Dalam sejarah bangsa ini, generasi muda berperan penting dalam lahir dan majunya Indonesia. Di masa lalu, para pemuda cerdas dan berprestasi secara akademik menjadi motor perubahan, dari ruang kuliah hingga ruang sidang, dari laboratorium ke mimbar publik. Mereka berkontribusi membangun sistem pendidikan, merumuskan kebijakan, bahkan menggagas arah masa depan negara.
Namun hari ini, kita menyaksikan lanskap yang berubah drastis. Banyak generasi muda yang menonjol bukan lagi mereka yang unggul dalam capaian akademik, melainkan mereka yang mahir memanfaatkan media sosial untuk membangun personal branding. Di sinilah terlihat pergeseran: dari substansi ke citra, dari prestasi ke eksistensi digital.
Mengapa ini terjadi?
Pertama, karena dunia kerja dan sosial saat ini lebih banyak memberi ruang pada mereka yang tampil. Kemampuan teknis sering kali dikalahkan oleh kemampuan mengelola narasi personal di ruang digital. Media sosial menyediakan panggung baru yang inklusif dan luas. Siapa pun bisa menjadi pusat perhatian, selama mampu mengelola persepsi publik. Tak sedikit generasi muda yang sukses tanpa rekam jejak akademik mencolok, tapi mampu membangun jaringan dan pengaruh melalui konten.
Kedua, generasi cerdas dan akademis tak selalu mendapat apresiasi yang pantas. Banyak di antara mereka yang ‘tenggelam’ karena tidak menguasai bahasa zaman: komunikasi digital. Ini menjadi ironi, karena kecerdasan tidak selalu diiringi visibilitas. Sementara mereka yang mahir tampil, justru mampu menarik peluang dan dukungan sosial yang lebih besar.
Ketiga, fenomena ini juga mengindikasikan adanya krisis orientasi. Ketika keberhasilan lebih banyak dinilai dari jumlah pengikut, viralitas, atau citra visual, bukan dari kontribusi nyata dan etika, maka kita perlu mengkhawatirkan masa depan ekosistem sosial dan intelektual kita.
Namun tentu saja, ini bukan soal benar atau salah. Dunia memang berubah. Yang perlu kita lakukan adalah menjembatani dua kekuatan ini: kecerdasan substansial dan kecakapan digital. Generasi yang mampu berpikir kritis dan berprestasi, sekaligus mampu menyampaikan gagasan secara efektif di media sosial, adalah harapan baru bagi bangsa ini.
Pendidikan tinggi dan institusi kebudayaan harus ikut berbenah: tidak hanya mendidik orang cerdas, tapi juga komunikatif dan adaptif terhadap zaman. Pemerintah dan media juga perlu memperluas ruang bagi intelektual muda untuk hadir di ruang publik, bukan hanya memberi panggung pada sensasi dan popularitas semu.
Bangsa ini butuh lebih dari sekadar selebritas internet. Kita butuh pemimpin yang berpijak pada nilai, bukan citra.
Semoga generasi muda Indonesia tak hanya ingin dikenal, tapi ingin bermakna.***









