MIMPI SALMA DAN CERITA TENTANG LUMPUR

nelayan jadi e1758079130452

Pagi ini, seperti biasa, aku bawa hasil melaut ke Geladak  (tempat pelelangan Ikan) untuk aku jual. Setelah selesai, aku duduk di  Balai Kambang  untuk melepas penat, setelah semalaman melaut.

Namaku Salma, satu-satunya gadis di desa ini yang suka melaut. Ketika gadis seumuranku lebih suka merias diri dan bersenang-senang bersama teman-temannya, aku melaut demi mencukupi kebutuhan ibu sehari-hari dan membiayai kuliahku sendiri.

“Cacakmu nang endi?”

Yu Narti, penjual es batu di Geladak menyapaku.

“Cacak sakit, Yu. Sudah 2 hari ini,”

Biasanya aku melaut bersama kakak dan pamanku. Tapi sejak kakakku sakit, aku melaut bersama paman dan sepupuku.

“Loro opo?” Yu Narti kembali bertanya.

“Terpeleset saat menjaring ikan, Yu. Kaki kanannya bengkak dan sulit untuk berjalan,”

“Lha wes diperiksakno urung?”

“Nanti sore, Yu. Aku balik dulu,” jawabku, sembari melenggang, meninggalkan Yu Narti yang sedang membersihkan tempat es batu.

Aku pulang ke rumah untuk bersih diri dan berniat ke kampus. Hari ini ada jadwal mata kuliah pagi. Di rumah, kujumpai ibu sedang menyiapkan makanan. 

“Tangkapan hari ini gimana, Nduk?“

“Tak seperti kemarin, Bu,” jawabku landai. Hari ini tak banyak yang kami dapat.

“Wes ndak popo, Nduk, disyukuri ae. Wes nang mandi, terus sarapan,”

Pagi ini aku berangkat ke kampus membawa Vespa Kongo peninggalan ayah. Di kampus, kujumpai teman-temanku tengah membicarakan berita tentang seorang nelayan beserta istrinya yang meninggal di laut dengan perahu terbalik dan ditemukan oleh nelayan setempat.

Kabar seperti itu, bagiku tidak asing di telinga. Aku terus berjalan melewati mereka dan menuju kelas untuk mengikuti mata kuliah linguistik bahasa. Kegiatan kuliah berlangsung seperti biasa.

Seusai kuliah, aku kembali menuju ke rumah. Kupikir aku bisa segera mengistirahatkan tubuh dan pikiran saat menjumpai tempat tidur. Di rumah, kulihat seorang laki-laki paruh baya, berdandan staylish, berbau harum dan didampingi dua pemuda bertubuh dempal. Mereka duduk di ruang tamu dan berbincang dengan ibuku.

“Assalamualaikum,”

“Waalaikum salam… Salma?” laki-laki itu segera menjawab salamku dan terkejut saat melihatku.

Kau sudah besar sekarang,” sambutnya.

Aku mengerutkan keningku, sembari bertanya-tanya sendiri dalam hati, siapakah laki-laki ini yang nampak akrab sekali dengan ibuku?

“Salma, ini Pak Arifin, sahabat dekat bapakmu. Beliau menawarkan pekerjaan buatmu, supaya kamu tidak melaut lagi,” tanpa basa-basi, Ibu memperkenalkan laki-laki itu. Kembali kukerutkan dahi dan bertanya-tanya sendiri. Aku terduduk samping Ibu dan kami ngobrol panjang lebar.

Pak Arifin seorang pemborong dan agen property. Beliau tinggal di Jakarta. Aku ditawarinya untuk ikut dan membantu pekerjaannya. Dengan halus, tawaran Pak Arifin kutolak. Satu-satunya alasanku memilih untuk tetap di sini lantaran janji.

“Di desa Lumpur ini, aku ngin menjadi pedagang wanita pertama yang sukses tanpa harus ikut siapa pun, tanpa diatur. Begitu ucapku dulu pada bapak,” ucapku.

Kepada Pak Arifin, kusampaikan semua keinginanku, hingga beliau justru mendukungku dan berencana meminjami modal yang cukup, suapaya aku bisa segera membangun usahaku sendiri. Dukungannya seperti angin segar buatku. Hari mulai petang dan Pak Arifin berpamitan.

Sepeninggal beliau, aku mulai memikirkan rencana yang akan kulakukan, hingga ibu mengejutkanku, menepuk bahuku.

“Kamu melamun apa sejak tadi, Nduk? Apa ndak ngaji? Ini hari Kamis, lho. Sudah lama ibu lihat kamu ndak ngaji,”

Sudah menjadi kebiasaan, tiap Kamis malam aku mengunjungi makam Sunan Giri dan makam Nyai Ageng Pinatih. Tujuannya adalah kirim do’a semoga dapat barokah.

Waktu berlalu. Bulan pertama, bulan kedua, bulan ketiga dan seterusnya. Usaha yang kurintis sebagai tengkulak ikan dan udang berjalan dengan lancar. Bahkan, akhirnya aku bisa menjual hasil tangkapan nelayan hingga ke luar kota. Tak puas sampai di situ, aku mencoba membeli perahu dengan harapan bisa disewakan untuk ojek laut.

Akhirnya aku menepati janjiku pada bapak. Di desa Lumpur tempat aku tinggal, aku dikenal sebagai seorang perempuan muda pertama yang sukses. Kakak dan pamanku yang sebelumnya melaut bersamaku, kini membantu mengurus usahaku.

Di tengah karirku, aku bertemu seorang pemuda yang mandiri, tegas dan baik. Namanya Ali. Dia tinggal di desa Gumeno.

Lingkungan di desa dan keluarga besarku masih mempercayai tradisi larangan menikah antar desa. Bila ada yang melanggar, maka hidupnya akan sengsara. Begitulah orang-orang di desaku, termasuk keluarga besarku mengamini kepercayaan ini.

Sebelum ayah meninggal dulu, beliau pernah bercerita tentang perang antara dua orang sakti dari dua desa, yaitu Desa Lumpur dan Desa Gumeno. Konon, orang sakti yang berasal dari desa kami, Mbah Sindujoyo berperang dengan Mbah Gumeno. Mbah Gumeno kalah, sedangkan pasukan Mbah Sindujoyo terbunuh. Lalu Mbah Sindu berpesan, jangan ada yang menikah dengan orang Gumeno. Berulang kali larangan ini dilanggar dan berulang pula mereka yang melanggar hidup sengsara.

Tapi aku? Bagaimana denganku yang tak bisa meyakini mitos ini? Bukankah hidup harus diperjuangkan, sekali pun tak selalu berjalan seperti yang kita inginkan? Dan pernikahan, bukankah aku dan pasanganku yang menjalani bahtera kelak?

Hari Ahad besok kukira adalah hari yang baik untuk mengenalkan Ali pada keluarga besarku. Kupikir ibu dan kakakku tentu mendukung keputusanku. Hari Ahad pun tiba. Aku minta Ali datang untuk melamarku. Dia menyanggupi.

Tepat ba’da Isya’, Ali berdiri di depan pintu.

“Asslamulaikum,”

“Waalikum salam. Wah, Nak Ali. Silakan duduk, ibu panggilkan Salma,”

“Bu, kedatangan saya kemari ingin bicara dengan Ibu,” Ali memulai pembicaran dengan nada terbata-bata.

“Bu, bolehkah saya melamar Salma?” sambungnya.

Di balik tembok, aku mendengarnya bahagia. Mataku berbinar, sembari menunggu jawaban Ibu dengan degup jantung yang tak beraturan.

“Maaf, Nak Al. Ibu perlu membicarakan ini dengan keluarga besar. Nak Ali dan Salma sama-sama tahu, bila adat desa melarang pernikahan ini,”

“Bila melanggar, kalian tahu resikonya, bukan?” ibu melanjutkan pembicaraannya, airmatanya mulai tumpah.

Sekian detik aku terdiam, tak mampu berbuat apa-apa.

“Bu, bukankah itu hanya mitos?” aku tak tahan, akhirnya aku duduk di antara Ali dan Ibu.

“Mitos bagaimana? Kamu tahu anak Yu Fadilah? Baru 3 bulan menikah, suaminya meninggal karena kecelakaan dan anaknya mengalami keguguran sebelum 40 hari suaminya. Anak laki-laki Yu Mirah, pernikahannya belum genap setahun, isterinya mengalami gangguan jiwa. Bahkan, anak Yu Mirah meninggal saat melaut,’  Ibu memberondongku.

“Percayalah, Bu, itu hanya mitos! Ibu masih ingat saat mengikuti pengajian di masjid Sunan Giri, kan? Waktu itu pak ustadz menyinggung soal Hadits Qudsi, Aana ‘inda dzonni abdi bi yang artinya aku sesuai prasangka hambaku. Bila kita meyakini suatu hal akan terjadi, maka benar-benar terjadi. Begitu juga sebaliknya. Salma hanya perlu restu, Bu. Salma hanya perlu doa Ibu,” ucapku merajuk dan memeluk ibu.

Ibu mengibaskan tangannya, menghindari pelukanku. Beliau meninggalkan kami di ruang tamu, masuk kamar dan membanting pintu. Ali kemudian pamit.

Sejak itu ibu tak pernah mengajakku bicara.. Entah apa yang dirasakan ibu. Setahun sejak peristiwa itu, hubungan kami tetap tak membaik. Ibu selalu menghindar dariku, hingga kuputuskan untuk meninggalkan rumah dan menikah dengan Ali.

Kami telah menetap di rantau, dikaruniai 3 orang anak yang lucu dan sehat. Kami berhasil membangun beberapa usaha. Aku kerap menghubungi ibu melalui surat dan  telfon, tapi ibu tak menggubrisku.

Suatu hari di bulan Mei, kuterima sepucuk surat dengan tangan bergetar. Dari Ibu. Begitu alangkah kebahagiaanku di mata, menyaksikan bayangan ibu yang mungkin merindukanku. Pelan-pelan surat kubuka. Sebuah kertas dengan tulisan tangan ibu.

“Salma, bila kau sudah menceraikan Ali, bolehlah kamu pulang menemui Ibu”

IBU

Gresik, 2023

PULANG
Baca Tulisan Lain

PULANG


Apakah artikel ini membantu?

Tulisan Lain dari Penulis :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *