SAJAK-SAJAK Ramdiana

tubuhku panggung

PEREMPUAN DI UJUNG KABUT

Di ujung kabut yang belum selesai,
berdiri satu sosok berselendang embun,
mata setajam riwayat yang dipendam,
tangan menggenggam benih dari langit purba.

Ia tak bersuara,
namun angin tunduk mendengarkan.
Ia tak melangkah,
tapi bumi bergerak dalam diamnya.

Perempuan itu bukan nama,
ia adalah isyarat,
pada bambu yang tak pernah patah,
pada bara yang sabar menyala dalam abu.

Langit mengenalnya dari warna kainnya,
tanah mengenalnya dari langkah sunyinya,
air mengenangnya dalam deras nyanyian,
api menjaganya agar tidak padam.

Ia sulam waktu dengan benang petuah,
menenun kisah dari abu perapian,
mewariskan bukan harta,
tapi suara—
yang bertahan bahkan setelah mulut diam.

Ia bukan penjaga rumah.
Ia rumah itu sendiri.
Dindingnya dari larangan dan petuah,
atapnya dari langit yang dijunjung.

Jika adat adalah pohon,
dialah akarnya.
Jika budaya adalah api,
dialah tungkunya.

Dan bila zaman berubah jadi ombak,
perempuan itulah karang—
yang terluka,
tapi tetap berdiri.

2025 rd

SAJAK Galih M Rosyadi
Baca Tulisan Lain

SAJAK Galih M Rosyadi

TUBUHKU PANGGUNG

Tubuhku bukan lagi tubuhku—
ia wadah segala yang ingin berkata
lewat tangis yang ditata,
lewat gerak yang sengaja tersiksa.

Di ruang gelap, aku mencari nyawa
yang tak kutemukan di kartu identitas.
Kutempa suara, kutajamkan rasa,
hingga naskah bukan sekadar tulisan,
tapi denyut yang menjelma kehidupan.

Latihan demi latihan—
keringat jatuh seperti mantra,
memanggil roh dari naskah tua
agar bisa hidup di tubuh fana.

Aku bukan aku di atas panggung.
Aku bisa jadi ibu yang kehilangan,
anak yang memberontak,
raja yang jatuh,
atau bayang-bayang dari masa silam
yang hanya bisa hidup dalam terang lampu dan tepuk tangan.

Tapi jangan salah—
teater bukan ilusi,
ia adalah kejujuran yang dirias agar lebih menyentuh.
Ia adalah cermin yang tak selalu jujur,
tapi selalu mengandung kebenaran yang disusun rapi.

pentas tiba,
dan segala letih menjadi nyala.
Aku berdiri di tengah cerita,
dan untuk sejenak—
aku hidup seribu nyawa.

2025 rd

LANGKAHMU, SAYANG

Nak,
dulu kau genggam jariku
seperti dunia tak boleh lepas dariku
kini kau berdiri di ambang waktu
dengan dada yang lapang, mata yang penuh cahaya itu.

Aku tak lagi menuntun kakimu
tapi aku titipkan arah dalam doaku
agar langkahmu mantap walau sendiri
agar kau tahu — mandiri bukan berarti sepi.

Anakku,
kau bukan lagi tunas kecil yang gemetar di angin
kau pohon muda yang harus kuat menantang musim
belajarlah menata resahmu sendiri
mengobati luka tanpa selalu mencari pelukan ini.

Bukan karena aku ingin jauh,
tapi karena aku ingin kau tinggi,
lebih tinggi dari segala takut dan ragu
lebih kukuh dari segala duka yang menunggu.

Bawalah cinta ini dalam diam
sebagai selimut saat dunia terasa asing
dan saat kau hampir lupa siapa dirimu,
ingat… ada ibu yang pernah jadi rumahmu.

050725 rd

TAK PERNAH KEMBALI

Tak pernah kuambil hakmu,
tak kuganggu langkahmu,
aku berjalan di sisimu—bukan untuk mendahului,
hanya ingin jadi saudara, setara,
seperti dulu saat tawa kita masih tulus dan lugu.

Tapi entah sejak kapan matamu menatapku penuh benci,
seolah aku pencuri bahagiamu,
padahal hatiku tak pernah iri,
tak pernah sekalipun mengingini milikmu.

Kau lempar luka lewat kata,
kau bangun dinding yang tak bisa kutembus,
padahal aku berdiri di luar,
membawa damai, bukan dendam.

Aku tak sempurna—itu pasti,
tapi benci yang kau rawat,
bukan karena dosaku yang nyata,
melainkan prasangka yang tumbuh diam-diam.

Jika kelak kau lihat ke belakang,
dan sadar aku hanya mencoba mencintaimu—sebagai saudara,
maka biarlah waktu jadi saksi:
aku tak pernah mengambil apapun darimu,
kecuali harap, agar kau bahagia.

2025 rd

PUISI Lintang Ismaya
Baca Tulisan Lain

PUISI Lintang Ismaya


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *