LORONG HITAM
Rimba-rimba yang tengadah di kepala
Senja pun berlarian mengurai musim
Burung-burung hanya melintasi udara
Aku tak berdaya memasuki pintu penjara
Dan kembali menjebol atap plafon ruang kedap suara
Aku tak berdaya jika cinta terbagi
Dan remuknya jemari keyakinan sebuah bangsa
Lalu syair-syair mengabdi bagai gundik yang tertantang
Melunaskan rasa putus asa sebagai racun serangga
Kutenggak dari mulut yang setengah menganga

PUISI: Yesmil Anwar
SYAIR BUMI
Rahasia itu memang tersembunyi
Ketika kita harus tersudutkan
Di antara Lorong sempi kesementaraan
Gelombang bagai cinta tak berujung
Namun tertolak dalam batas-batas waktu
Dan kutukan
Lalu dengan seribu umpatan
Langit telah menjadikan bumi
Sebagai jembatan, nafsu
Yang senantiasa menggelepar tanpa alasan
Tapi inilah pengabdian akhir
Dari kematangan bahasa yang digumamkan
Seperti syair pemujaan juga dongeng
Yang sengaja dikaburkan alam

SAJAK-SAJAK Widi S Kudo
PUISI HIJAU
Karena kau terlalu kupuja
Kutinggalkan cahaya, kuberlari
Dan menangis membelah hutan
Yang tumbuh di batinku, kenangan
Arus sungai, pohon-pohon hijau
Dan kata-kata melintasi bukit
Kutemukan kau dan sisa pedang itu
Menorah cerita usang yang panjang
Keheningan cadas-cadas, sunyi menepi
Ke tepi pantai mega-mega bergerak
Kubunuh segala rasa karena kau
Terlalu kupuja



