MATINYA MEDIA MAINSTREAM?

media

Media mainstream seperti koran, TV, radio atau situs berita besar saat ini memang masih menjadi sumber konten berkualitas dengan verifikasi ketat. Tetapi efektivitasnya menjangkau dan mempengaruhi audiens kalah dengan distribusi ulang konten tersebut melalui grup WhatsApp. Mengapa? Karena WhatsApp memanfaatkan jaringan personal, kecepatan, dan kepercayaan yang lebih tinggi, ditulis dan dikirim oleh orang yang kita kenal. Di Indonesia fenomena itu sedang berlangsung, dimana WhatsApp mendominasi komunikasi sehari-hari.

Media Mainstream Kurang Efektif

Media mainstream punya kekuatan dalam reportase mendalam, verifikasi fakta dan kurasi scientific. Tetapi kini menghadapi tantangan besar. Penurunan minat audiens, akibat berubahnya pola konsumsi media dari TV, radio atau koran ke platform digital, karena dianggap lebih cepat dan personal. Sebuah publikasi survei menunjukkan, kepercayaan publik terhadap media mainstream memang masih tinggi, sekitar 59%, tapi itu masih kalah dengan tingkat kemudahan akses media sosial dan messaging. Kehadiran “new media” seperti ‘apps messaging’ juga menggerus profitabilitas media konvensional, karena audiens lebih suka konten yang datang langsung ke ponsel mereka.

Lambat dan kurang inklusif

Proses distribusi mainstream bergantung pada jadwal terbit atau siaran dan kunjungan situs, yang dibatasi oleh infrastruktur dan biaya. Di area rural atau kelompok marginal, aksesnya tidak merata, dan interaksinya lebih formal serta impersonal.

Jadi mengapa distribusi lewat Grup WhatsApp lebih unggul? Sekarang, bayangkan konten dari media mainstream seperti artikel dari CNN, BBC, atau Kompas yang dibagikan langsung ke grup WhatsApp, menjadi “senjata” paling efektif karena menggabungkan kualitas mainstream dengan kekuatan WhatsApp. Kecepatan dan jangkauan luas dalam jejaring tak terbatas WhatsApp memungkinkan penyebaran instan tanpa “gatekeeper”. Grup bisa menampung hingga ratusan orang, dan forwarding pesan bisa mencapai ribuan dalam hitungan menit. Ini lebih efisien daripada konferensi pers tradisional, yang memakan waktu, biaya perjalanan, dan akses terbatas.

Sebuah Studi di Chile menunjukkan WhatsApp mengubah praktik jurnalisme lebih real-time, dengan format teks, gambar, atau voice note. Di India, WhatsApp journalism lebih unggul dalam diseminasi ke populasi termarginalkan, seperti kelompok rendah ekonomi, di mana smartphone murah membuatnya lebih accessible daripada TV atau radio.

Kepercayaan dan Engagement

Di grup WhatsApp, pesan datang dari orang terdekat, keluarga, teman, atau komunitas, sehingga ada ’trust’ dibanding berita langsung dari media mainstream. Ingat, hubungan personal selalu meningkatkan rasa aman. Orang jarang mempertanyakan konten dari grup, meski itu forwarding artikel dari mainstream. Di Indonesia, WhatsApp terbukti paling efektif sebagai alat komunikasi politik, meningkatkan partisipasi pemilih dan kepastian memilih lebih baik daripada media lain, karena pesan langsung mempengaruhi perilaku audiens secara interpersonal. Publisher global seperti yang diwawancarai Nieman Lab juga mulai menggunakan WhatsApp Channels untuk distribusi berita, karena engagement-nya lebih tinggi daripada situs web biasa.

Memang platform ini mempengaruhi opini publik lebih kuat dari media tradisional, meski ada risiko misinformasi. Trend ini sedang terjadi di Indonesia. Media sosial seperti WhatsApp seakan menantang media mainstream sekaligus menawarkan kolaborasi, dimana artikel mainstream disebar ulang untuk jangkauan lebih luas dan cepat. Studi lain juga menunjukkan promosi melalui WhatsApp lebih efektif meningkatkan minat audiens terhadap berita, karena lebih interaktif dan targeted.

Trend Global

Sebuah studi di Pakistan menggambarkan, jurnalis menggunakan WhatsApp secara luas untuk pengumpulan dan penyebaran berita, mengubah praktik media tradisional menjadi lebih cepat dan kolaboratif, meskipun menimbulkan risiko misinformasi karena kurangnya verifikasi ketat. Pakar komunikasi Everett Rogers dalam teori difusi inovasi, menjelaskan tentang adopsi cepat WhatsApp sebagai inovasi yang menggantikan alat distribusi konvensional. Sementara Claire Wardle memperingatkan bahwa platform ini memungkinkan percepatan penyebaran berita palsu, meskipun tetap efektif untuk jangkauan personal yang lebih tinggi. Sebuah eksperimen lapangan di Prancis dan Jerman yang diterbitkan Nature Human Behaviour, 2025 menunjukkan bahwa mengikuti akun berita di platform seperti WhatsApp meningkatkan pengetahuan aktual, akurasi keyakinan, dan kepercayaan terhadap media, menantang pandangan negatif bahwa media sosial hanya menyebarkan ilusi informasi. Alasannya bahwa fokus pada konten faktual melalui WhatsApp lebih efektif membangun ketahanan demokrasi daripada mengurangi misinformasi. Karena platform ini memanfaatkan distribusi konten berkualitas dari sumber terpercaya dengan cara lebih ‘engaging’ daripada media mainstream.

Pakar komunikasi Pranav Malhotra dalam jurnal Digital Journalism, menganalisis grup keluarga WhatsApp sebagai “meso-news spaces” di mana misinformasi dinegosiasikan, dan platform ini dianggap cocok untuk koreksi berita karena audiens yang familiar, sehingga distribusi ulang konten mainstream menjadi lebih efektif dalam membangun kesadaran. Sementara itu Ephraim Njenga, seorang analis komunikasi, menyebut fenomena ini sebagai “social media blockchain,” di mana informasi dari X atau TikTok menyebar ke grup WhatsApp melalui cross-pollination, membuatnya mendominasi alur informasi dibandingkan media tradisional yang kini hanya mengikuti tren sosial media. Di India, dengan lebih dari 467 juta pengguna WhatsApp punya potensi besar. Pakar seperti Mohith Agadi menyoroti bahwa akses berita melalui platform ini jarang diverifikasi, tapi justru itu yang membuatnya efektif untuk penyebaran cepat, terutama konten mainstream yang diforward tanpa filter.

Risiko yang mengancam

Meski efektif, pendekatan ini punya risiko: Konten mainstream bisa dicampur dengan hoaks di grup, karena kurang verifikasi dan scrutiny rendah akibat trust personal. Tapi jika fokus pada forward tulisan asli dari sumber terpercaya, justru mengurangi misinformasi. Solusinya, dengan jalan meningkatkan literasi media agar audiens memverifikasi sebelum share ke platform WhatsApp. Ingat “tulisan mainstream via grup WhatsApp” memang lebih efektif hari ini, karena menggabungkan kredibilitas dengan distribusi personal yang cepat dan engaging. Ini bukan berarti media “mainstream mati”, tetapi evolusinya ke hybrid seperti ini yang menang.


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *