Pagi hari itu, Aku pergi ke kampus seperti biasanya, menaiki kereta. Hujan turun semalaman, langit pagi tampak kelabu dan sedikit berkabut. Sisa air hujan semalam meninggalkan jejaknya pada bumi, menciptakan genangan-genangan kecil di jalanan beraspal. Kereta itu perlahan bergerak, dari satu stasiun ke stasiun lainnya, mengantarkan penumpangnya ke tujuan mereka masing-masing.
Perjalanan ke kampus memakan waktu kurang lebih 1 jam, kuputuskan untuk menyumbat kedua telingaku dengan benda canggih yang disebut headset. Kali ini kupilih untuk mendengarkan lagu dalam mode acak dan sebuah lagu R&B dengan nuansa akustik dari Niki mengalun di telingaku. Langit kelabu dan musik mellow yang kudengarkan membuat perjalanan ke kampus hari itu terasa berbeda.
Aku merasa sedikit emosial, perasaan tentang seseorang di masa lalu yang sudah lama terkubur jauh di sana bangkit kembali. Seperti puzzle, kepingan memori yang telah lama dihilangkan satu persatu muncul kembali, bayangan tentang saat-saat bersamanya.
Satu tahun lalu. Ya, satu tahun lalu, saat Aku masih bekerja disebuah Mall di kawasan perumahan mewah, disanalah aku bertemu dengannya untuk pertama kali. Saat itu staff Supervisor meminta kami–para karyawan–berkumpul di ruang staff untuk melakukan briefing, dan ditengah briefing itu tiba-tiba Supervisor mengenalkan seseorang sebagai staff baru yang akan bergabung dengan divisi kami.
Sangat tinggi, begitulah kiranya kesan pertamaku saat bertemu dengannya. Wajahnya tertutup oleh masker sehingga hanya mata kecilnya saja yang terlihat. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Liam.
Tiga hari pertama, masih tidak ada interaksi apapun diantara kami–aku dan karyawan lain–dengan Liam si staff baru. Seminggu kemudian, jam istirahat makan siang. Hari itu aku makan siang bersama satu orang teman. Karena tidak membawa bekal, kamipun mampir ke supermarket dilantai bawah untuk membeli makanan. Saat akan membayar seseorang tiba-tiba datang dan meminta agar barangnya ditambahkan belanjaannya ke bill kami, awalnya aku dan temanku hendak menegur namun begitu tahu siapa pelakunya kehendak itu tidak jadi terlaksana.
Benar, orang itu Liam. Pada akhirnya dia yang membayar seluruh belanjaannya dan ikut istirahat bersama kami. Dan momen itu menjadi awal mula cerita ini. Satu bulan berlalu sejak hari itu, diantara lima karyawan Aku dan Diana menjadi salah dua yang akrab dengan Liam. Alasannya kalian semua pun pasti sudah tahu. Sedikit demi sedikit aku mulai mengenal sisi lain dari diri Liam, tentang caranya berpikir, tingkah lakunya yang elok serta tutur katanya yang lembut membuatku terkagum.
Namun, ada satu hal dalam dirinya yang tidak kusukai, dia sangat dan bahkan terlalu baik. Kebaikan yang dilakukan Liam tanpa maksud apa-apa, disalah artikan oleh beberapa orang yang menerimanya. Beberapa rumor mulai menyebar dan Liam mengetahui hal itu, tapi Ia tetap diam. Bahkan saat Direktur Manajer mengetahuinya dan menegur dirinya, Ia masih tetap diam. Aku bertanya kepada Liam mengapa dia hanya diam dan membiarkannya begitu saja, dan jawaban darinya yang membuatku terdiam.
“Aku hanya melakukan hal yang biasa kulakukan. Jika hal sederhana yang kulakukan kepada mereka diartikan sebagai hal lain, maka biarlah tetap begitu. Aku tahu kapan harus bertindak dan kapan harus diam. Kau dan cctv lebih tahu hal itu, aku tak pernah mencuri.”
“Habisnya kamu terlalu tajir!”
Suara dering telepon menyadarkanku, membawaku yang terlarut dari kilat bayang masa lalu kembali pada realita saat ini. Aku mengangkat panggilan itu.
“Halo, Aruna, kamu sudah lihat grup kelas? Kelas hari ini libur. Kamu dimana, sudah dikereta?” ucap orang di seberang. Refleks Aruna melihat notifikasi pesan pop-up di layar handphonenya, dan ya memang libur.
“Halo? Halo …?”
“I-iya, aku sudah di kereta.”
“Lalu, kamu akan tetap ke kampus?”
“Tidak, sepertinya aku akan turun di stasiun selanjutnya saja.”
“Baiklah, jaga dirimu!” Panggilan singkat itu berakhir bersamaan dengan kereta yang juga berhenti. Stasiun Bandung, menjadi destinasi persinggahanku. Sembari masih mendengarkam musik, aku duduk menunggu kereta selanjutnya yang akan membawaku pulang.
Dear Liam,
Sudah satu tahun sejak aku bertemu dan mengenal dirimu. Liam, ada sesuatu yang sangat ingin kuberitahu padamu namun tidak pernah tersampaikan hingga detik ini.
Sudah satu tahun, tetapi kenangan tentangmu tidak pernah benar-benar hilang. Semuanya tersimpan dengan baik di dalam sana, berharap sang pemilik akan datang dan menghidupkan kembali rasa yang hampir mati, tertawan oleh ego yang tidak sempat terucap di masa lalu.
Liam, terkadang dalam hening yang gemuruh aku masih selalu memikirkanmu. Liam, jika kukatakan yang sejujurnya tentang salah pahamku padamu waktu itu, akankah jadi berbeda akhirnya? Mungkinkah paras menawanmu masih bisa kulihat hingga hari ini?
Sudah satu tahun, namun rasa yang ditinggalkan olehmu masih sama dan akan selalu sama. Meski ragamu sudah tak lagi membersamaiku, namun segala hal tentangmu selalu abadi dalam ingatanku. Satu bulan terlalu singkat untuk mengenalmu tapi selamanya tidak akan cukup untuk mengenangmu.
It’s been a year but I hope our paths cross again.
Sudah satu tahun sejak terakhir kali aku melihat parasmu. Melalui tulisan singkat ini, kukirim rindu yang telah lama kusimpan dan tidak akan bisa ku ungkapkan kepadamu secara langsung. Berharap alam semesta menyampaikannya kepadamu. Kepada jiwa yang telah lama pergi, kepada raga yang tidak lagi ada.
Liam, kabar buruk menimpa cuaca hatiku yang rindu hadirmu; selalu!

