SAJAK-SAJAK Mudjiono Emje

purba

SENJA DI PANTAI SELATAN

Bila laut mu diam,
Itu pertanda angin tak mengalir.
Biduk kan berhenti berlayar.
Labuhan penuh dengan perahu dan nyanyian pilu dari anak-anak serta para perempuan yang menatap masa depannya sepi.

Angin tak lagi mengalir,
tapi cerita tentang pantai
pasti tak sebatas nelayan
dan burung camar yang tak lagi bisa terbang.
Sebab, kadang kenang yang pernah tertulis di batu-batu
bisa jadi nyanyian rindu
yang mengantarkan petualang datang.
Mengubah cerita tentang pantai yang sepi.
Tuhan pasti Maha Mengerti.

Kediri, 24 Agustus 2025.

SAJAK-SAJAK Ramdiana
Baca Tulisan Lain

SAJAK-SAJAK Ramdiana

AH MATAMU

Karena sayup matamu, aku lama merindu.
Larut dalam hati bermimpi-mimpi.
Sayang kau tak pernah tahu, jika kenang sayup matamu
hingga kini tak pernah usang di kedalaman hati yang kehilangan cintanya.

Aduh, betapa dalam mata mu telah mematahkan hati.
Hingga seperti ini.
Sayang, ketika ku pulang hendak menjenguk nama mu yang tertulis dalam kenang.
Angin mendatangkan kabar, bahwa kau telah pergi dibawa ombak.
Entah kemana.

Kediri, 22 Agustus 2025

SAJAK-SAJAK Rachman Sabur
Baca Tulisan Lain

SAJAK-SAJAK Rachman Sabur

JALAN LAPANG

Di jalan lapang harum mu beterbangan.
Betapa indah cinta kita.
Kupu-kupu terbang berburu angin di jalan-jalan.
Mengembara bersama segarnya wangi mu pagi bening.
Tapi saat sepi menepi.
Kelopak matamu menyelinap menitipkan mimpi.
Pun di suatu malam di terang purnama.
Sungai-sungai mu memuncratkan riak,
berkelip seperti kunang.
Membasuh pepohonan yang mengayun ranting.
Betapa indah di jalan lapang
meski berliku cinta kita.
Kepak sayap burung malam berjingkrak menari di antara nyanyian cinta yang diturunkan langit.
Tapi di jalan lapang masih banyak persimpangan.
Kemana akhir kita akan pergi.
Berteduh menanam bunga
ataukah tetap melangkah tapi tak kenal arah.

Kediri, 11 juni 2025

Bulan Di Mata Purbosari

Kau masih seperti hari-hari yang lalu.
Menjadi bunga yang bercerita tentang warna dan semerbak harum dari kuntum-kuntum.
Kadang ada angin terduduk di depan tangkai, sekedar memandang matamu dengan cinta sedalam hati.
Kau tersenyum seperti melati yang mengantarkan harumnya hati.
Ah, andai kau bukan mimpi.
Atau sekedar sebait puisi, pasti ada cerita cinta yang bersemi dari hati lelaki.
Kembali memandangi matamu, yang menyelipkan mimpi separuh malam saat purnama……

Ah, kau ternyata Purbosari.
Bulan di mata mu
telah mengantarkan beribu cerita tentang mawar, kenangan, cinta dan kesetiaan yang hanya sebatas mimpi.

Di mata mu, Purbosari
aku dapati setangkai melati
yang terus tersimpan dalam hati.

Purbosari,

Kediri 21 Agustus 2025

PUISI & HAIKU Yanto SN
Baca Tulisan Lain

PUISI & HAIKU Yanto SN


Apakah artikel ini membantu?

Tulisan Lain dari Penulis :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *