Saya bertemu Roymon Lemosol. Penyelenggara Semesta memberi kesempatan perjumpaan kepada kami melalui sebuah acara sastra yang berlangsung hampir tiga hari, beberapa bulan lalu di Makassar. Perjumpaan tak terduga, kerapkali hanya melintas begitu saja. Pengetahuan baru bertumbuhan setelahnya dan saya terkejut, alangkah banyak yang tak semata. Tentu saja saya memahaminya sebagai suatu keniscayaan. Sebab perjumpaan dan perjalanan, bagi saya merupakan aktivitas membaca dengan cara yang berbeda.
Kami beberapa hari saja bertemu. Membaca sajak di antara kegiatan itu, berbicara dan tertawa dengan suara yang rendah di sela-selanya, dan minum kopi di malam hari, di bagian lain kota yang tak pernah tidur ini.
Sudah kesekian kalinya saya mengunjungi Makassar dalam kerangka agenda yang sama. Naik pete-pete, memasuki Fort Rotterdam –benteng peninggalan Belanda, sebuah situs yang menyimpan sejarah dan riwayat kolonialisme-, dan duduk bermalam-malam menghabiskan waktu di depan gedung kesenian bersama kawan-kawan lama dan baru.
Seusai berlangsungnya penutupan acara, Roymon menawari saya dan beberapa kawan lain untuk minum kopi di sebuah kafe yang agak jauh dari Losari, yang konon merupakan tempat nongkrong paling disukai anak-anak muda di kota pantai ini.
Di kafe dengan waktu yang sedikit itu, kami bertukar cerita tentang puisi, kegiatan komunitas dan gerakan literasi yang dilakukan di lingkungan kebudayaan masing-masing tempat kami tinggal. Roymon sesekali melepas pembicaraan, sedang Rudi Fofid banyak menjelaskan kepada saya tentang tradisi keindahan dan jejak sastra tulis di Maluku. Saya senang. Malam itu, dari kedua penyair yang santun ini pelan-pelan saya mulai memindai Maluku ke dalam pengetahuan saya.
Sekali pun telah banyak melakukan perjalanan, saya belum pernah ke Maluku. Begitu terbatasnya pengetahuan saya tentang Maluku. Maluku hanya saya kenali melalui peta, kisah pemberontakan RMS di dalam buku sejarah dan beberapa berita kerusuhan di media nasional ketika Orba berkuasa. Alangkah menakutkan sangkaaan dan stigma yang lahir dan disebabkan oleh citraan media terhadap sesuatu. Tapi kali ini, Roymon telah menarik perhatian saya.
Merujuk pada kesejarahannya, puisi adalah buah dari pergulatan antara penerimaan dan penolakan, pertarungan antara kebebasan dan ketertekanan, pertaruhan antara sintesa dan kesimpulan. Estetika pada dasarnya adalah pintu perbatasan, ambang yang mempertemukan antara kebosanan dan kejumudan. Dalam perspektif apa pun, estetika disepakati sebagai bentuk atau pola yang menampik narasi tunggal, memberontaki kemapanan dan menghancurkan kebenaran rezim. Bertolak dari pengetahuan ini, merupakan suatu kekeliruan bila estetika hanya dipahami sebagai keindahan semata. Sebab estetika membawa kemurnian nilai yang pada akhirnya memunculkan ‘keindahan’ pada apa pun.
Sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan telah merekonstruksi manusia dari zaman ke zaman. Sehingga terciptalah suatu identitas-esensial sebagai cermin universal alternatif yang suatu-waktu akan terasa, baik sebagai rangsangan entitas kesadaran, mulai dari pola pikir, adat-istiadat, sampai hasrat kultural yang menumbuhkan imaji-imaji sebagai kekuatan (power) dalam kerja kreatif-kolektifnya.
Puis-puisi Roymon Lemosol dalam kumpulan Luka dari Negeri Malam ini ditulis dalam rentang waktu yang relatif panjang, yakni 1998 sampai 2015. Beragam tema yang ditulisnya. Mulai dari permasalahan cinta yang sepele, sampai pada persoalan cinta yang besar, yang sudah tak asing lagi dalam kehidupan bersama. Mulai dari soal keserakahan, lingkungan dan spiritualitas, sampai pada keruhnya moralitas manusia dalam menghadapi globalisme-industri serta politik dan nasionalisme.
Kumpulan puisi ini dibuka dengan puisi Lagu Pilih Cengkih. Sebuah judul, yang telah menarik perhatian saya. Mengingatkan saya pada nyanyian-nyanyian di kampung. Saya turunkan puisi ini dengan penuh.
lagu pilih cengkih
lama tak kudengar senandung lagu pilih cengkih
mengalun dari bukit-bukit hijau di tanah seribu pulau
dari dahan-dahan cengkih yang kini lunglai dijerat benalu
lama tak kunikmati senda-gurau mungare- jujaro
gendong bakul tagalaya, pawela di bawah pohon-pohon cengkih
yang kini memar ditonjok belukar
lama sekali
sejak angin gunung tak mau lagi menyebar wangi bunga cengkih
pada kumbang yang banyak mereguk laba dari jatuhnya harga
Saparua, Juli 1998
Puisi di atas ditulis pada tahun 1998. Dalam puisi ini, Roymon mengambil citraan alam sebagai latar dan bangunan untuk letupan-letupan imajinya. Kekuatan imaji itu mengalun dari bukit-bukit hijau di tanah seribu pulau/dari dahan-dahan cengkih yang kini lunglai dijerat benalu. Tidak hanya ditulis dengan bahasa Indonesia, Roymon juga memasukkan diksi-diksi bahasa daerah, semisal; gendong bakul tagalaya yang berarti sejenis anyaman terbuat dari rotan atau bamboo untuk menaruh cengkih, mungare-jujaro yang berarti pemuda pemudi, dan pawela yang berarti berleha-leha. Di dalam puisi ini, sangatlah tampak, bagaimana seorang Roymon seperti seseorang yang tengah merindukan sesuatu. Sesuatu yang pernah ada dan begitu dikenalinya, yang kini raib sejak angin gunung tak mau lagi menyebar wangi bunga cengkih.
Di tengah tabiat ekonomi modern yang banyak melahirkan penyimpangan-penyimpangan, ketidak-adilan dan memunculkan perilaku monopoli, Roymon berdiri di kejauhan, menatap kampungnya. Sendirian, mengingat senda-gurau mungare- jujaro/gendong bakul tagalaya, pawela di bawah pohon-pohon cengkih/yang kini memar ditonjok belukar.
Penyair tumbuh dan mengakar dari lingkungan kebudayaan tempat ia tinggal. Mengasuh laku tubuh dan laku batinnya di antara penerimaan dan penolakannya. Di antara kemampuan dan ketidakmampuannya menghadapi keadaan dan berbagai peristiwa yang dipahaminya sebagai pergumulan atau pun gesekan-gesekan demi memperkaya rasa pirasanya. Pun juga pada perjalanan spiritualnya sebagai seorang manusia yang juga dianugerahi iman, lihatlah puisi Doa Seorang Pendosa, Roymon menulis kuperoleh akhirnya/yang pantas bagi ruh/setelah yesus menjauh. Sebagai seorang Kristiani yang baik, yang merindukan adanya Tuhan dalam laku hidupnya, betapa Roymon menghadirkan norma-religius yang dapat dipahami sebagai sebuah kesadaran ilahiah, setelah banyak melakukan kembara permenungan untuk menuju Sang Khaliq. Puisi Doa Sang Pendosa ini lahir sebagai jejak rekamnya terhadap pengalaman dan perjalanan seorang hamba yang sudah dan hendak dilaluinya. Pun juga dalam puisi yang saya turunkan penuh berikut ini:
mungkin
mungkin,
Yudas tak berniat mencari untung
ketika menjual Yesus
dengan tiga puluh uang perak
faktanya, tak sepeser pun ia nikmati
mungkin,
petrus tak berniat mengingkari janji
ketika disangkalnya Yesus
pada pagi-pagi buta
toh, ia pun mati sebagai martir Yesus
mungkin,
aku atau juga kau
tak berniat jadi pemabuk
ketika meneguk anggur darah
dalam pesta perjamuan
bukankah kita lebih suka dimabuk asmara
harta, pangkat dan kehormatan
daripada mabuk anggur darah?
segalanya adalah mungkin!
ambon, april 2012
Roymon menampilkan nilai-nilai religius dengan konteks kesejarahan. Tetapi puisi ini lebih memberi kesan tentang bagaimana gejolak batin yang dialaminya dalam dunia spiritual, ketika dikaitkan dengan persoalan-persoalan yang bersifat duniawi. Roymon membawa risalah penjualan Yesus oleh Yudas pada wilayah persoalan personal dan umum dilakukan banyak orang.
Si aku-lirik mengajak kita untuk merenungi kembali perilaku hidup dalam keseharian. Hal ini tampak pada larik mungkin/aku atau juga kau/tak berniat jadi pemabuk/ketika meneguk anggur darah/dalam pesta perjamuan/bukankah kita lebih suka dimabuk asmara/harta, pangkat dan kehormatan/dari pada mabuk anggur darah? Larik-larik puisi di atas ditulis melalui objek yang dihayati oleh penyairnya. Ia dihadirkan ke hadapan kita, menuntut penghayatan kita pada sesuatu yang segalanya adalah mungkin.
Dengan demikian segala persitiwa dimunculkan dengan memakai bahasa yang sangat sederhana sekali. Fakta ini menunjukkan bahwa Roymon memiliki perhatian dan kegelisahan yang cukup serius terhadap perkembangan dan laju kehidupan manusia. Baik dari sisi peradaban, kebudayaan dan sosial-politiknya. Penyair tidak hanya pemuja kesunyian tapi juga seorang yang memiliki empati terhadap masyarakat, bangsa dan tanah airnya. Maka, pantaslah jika para penyair memiliki perhatian terhadap penderitaan manusia di tengah-tengah tergerusnya nilai-nilai kesadaran. Perhatikan puisi yang saya turunkan penuh berikut ini:
senja di jakarta
senja di jakarta
jalanan tampak seperti lelah anak-anak sungai
mencari muara
mengalir pelan kendaraan
mengangkut beban
gelisah anak-anak sholeh mengejar adzan
jakarta, oktober 2013
Kota besar adalah manifestasi dari mimpi-mimpi kaum urban. Jakarta, selain sebagai ibu kota negara, pusat pemerintahan dan administrasi kenegaraan diletakkan, merupakan kota metropolitan dan kota urban terbesar di Asia Tenggara. Banyak orang berbondong-bondong dari berbagai pelosok daerah hijrah ke sana. Sehingga Jakarta dihuni oleh masyarakat multi-kultur dan multi-sosial. Jakarta menjadi pusat akses kehidupan modern di Indonesia. Gedung-gedung, pabrik, mall dan segala macam berdiri angkuh di bawah langit Indonesia. Hilir mudik kendaraan membikin macet hingga jalanan tampak seperti lelah anak-anak sungai/mencari muara.
Dalam puisi Senja di Jakarta, Roymon tidak mengetengahkan, bagaimana interaksi manusia modern yang menyibukkan diri dengan pekerjaan dan aktifitasnya. Adalah suatu keniscayaan bahwa ketidakpercayaan antara satu individu terhadap individu yang lain merupakan konsekuensi logis dari kehidupan kota. Berbeda dengan puisi di bawah ini:
hutan kota
pohon-pohon tak berdaun
tak berdahan
tapi bercabang
dan berakar cakar ayam
himpit-menghimpit
di antara bukit-bukit
ketika datang musim birahi
hujan dan badai bersetubuh
di rahan cabangnya
maka lahirlah banjir
lahirlah longsor
lahirlah panik
lahirlah lupa
lahirlah musnah
sedang di warung-warung kopi
politisi sibuk bicara suksesi
sambil sesekali mencari kambing hitam
pada reruntuhan jembatan
atau di barak barak pengungsi
tanpa memberi solusi
siapa mesti disalahkan
bila sungai jadi algojo
dan rumah jadi kuburan ?
daripada saling menyalahkan
baiknya kita menanam puisi
karena puisi menghijaukan hutan
birukan lautan
tapi dengan satu syarat
harus ditanam dengan kejujuran
ambon, oktober 2014
Hutan adalah sebuah tanah luas, di mana pohon-pohon dengan dedaunnya yang hijau melambai-lambai, suara hewan-hewan kecil, burung-burung saling bersahutan. Hutan dalam puisi Roymon ini adalah hutan yang sudah tidak memiliki itu semua, ia sudah menjadi ladang industri yang pohon-pohonnya tak bercabang/tak berdahan. Betapa sangat menyedihkan, sehingga lahirlah banjir/lahirlah longsor/lahirlah panik/lahirlah lupa/lahirlah musnah.
Ruang dan waktu menyuguhi kita dengan berbagai kemungkinan. Kehidupan melaju begitu cepat di luar kendali akal kemanusiaan. Berbagai keadaan kita telan, gembira bahkan kesangsiaan dapat kita rasakan kapan saja. Akhirnya Roymon mengajak kita untuk berpulang pada puisi. Karena baginya, puisi merupakan sebuah rumah teduh yang mampu memberi pencerahan dan kesegaran natural yang sesuai dengan apa yang dikehendakinya.
luka dari negeri malam
telah kucoba membalut
luka wajah negeri ini
dengan lembar-lembar surat suara
yang kulipat dengan rapi
bahkan kuolesi tinta yang tak mudah memudar
dari pemilu ke pemilu
tapi nanahnya masih melelh
oh agaknya telah menjadi borok
yang sulit disembuhkan
ambon, januari 2015
Puisi Luka dari Negeri Malam ini menjadi semacam kesimpulan dari seluruh perjalanan puitik Roymon Lemosol yang didokumentasikan dalam kumpulan tunggal ini. Roymon mengalami semacam pesimisme terhadap luka yang terus-menerus dialami negeri ini, akibat ketidakberesan sistem, dunia perpolitikan yang kacau-balau, yang telah menjadi borok/yang sulit disembuhkan. Nafsu serakah terhadap kekuasaan tentu saja akan membuat kita terjatuh pada jurang dan keterpurukan yang dalam.
Setiap kali saya membaca sehimpun puisi ini. Entah mengapa, saya tak bisa menafikan sebuah kenyataan yang saya alami. Kenyataan, di mana saya bertemu keduanya. Roymon dan puisi yang saling membaca. Keduanya saya jumpai dalam sehimpun puisi ini.
Tiba-tiba, saya teringat pada sebuah percakapan kami yang terbata-bata. Ada satu-dua kalimat Roymon yang membuat saya terkejut, ketika saya bertanya tentang gerakan literasi kawan-kawan dan bagaimana kehidupan sastra Indonesia di Tanah Pala. “Puisi tak bisa dipisahkan dari hidup kami, karena puisi telah ikut serta memberi andil besar atas terciptanya perdamaian di Maluku,” jawab Roymon. Saya tersentak saat itu. Ada rasa bahagia yang merebak hebat di dada saya. “Puisi telah mempertemukan banyak orang bersama gerakan sastra yang kami lakukan di sini,” ucap Roymon lagi. Saya senang dan saya bersyukur, puisi ternyata masih memiliki arti.
Begitulah sejarah mengajari kita bagaimana seharusnya menghargai kehidupan ini. Selamat membaca Roymon Lemosol dalam sehimpun puisi Luka dari Negeri Malam ini.
Bojonegoro, Januari 2015


