Tuhan selalu memberikan kejutan yang tak terduga. Sepertihalnya dalam alur hidupku. Tiba-tiba saja suami ada yang memberi seekor burung perkutut. Anehnya, bulu dadanya itu terbelah dua dari mulai leher sampai duburnya dan kalau tidur selalu di atas tempat menyimpan makanannya. Suaranya melengking keras bila menjelang pagi dan menjelang senja.
Sebelumnya aku mendapatkan panggilan untuk kuliah gratis dari pemerintah pusat. Perihal kuliah sertifikasi profesi. Tak terasa, tepat satu bulan lebih kuliah daring, aku tak mendapatkan haid. Singkatnya aku beli tespek. Laju konsultasi ke bidan di puskesmas. Kata bidan, baru isi satu minggu. Ya, benar adanya, bahwa Tuhan itu selalu memberikan kejutan yang tak terduga.
Di satu sisi, Tuhan kembali memberikan kepercayaan kepada kami. Di sisi lain, betapa sulitnya membenahi ekonomi keluarga. Meski benar adanya, setiap makhluk yang diturunkanNya ke bumi, lengkap dengan jaminan rezekinya. Ya, nikmat manalagikah yang harus aku dustakan? Apakah kelak dengan lulusnya aku dari pendidikan profesi guru, statusku akan diangkat dari guru honorer menjadi p3k atau masih berjenjangkah?
Entahlah. Terang dan jelasnya itu, Tuhan kembali memberikan kepercayaan kepada kami. Sebagaimana hari-hari lewat dengan cuaca yang tidak menentu. Semestinya ini musim kemarau, tapi hujan begitu asyik menyirami bumi. Riang para petani mengolah ladang dan sawah kian menghijau dalam pandangan mata, penanda subur dalam musim tandur dadakan.
Di dalam kalang hujan: Ada yang merapat. Ada yang menjauh. Mungkin, Tuhan sengaja menjauhkan kami dari aktifitas biasanya, barangkali supaya lebih fokus dalam mengayomi yang bakal lahir ke bumi. Kenapa pula teringat pada ucapan ulama, yang berkata: “Ketika Tuhan jauhkan beberapa orang disekitarmu, sebab Tuhan mendengar percakapan yang tidak kamu dengar. Meski memang rezeki kian terasa menyempit, tetapi rezeki dari Tuhan itu pasti cukup untuk hidup. Namun tak akan pernah cukup untuk gaya hidup.”
Benar apa kata Sayyidina Ali: “Bila air yang sedikit bisa menyelamatkanmu dari rasa haus, tak perlu minta air yang lebih banyak, yang barangkali dapat menenggelamkanmu. Maka selalulah belajar cukup dengan apa yang kaumiliki.” Ya, tak perlu hujan deras untuk membuktikan kekuatan, karena rintik yang lembut pun mampu menumbuhkan tunas. Dan pada akhirnya kehidupan di alam pikiran kita sendirilah yang hancur, sebagaimana hidup tak pernah meminta izin untuk mengaduk kita di antara tawa dan luka. Padahal pikiran itu banyak tidak tahu ketimbang tahunya.
Di luar jendela, hujan kian rapat saja, yang memaksaku belajar bagaimana cara bersikap dan bertahan dalam situasi yang tidak diinginkan. Dan tidak semua kebisuan itu kalah karena yang tenang tidak butuh tepuk tangan —tidak lagi tertarik membuktikan apapun ke siapapun sebagaimana air sungai yang merendam bebatuan tanpa dendam. Sadarku, aku perempuan yang dicipta bukan untuk menguasai langit, tapi untuk bersetia pada alurnya. Sungguh, aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amal yang diterima:
Allahumma Lakal Hamdu Waminkal Farju Wa ilaykal Musytaka Wabikal Musta’an. Allahumma lakalhamdu wa ilaikal musytaka wa antal musta’anu wala haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim. Mohon dengan sangat. Ya, meski kita semua punya batas, entah batas wajar, sabar ataupun sadar. Sebagaimana tujuh merpati laut terbang. Enam hilang ditelan badai. Satu selamat. Bagaimana menyimpan rasa itu di lubuk nurani?
Seperti pagar bambu rumah ini, ia menua bersama waktu. Bambunya tak lagi segar, tapi tetap menunggu siapa saja yang ingin pulang. Bau keringat yang belum kering, dan rangka tangga besi kosong ke atap di depan pintu rumah. Tangga kosong itu tak pernah pergi. Hanya diam, menjaga kenangan. Dan pada kesunyataanya rumah itu bukan perihal bangunan beratap yang dialasi lantai granum, melainkan tempat dimana kita dapat merasa pulang dan melarung.
Aku tuliskan renung ini kala suamiku tertidur lelap dari lelahnya jaga malam. Ya, apa yang pernah suami tuliskan itu benar, bahwa: “Tidak ada kebersamaan yang abadi. Satu persatu akan pamit pada saatnya nanti. Hargailah kebersamaan sebelum waktu mengajarkan arti kehilangan. Teruslah melangkah dan jangan pernah menyerah, karena tidak ada hidup tanpa masalah dan tidak ada perjuangan tanpa rasa lelah. Dan itulah proses hidup; kadang manis. Kadang pahit. Kita hanya perlu bersabar dan bersyukur, serta berjuang untuk lebih baik yang diiringi dengan doa dan usaha.”
Ya, sebagaimana di ini hari aku begitu merasa bahagia meskipun kekayaanku hanyalah kaca-kaca yang tembus cahaya dan semesta membaca. Aku yang kehilangan sketsa. Mungkin inilah alasan Tuhan guna bisa mempertemukan kami dengan hal-hal yang indah di masa depan, sembari membawa kehidupan ke tanah-tanah yang kering harap:
Bukankah Tuhan selalu memberikan kejutan yang tak terduga? []









