Topeng – Topeng (1)
Mereka datang dengan senyum rapih
bersetelan rapi, berbicara fasih.
Di balik sorotan kamera dan tepuk tangan
tersimpan gigil darah dan suara yang dimatikan.
Tangannya mencium bendera
namun kakinya menginjak nyawa.
Ia mengajar moral di podium kaca
sementara tamaknya mengiris bumi dan sesama.
Topeng mereka bukan dari kain
tapi dari gelar, pangkat, dan pencitraan.
Mereka tertawa di ruang pendingin
sementara hutan terbakar dan laut menangis sunyi.
Anak-anak kehilangan masa depan
tapi mereka menulis janji di atas papan.
Angka-angka yang dimanipulasi jadi dogma
sambil tangan yang lain merogoh uang rakyat tanpa suara.
Mereka duduk di kursi empuk
tapi hati mereka penuh rongsokan dusta.
Lidah mereka pandai berdansa
tapi lidah itu juga memotong hak manusia.
Di dunia ini
topeng bukan sekadar penutup wajah
tapi alat tukar antara kuasa dan kesalahan
antara dosa dan penghargaan.
Dan kita pun terbiasa bersalaman
dengan tangan yang tak tahu darah siapa yang melekat.
Sebab dunia kini lebih percaya topeng
daripada wajah yang jujur meski berlumur peluh.
8/6/25

PUISI Diro Aritonang
Topeng-Topeng (2)
Di istana cermin mereka menari
dengan wajah dari lilin dan mata dari kaca patri.
Setiap senyum adalah lukisan palsu
dipahat dari janji yang membatu.
Mereka bukan manusia
mereka bayangan yang lihai menyamar
menggenggam bunga dari racun
dan menabur garam ke luka yang mereka buat sendiri.
Mulut mereka melafal harapan
tapi lidahnya bercabang dua seperti ular tua.
Langkahnya membawa berkat di siang hari
dan membakar ladang di malam sunyi.
Hutan-hutan tak mengenal nama mereka
tapi mengenang bekas luka gergaji yang mengoyak akarnya.
Sungai-sungai tak mau mengalir lagi
sebab airnya penuh dengan tangis yang tak terdengar di televisi.
Mereka meminum darah dari gelas kristal
dan menyuap emas pada hati yang pernah bersumpah setia.
Korupsi mereka berbau dupa
dibalut dalam khutbah, rapat, dan kata ‘demi bangsa’.
Wajah mereka bersih
karena dosa diseka dengan protokol dan fotogenik.
Dan ketika rakyat berseru,
mereka pura-pura tuli di atas karpet merah janji.
Mereka membangun surga dari puing-puing neraka,
dan menyebutnya kemajuan.
Mereka menanam patung diri mereka sendiri
di taman yang dulu dipenuhi burung dan pohon rindang.
Di zaman ini
iblis tidak lagi bertanduk atau berbau belerang.
Ia berjas, berparfum,
dan hadir di layar dengan tangan yang selalu memberi hormat.
15/6/25









