiannya, pantesan nenek buyut juga ibuku meminta mereka mendampingi, begitu juga raja-raja Jawa dulu sampai sekarang. Dulu Keraton jadi pusat kekuasaan, sekarang keraton menjadi pusat kebudayaan. Itulah sebabnya aku memilih studi di kampus seni, menjadi desainer, penari dan wirausaha lurik dan jamu.

Terus terang banyak orang bilang, tuh lihat Sawitri tinggi-tinggi sekolah, eh jualan lurik sama jamu.
Biarin aja. Ketika aku dengar, aku tidak terlalu dipikirkan, ini duniaku. Lebih-lebih ketika aku memilih pacar dan akhirnya jadi suamiku, kang Selo Setiawan, hanya keturunan darah merah bukan darah biru, kata mereka, “mau-maunya” darah biru? Ah, itu kan hanya perasaan orang-orang trah-trahan yang paman Kunto bilang, itu “wong sing bangga karo payung lusuh”

Payung lusuh? (TERTAWA)

Bisa jadi karena itu aku pilih payung prasaja, ya kang Selo saja.

Pekerjaan kang Selo mencari barang antik yang berbau jadul, dari jasa itulah dia menghidupi aku. Dia juga punya warung, Jadulan namanya. Juga dibantu wong Palawijan, keluarga Mbah Kedasih. Suatu hari kang Selo pulang mencari barang antik, Rono Nogo Sakembar yang langka dan sudah dia dapatkan, minta dibikinkan jamu. Aku buatkan, tidak oleh Mbah Kedasih. Kang Selo tiduran dan tidak bangun lagi. (SEDIH)
Aku menguburkannya, aku adakan selamatan bersama para Palawijan. Kisahku mirip Dewi Sawitri. Bedanya Dewi Sawitri bisa meminta Dewata menghidupkan suaminya Satyawan, aku tidak. Aku sadar sekali bahwa manusia akan mati, ya manusia akan mati.
(TERDENGAR TEMBANG DAN GAMBANGAN SEBAGAI PENUTUP)
Manusia akan mati
Akan dihisab Tuhannya.
Iman Islamnya
Amal ibadahnya sewaktu hidupnya.
(TERJEMAHAN DALAM BAHASA JAWA)
Manungsa bakal mati
Dweke bakal di ukum deng Gusti Allah
Iman Islam pun
Tumidak pangibadah
Iku saumur uripe.

TAMAT

7 September 2025
Mengingat Hidup Waktu Maulud

SINDEN TAYUB
Baca Tulisan Lain

SINDEN TAYUB


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *