FILOSOFI KIREJI DALAM HAIKU

filosofi 2

SERI ESSAI MINI

Dalam haiku Kireji bukan hanya penghubung larik. Lebih dari itu, kehadirannya sebagai pemotong sekaligus pemersatu. Kireji bersifat siproksikal (hubungan timbal balik) yang saling mempengaruhi dalam konsep 5-7-5. Metode dan tehnik kireji hanya membantu memahami proses penciptaan haiku secara nalar.

Namun hal itu tidaklah cukup, karena sesungguhnya kireji adalah “qalbunya” haiku. Kehadirannya tidak hanya bertumpu pada nalar, tapi pada intuisi yang terasah. Selain itu yang lebih penting lagi keberadaan kireji sangat tergantung dari ‘resources’ haiku yang hendak di kirejikan (dikontruksi). Hanya haiku-haiku yang sejati yang dapat disentuh dengan kireji.

Haiku yang sekedar bermain dengan kata-kata seringkali gagal disentuh kireji bahkan sia-sia. Hanya haijin yang berkemampuan mengasah intuisinya dengan intens dan jam terbang yang memadai akan mampu menghadirlan kireji yang jitu.

Kireji sejatinya sangat berbeda dengan kigo yang menuntut kepastian dalam konteks konsensus yang bersifat lahiriah. Sementara kireji kesejatiannya sangat personal. Itulah menariknya khasanah haiku…. Salam haikuKu. []

Sumbu Waktu
Baca Tulisan Lain

Sumbu Waktu


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *