Sore itu langit berubah dengan sangat cepat jadi gelap. Deras hujan, membasahi jalanan aspal dan menciptakan banyak genangan kecil. Cahaya lampu kendaraan terpantul di atas genangan air tersebut. Sari berjalan pulang menuju rumah sambil memegang payung yang agak miring. Tas kerja di pundaknya terasa sangat berat. Tubuh Sari merasa lelah setelah ia mengajar murid-murid di kelas seharian penuh. Meskipun lelah, ia tetap melangkahkan kaki dengan sabar seperti biasanya.
Sari sampai di depan pintu rumah lalu ia berhenti sebentar. Ya, jarak yang tak begitu jauh dari rumahnya hanya sekitar setengah kilo meter saja. Seterusnya Sari menarik napas panjang untuk menenangkan pikirannya; ya, Sari tahu bahwa pekerjaan rumah tangga sudah menunggunya di dalam sana. Begitu Sari membuka pintu, anak-anaknya langsung mendekat ke arahnya: “Ibu, aku merasa lapar sekali,” kata anak sulungnya dengan nada manja. “Ibu, hari ini kita akan memasak apa di dapur?” tanya anak bungsunya yang masih kecil.
Sari tersenyum tipis kepada kedua anaknya. Ia melepas sepatu kerjanya secara perlahan karena tumitnya terasa sangat pegal. Ia meletakkan tas kerjanya di atas kursi kayu. Sari kemudian berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makanan. Di sana, ia melihat piring dan gelas kotor sudah menumpuk di dalam wastafel. Air bekas cucian menggenang di dalam bak tersebut. Beberapa piring masih terlihat berminyak dan sendok-sendok tergeletak tidak rapi. Sari melihat pemandangan itu sebentar, laju Sari mulai mencuci piring tanpa banyak berpikir.
Hujan di luar rumah terdengar semakin deras menimpa atap, tapi hal itu tak tersasa lama, seketika seolah mereda—fluktuatif bak nilai rupiah terhadap dolar. Meski demikian, tetap saja suara air hujan mampu memenuhi seluruh ruangan di dalam rumah mungilnya itu. Sari tetap mencuci piring dengan tekun, tetapi pikirannya melayang ke mana-mana. Ia belum memeriksa tugas-tugas milik muridnya di sekolah. Ia juga belum menyelesaikan rencana pembelajaran untuk esok hari. Sari sempat melirik ke arah jam dinding yang terus berdetak. Waktu terus berjalan maju, sementara tenaga di tubuhnya terasa semakin berkurang.
Maghrib pun tiba di lingkungan rumah mereka, Sari berangkat ke masjid mengajar anak-anak kompleks mengaji di masjid samping rumahnya sampai bada isya. Kegiatan rutin ini sudah dilakoninya sejak kali pertama Sari pindah rumah. Baru saja merebahkan tubuh di atas Kasur, suara mesin motor berhenti tepat di depan pintu rumahnya. Sari menoleh ke arah pintu dengan perasaan cemas. Damar masuk ke dalam rumah dengan kondisi baju yang basah kuyup. Wajah suaminya terlihat sangat lelah malam itu. Damar meletakkan tas besar yang berisi sampel rokok di sudut ruangan. Tas itu masih tampak penuh karena barang dagangannya tidak laku terjual.
“Rokoknya belum laku lagi, Mas?” tanya Sari pelan sambil memberikan segelas air hangat. Damar menggelengkan kepalanya dengan lemah. “Pemilik warung-warung itu masih memiliki banyak stok rokok,” jawab Damar dengan singkat. Suaranya terdengar sangat pelan karena ia merasa kecewa. Ia tidak ingin memberikan banyak penjelasan tentang kegagalannya hari ini. Seterusnya, Sari tidak bertanya lagi kepada suaminya. Ia segera mengajak Damar untuk makan malam bersama. Mereka duduk di beranda, duduk berhadapan di atas meja kecil dengan lauk yang sangat sederhana. Mereka tidak banyak bicara dan hanya menyantap makanan seperti biasanya. Setelah selesai makan, Damar menatap wajah Sari dengan serius: “Sar, apa aku harus mencari pekerjaan lain saja?” tanya Damar dengan suara yang lirih. “Aku merasa tidak berguna kalau aku pulang terus tanpa membawa hasil uang.”
Sari berhenti merapikan piring di atas meja. Ia duduk di kursi tepat di depan suaminya. “Mas, kamu sudah berusaha bekerja dari pagi sampai sore hari,” kata Sari dengan suara yang lembut. “Tidak semua hari di dunia ini harus berakhir dengan keberhasilan.” Seketika Damar menundukkan kepalanya ke arah meja. “Tapi kebutuhan hidup anak-anak kita terus berjalan setiap hari,” kata Damar lagi. Seketika, Sari menggenggam tangan suaminya dengan erat. “Kita jalani kesulitan ini bersama-sama, Mas. Kita tidak menanggung beban ini sendiri-sendiri,” ucap Sari meyakinkan. Ia tersenyum kecil kepada Damar. “Kita masih punya cukup uang untuk kebutuhan beberapa hari ke depan. Jadi kamu jangan merasa gagal sendirian di rumah ini.” mendengar jawaban seperti itu dari Sari, seketika Damar menarik napas panjang setelah mendengar perkataan istrinya. Wajahnya terlihat sedikit lebih tenang daripada sebelumnya. “Terima kasih banyak, Sar,” kata Damar dengan pelan.
Di luar rumah, suara hujan mulai mengecil menjadi gerimis halus. Sari berdiri di dekat jendela rumah sebentar. Ia tahu bahwa hidup keluarga mereka belum menjadi mudah. Besok pagi, piring-piring di dapur akan menjadi kotor lagi. Tugas-tugas sekolah dari muridnya akan menunggu untuk dikerjakan lagi. Semua rutinitas itu akan berulang kembali seperti biasa. Namun, Sari merasa tenang saat melihat anak-anaknya sudah tidur dengan nyenyak. Ia juga lega karena beban di hati suaminya mulai terlihat lebih ringan. Ada rasa hangat yang tumbuh di dalam diri Sari malam itu.
“Besok kita coba berjuang lagi, Mas,” ucap Sari dengan pelan kepada Damar. “Kamu berangkat kerja mencari pembeli, dan aku berangkat mengajar ke sekolah.” Pungkasnya. Seterusnya Sari tersenyum kecil di balik jendela. Ia tersenyum bukan karena semua keadaan sudah menjadi baik. Ia tersenyum karena ia memilih untuk tetap bertahan dan tidak menyerah. Di rumah kecil itu, Sari mengerti satu hal yang sangat sederhana. Selama mereka masih bersama dan masih mau berusaha, hidup tetap bisa dijalani satu hari lagi.









