ABSTRAK

bruang 1

Aku ingin banyak uang. Namun bukan berarti jadi beruang. Soalnya adalah aku ingin memasuki banyak ruang bukan sekadar berbagi uang. Bukan juga ingin membuang. Toh dengan banyak uang apa pun bisa tertuang dan meruang.

Ngomong-ngomong tentang uang, siapakah yang tak doyan bergelimang? Timbang menimang; jalan-jalan berlubang. Ada banyak kubang dalam kehidupan lengang yang telanjang, sebelum akhirnya kejang-kejang baik di atas ranjang pun di sembarang juang.

Juang atawa berjuang bukan berarti kurang, sebab mayor orang bergentayang di waktu senggang dengan alasan melepas tegang. Meski banyak juga yang ngajegang dalam telanjang perjuangan, hal itu sebagai penanda kebutuhan yang harus diseragamkan.

Katakanlah perihal makanan bukan sekadar kekenyangan, melainkan ada kesenjangan. Pada akhirnya kemarahan bukanlah kebencian melainkan penyelesaian dengan dalih peremajaan. Siapakah yang harus dipersalahkan dalam pencarian?

Ketegangan jadi bumbu perserikatan. Sebagaimana deretan peristiwa bisa menambah wibawa sekaligus bisa juga menjadi jemawa. Sebelum ledak tawa marilah memburu satwa yang bersemayam di dalam raga. Bukan berarti juga salam olahraga.

Gara-gara bara rusak juga nektar sebelanga. Mengangga di sudut sungkawa bisa jadi batu loncatan dalam menuju proses pendewasaan. Di atas perapian segalanya menjadi kecemasan yang bisa juga dikata sebagai kemasan yang merungsingkan.

Ikan-ikan diternakkan sebagai mana iklan-iklan disuburkan demi adanya pemasukan; demi kesejahteraan yang bukan sekadar hayalan semata. Mata-mata menata dalam satu cerita demi adanya bukti dalam mengawasi satu narasi.

Ngomong-ngomong perihal nasi itu enak juga dimakan dengan terasi. Ini bukan soal tentang basa-basi sebab penjaga punya keluarga yang harus bisa berlaga demi masa depan seirama sesuai dengan makna nama dalam tafsir sempurna magma.

Agama serupa lentera dalam diri yang membara menerangi segenap rasa. Jasa dibalas jasa. Budi dibalas budi. Kenapa harus ada balas jasa dan balas budi segala? Ngomong-ngomong tentang laga, siapakah yang bakal lega? Mega-mega lagi.

Sekali lagi: Aku ingin banyak uang. Namun bukan berarti jadi beruang. Soalnya adalah aku ingin memasuki banyak ruang bukan sekadar berbagi uang. Bukan juga ingin membuang. Toh dengan banyak uang apa pun bisa tertuang dan meruang.

Kutang-kutang menggantung di kaki lima bukan masalah murah dan mahalnya; lagi-lagi perihal uang. terang-terang benderang jika uang ada di tangan. Melewati hari terasa ringan. Beban dunia nampak hilang dari pandang dan kumandang.

Ladang-ladang berbagi prosedur yang diritualkan untuk produksinya. Ini musim tandur bagaimanakah kaitannya dengan berbagai hubungan kekuasaan? Meski masih terbuka kemungkinan untuk menghubungkannya dengan sebuah arkeologi pengetahuan geografis dalam lelang.

Belang-belang ular di sawah. Berang-berang bermain air limbah. Siapa yang menabur wabah, meski tahu disiplin dan hukuman. Pada hakikatnya memang hanya itulah yang bisa dilakukan. Fenomena yang sering terlihat di mana-mana bertujuan mencari kekhasan demi tertutupi pengeluaran.

Kotoran-kotoran hanya membahas sejarah kebijakan perundang-undangan. Bebas dari sejumlah penyimpangan. pemakaian referensi dan contoh dari tempat lain semisal dari ruang-ruang perkantoran. Sebagian memang terdapat di luar perjuangan.

Seperti itulah gerbong-gerbong ketegangan. dari sini kita mulai bersentuhan dengan masalah metode sekaligus paksaan-paksaan materi, yakni kemungkinan bagi setiap orang untuk berusaha mencari peluang; membahas seluruh lingkup ruang-waktu yang ada.

Maka dari itulah aku ingin banyak uang. Namun bukan berarti jadi beruang. Soalnya adalah aku ingin memasuki banyak ruang bukan sekadar berbagi uang. Bukan juga ingin membuang. Toh dengan banyak uang apa pun bisa tertuang dan meruang.

GENCATAN SENJATA
Baca Tulisan Lain

GENCATAN SENJATA


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *