MELUKIS TAKDIR

KUSAINI

Angin malam mengusap lembut dinding rumah Kusaini yang reyot. Lampu minyak di sudut ruangan yang sesekali tersapu angin purba—seakan menggigil dalam nyalanya—seolah menahan tangis malam itu. Semantara itu, di sebuah ranjang tua yang bau kayunya telah menyatu dengan aroma keringat dan doa, ibunya terbaring lemah.

Kusaini yang duduk di sisi ibunya, ia begitu telaten mengurus ibunya; sepasang tangannya memeras kuat handuk kecil, lalu meletakkannya secara perlahan dan apik di dahi ibunya yang telah menjadi langit dan bumi dalam hidupnya. Napas ibunya berat, matanya sesekali terbuka hanya untuk menyampaikan kasih yang tak bisa lagi ia ucapkan dengan jelas.

“Ibu, jangan mikir apa-apa ya… Ibu hanya perlu sembuh. Semua biar Kusaini saja yang urus,” bisik Kusaini, meski pelan, suaranya tetap saja mampu memecahkan heningnya malam.

Ibunya tak menjawab. Hanya gelengan pelan penanda setuju, akan tetapi senyum yang terkoyak rasa sakit tak bisa membodohi Kusaini. Kontan saja, Kusaini menahan tangisnya, mengambilkan air, menyuapkan sedikit demi sedikit. Dalam sisa tenaganya, ibu itu berkata:

“Kusaini… Ayahmu dulu lelaki yang berani dan setia. Seperti kamu. Meski miskin, tapi kami tak pernah merasa kekurangan…”

“Ibu, jangan bicara seperti itu. Ibu harus kuat. Saya akan panggil ustadz…” Tangan keriput ibunya menahan pergelangan tangan Kusaini, lirih namun hangat:

“Kalau nanti ibu tak bisa mendampingi lagi… kamu jangan berhenti berjuang, ya, Nak. Sekolah atau tidak, belajarlah dari hidup. Satu hal yang penting dalam hidup ini, jangan pernah tinggalkan shalatmu, apa pun kondisinya…” ucapnya dengan notasi yang sedikit samar dalam pendengaran Kusaini.

Sesaat kemudian, tubuh ibunya lunglai. Dan keheningan yang tak bisa diucapkan dengan bahasa, perlahan turun seperti kabut dan waktu seolah menggantung di udara. Kusaini menggenggam tangan ibunya yang mulai dingin — meratap seolah suaranya mampu membelah langit malam yang sepi dari pelayaran hidup orang-orang dalam mengais rezeki.

Malam itu ibunya melangit sudah dalam pangkuan Kusaini.

**

Malam tahlil yang sunyi, selepas semua tamu pulang. Kusaini terduduk di ruang tengah. Cahaya lampu kerosene bergoyang lesu.

“Tuhan…” katanya sambil menatap tajam pada langit-langit rumah, “Kenapa kau ambil satu-satunya yang kumiliki?” Bedah tangisnya membasahi sajadah, sudah.

Di tengah jerit batinnya, Ustadz Bukhari yang sedari tadi memperhatikannya, mau tak mau menghamiri. Ia mendekat, meletakkan tangan di kepala Kusaini yang terisak tak berdaya: “Kullu nafsin dzā’iqatul maut. Setiap yang hidup akan merasakan mati.”

Kusaini menatap wajah ustadz yang selalu lembut. “Aku… tak punya siapa-siapa lagi.”

“Kalau kau mau,” kata Ustadz Bukhari, “tinggallah bersamaku. Aku akan jadi ayahmu.” Mendengar jawaban seperti itu, kontan saja Kusaini memeluk lelaki itu seolah memeluk kedua orang tuanya.

**

Hari-hari baru bermula, seolah kembali terlahir ke bumi: Kusaini belajar mengaji, mengeja huruf demi huruf. Ia belajar membaca dari Hasan, sahabatnya yang sekolah. Anak-anak lain pun bergabung: Siti yang pemalu, Yacup yang lucu dan gemar bertingkah bodoh, sementara Sari yang cerewet.

Ya, bersama merekalah Kusaini belajar. Ada kebiasan sebelum mengaji, selalu diawali dengan main bersama. Hal itu menjadi rutinitas kecil yang penuh tawa.

“Pak Ustadz,” tanya Kusaini suatu malam, “benarkah Nabi Muhammad tidak bisa membaca?”

“Benar,” jawab Ustadz sambil tersenyum, “tapi dia jujur dan amanah. Dunia percaya pada kejujurannya. Ilmu tanpa akhlak tak akan memberi manfaat.” terangnya.

**

Detik yang terus berjalan merambati sisa usia bumi: Kusaini mulai mengenal arti cinta secara diam-diam. Siti—putri Pak Ustadz—selalu hadir dengan teh manis di saat yang tepat. Kusaini gugup tiap kali melihatnya; bahkan sempat salah ambil teh sang Ustadz.

“Itu teh saya, Kusaini,” sergap Ustadz dengan penuh muatan surti.

“Oh, i-iya, maksud saya… manisnya… pas…” jawab Kusaini salah tingkah.

Ya, sebenarnya pak ustadz sudah tahu perubahan psikologi Kusaini. Namun ia membiarkannya tumbuh tanpa harus mengarahkannya, sebab baginya cinta itu anugrah yang harus bisa ditemukan dan disikapi oleh masing pribadinya.

**

Hari-hari para santri yang belajar ngaji di surau sederhana, miliknya pak ustadz itu semakin memperlihatkan kekompakan. Disamping belajar ilmu agama, mereka pun diarahkan dalam membantu di ladang, belajar melukis. Bukan sekadar melukis kaligrafi saja, tetapi melukis takdir—tiada lain menata hidup dengan iman dan tekad.

Sampai tibalah di suatu sore di kaki bukit, Hasan yang mengumumkan kepergiannya ke kota: “Aku ingin sekolah lebih tinggi. Akan kucapai cita-citaku.”

Mendengar hal itu, ada rasa iri tapi juga kagum dalam imaji Kusaini. Bayangan Kota terdengar seperti mimpi—mall, rumah sakit, lampu jalanan, dan jalanan yang bebas dari becek—jalanan aspal, tidak seperti di kampungnya yang masih dengan batu dan kerikil. Terkadang jika kemarau tiba, tak bisa menghindar dari debu yang beterbangan sampai bisa membedaki mukanya.

Namun rasa irinya itu mereda seketika, ketika Hasan berjanji: “Suatu hari, akan kutunjukkan semua itu padamu.”

Singkatnya, setelah Hasan pergi ke kota, Kusaini lebih sering mendatangi makam ibunya. Ya, sebab dengan yang lain Kusaini tak berani mencurahkan segenap isi hatinya selain pada ustadz dan Hasan.

“Mak… aku ingin jadi orang sukses. Biar tak ada lagi orang yang mati karena tak sempat diobati…”

**

Hari demi hari melipat hari dengan segudang kisah dan rahasianya. Akhirnya, Kusaini pun merantau, tanpa sepengetahuan pak ustadz yang sudah menganggapnya anak. Bukan tanpa alasan, sebab jika minta ijin terlebih dahulu otomatis akan dilarangnya dengan segudang pertimbangan.

Berbekal tekat sekuat baja, Kusaini menempul jalur kota dengan berhari-hari berjalan kaki, menginap dari masjid ke masjid, lapar, haus, tersesat, dan ditolak dalam berbagai lowongan pekerjaan, sebab tak memiliki title sarjana.

Seperti itulah suasana Kota yang begitu bising, asing, dan buas. Namun Kusaini tak menyerah. Sampai suatu hari, ia melihat papan lowongan di Toko Grafika. Meski tanpa ijazah, ia diterima sebagai cleaning service.

Di toko itu, ia tetap melukis saat istirahat. Suatu siang, pemilik toko melihatnya melukis dan terkesiap: “Lukisanmu hidup. Mau belajar desain grafis?” Kusaini tak percaya, akan tetapi itulah titik baliknya.

**

Tahun-tahun berlalu. Kusaini menjadi desainer handal. Pada suatu hari dalam libur nasional, ia melukis penari di tepi pantai. Saat itulah seorang lelaki menegurnya: “Lukisan yang indah.”

Kusaini menoleh. Ternyata yang menyapanya itu tiada lain Hasan. Sahabat kecilnya.

Singkat kisah — mereka tertawa dan bercerita. Akan tetapi saat Kusaini menanyakan kabar Siti, Hasan menggoda: “Siti? Dia sudah punya dua anak…” Kusaini tertunduk. Hasan tertawa: “Bercanda. Siti belum menikah. Sepertinya… dia masih menunggu seseorang.”

Kusaini melonjak kegirangan. Dua sahabat yang kembali bertemu, serta kembali serumah, di rumah kontrakan Kusaini yang kini sudah sukses sebagai desainer professional dengan bayaran yang cukup fantastik dalam sekali orderan.  

Di minggu berikutnya, mereka kembali ke kampung. Meninggalkan ragam kenangan arus hidup di Kota. Dengan modal tabungannya yang cukup banyak, Kusaini membuka Pabrik Kelapa Sawit di kampungnya. Ya, sebab di kampung kelahirannya tersebut terkenal sebagai penghasil kelapa sawit, yang sekaligus tujuan pabrik itu dibuat guna memberdayakan warga sekitar.

Disamping itu, bukan tanpa alasan Pabrik Kelapa Sawit itu didirikan, guna tak ada lagi yang bernasib seperti ibunya. Pondasi keluarga harus diutamakan. Tekad kuat Kusaini yang tak berubah hingga kini, sampai sukses menjadi orang.

Siti yang awalnya malu-malu dengan keadaan Kusaini kini — jauh dari Kusaini yang kucel di itu waktu, — apa dikata cinta tak pernah memandang status sosial. Dengan mak comblang Hasan yang bergerilya habis-habisan, akhirnya Siti mau juga jadi istrinya Kusaini.

**

Waktu yang tak pernah bisa membohongi laku diri, lamat-lamat anak-anak kampung yang putus sekolah, semakin banyak bekerja di pabrik miliknya kusaini. Ia juga membangun klinik kecil, sebagai bukti konkreat atas kecintaan dan janji pada mendiang ibunya. Klinik kecil itu tanpa harus berbayar: Kusaini menanggung segenap pembiayaan yang berobat sampai yang rawat inap.

Tentu saja uangnya dari laba pabrik yang ia sedekahkan. Rumah Pak Ustadz, sebagai warisan mutlak untuk Siti, yang mana Siti anak tunggal. Atas izin Siti, dijadikanlah rumah baca dan pengajian. Semua para sahabatnya kembali berkumpul sebagai guru sekaligus pengurusnya dengan tak lupa, surau kecil yang sudah hampir rubuh kembali diperbaikinya.

**

Di sore yang tenang, Kusaini duduk di beranda, melukis bayangan langit dan wajah-wajah masa kecilnya. Siti duduk di sampingnya, memandangi senyum suaminya yang kini telah “melukis takdirnya” sendiri. Meski sudah menjadi seorang ibu dari lima anak, Siti yang kini kian manja pada Kusaini, tanpa ragu bergelendotan, laju mencium mesra bibir Kusaini.

Hasan yang secara kebetulan hendak berkunjung di sore itu, kala melihat adegan seromantis itu langsung berujar: “Amboy, benar kata pepatah itu, umur tua, dunia seolah milik berdua, ah… memandangnya mencium mesra bibir kekasihnya, ranca bana!” kontan saja Kusaini dan Siti salah tingkah. []

MEKAR SEHABIS HUJAN
Baca Tulisan Lain

MEKAR SEHABIS HUJAN


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *