5 CERMIN Menik Sithik

sithikilus

Pemberian

“Seperti inikah rasanya ketika kita diberi sesuatu yang memang sedang kita butuhkan? Sungguh, Mbak, aku tidak pernah terpikir sebelumnya, bagaimana perasaan orang-orang yang menerima pemberianku waktu itu.” Matanya berembun memandang beberapa sembako yang ada di hadapannya.

Situasi ini mampu menjungkirbalikkan keadaan siapa saja. Pandemi ini, hampir melumpuhkan roda kehidupan banyak orang, termasuk juga kawanku satu ini. Seorang dermawan yang banyak membantu kesulitan kawan-kawannya, bahkan orang-orang yang tak dikenalnya. Setelah kematian suaminya beberapa waktu lalu, kehidupan menjadi begitu keras dihadapinya. Bertahan hidup dengan tabungan yang kian menipis, menagih pinjaman yang hanya menjadi kesia-siaan, dan bekerja apa saja, agar dapat makan dengan layak bersama ketiga anak-anaknya.

“Terkadang kita harus ikhlas ditempatkan sebagai penerima, Dek. Saya tahu rasanya. Beberapa kali saya juga menerima pemberian dari sahabat dan saudara. Saya memang sedang membutuhkannya. Saya ingin memberi mereka kesempatan untuk menjadi seorang pemberi, melapangkan jalan kebaikan untuk saling berbagi kebahagiaan dengan pemberian.” 

Senyumnya mengembang. Matanya berbinar. Bukan karena pemberian yang telah diterimanya, melainkan pada hati yang lebih luas menerima peran barunya.

Februari 2023

SLOBODON
Baca Tulisan Lain

SLOBODON

TV 14 Inch

Berbekal alamat yang diberikan Kang Parman, akhirnya aku sampai juga di depan rumah ini. Rumah petak berdinding multipleks yang berada di sebuah gang sempit di pinggiran kota. Tidak hanya karena rengekan anak-anakku, tetapi apa yang aku cari di sini memang masih terhitung barang berharga bagiku dan keluarga. Ya, aku sedang melacak keberadaan sebuah televisi tabung berukuran 14 inch yang beberapa bulan lalu harus diperbaiki, sebab pada layarnya mulai banyak keluar garis-garis vertikal yang sangat mengganggu pandangan. Maka di sinilah aku sekarang, seolah sedang mencari harta karun.

“Jadi televisi itu milikmu, Mbak?” Tanya Munah padaku yang kini sudah duduk di hadapanku, setelah beberapa kali tadi mengetuk pintu rumah petak yang ditempatinya.

“Iya, aku servis televisi itu pada Kang Ganden beberapa bulan lalu. Tapi tak ada kabar lagi. Saat kudatangi kontrakan kalian, ternyata kalian sudah pindah. Beruntung aku bisa mendapatkan alamat baru kalian dan bisa datang ke sini. Mana televisi itu sekarang? Aku mau membawanya pulang,” kataku sambil menatapnya yang menunduk dalam.

“Maafkan kami, Mbak. Maaf…. Televisi itu sudah dijual Kang Ganden untuk membayar kontrakan ini, kami terpaksa pindah jauh karena sudah tidak sanggup membayar kontrakan di sana yang naik harganya.” Lagi-lagi suaranya begitu memelas dan pelan.

Aku menarik napas dalam dan mencoba membuang sesak di dada bersama hembusannya. Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain mengikhlaskan. Meski aku tak tahu nanti bagaimana menghadapi celoteh anak-anak yang ingin melihat film kartun di televisi milik sendiri. Entah kapan lagi aku bisa membelikannya dengan gaji buruh jahit yang tak seberapa.

Februari 2023

BISMILLAH
Baca Tulisan Lain

BISMILLAH

Surup

“Bebersih badan dulu sebelum menyentuh anak, Pak,” aku mengingatkan suamiku yang baru saja masuk melalui pintu belakang rumah. Kang Sabri, suamiku hanya diam dan terus berjalan mendekati tempat tidur, di mana bayi mungilku yang belum genap berusia dua bulan tengah terlelap.

“Pak, ke kamar mandi dulu sana,” kuingatkan sekali lagi. Kang Sabri tetap tak menghiraukan ucapanku yang masih berkutat dengan jahitan di depan mesin jahit. Pekerjaan yang kutekuni untuk menambah penghasilan keluarga.

Kang Sabri mengangkat dan menimang bayi kami. Terdengar rengekan lirih dari Desti, bayi perempuanku yang ada dalam gendongan Kang Sabri. Tak perlu waktu lama, rengekannya berubah menjadi tangisan yang menggelegar seiring adzan maghrib yang berkumandang.

Aku menoleh. Kang Sabri masih diam dan berjalan menuju arahku. Kukira dia akan menyerahkan Desti padaku agar kutenangkan kembali. Tapi Kang Sabri berjalan terus dan keluar dari pintu belakang.

“Ini sudah surup. Mau dibawa kemana anak kita? Balik, Pak!” kukejar Kang Sabri yang semakin menjauh, menuju ke arah rumah sinyal dari stasiun yang hanya beberapa meter saja jauhnya dari rumah kami. Aku semakin mempercepat langkahku mengejarnya, sembari terus memanggilnya kencang. Jarak yang dekat, membuatku jelas melihat sosoknya tiba-tiba berubah menjadi tinggi besar, berkulit hitam pekat dan berbulu panjang. Wajahnya tak dapat kulihat. Tangis anakku lebih nyaring dari biasanya. Entah dengan keberanian dan kekuatan dari mana, kupukuli tubuh itu sekeras aku bisa, kurebut anakku darinya. Sosok itu menghilang.

Aku terduduk menangis di jalanan yang mulai ramai dengan orang yang hendak ke masjid. Kudekap erat anakku dengan tubuh gemetar. Langit semburat merah di kejauhan.

Februari 2023

TIGA LANGKAH BANCAH
Baca Tulisan Lain

TIGA LANGKAH BANCAH

Cerita Tentang Cermin

“Jangan paksa aku bercermin,” ujarku pada Lucca yang masih tak melepas pandangannya pada mataku yang basah. Hanya ada kami berdua di teras rumah kontrakan miliknya. Lelaki berkaca mata yang memiliki lesung di pipi kirinya saat tersenyum itu memintaku masuk ke dalam ruang kamarnya, hanya untuk melihat sosokku sendiri di dalam cermin yang terdapat di lemari kayunya. Aku tak mengerti apa maksudnya. Selama ini hanya dia tempatku berkeluh, menumpahkan segala yang kuanggap derita dan membuatku seringkali membenci kenyataan.

“Agar kau tahu, kau jelek kalau menangis,” katanya tanpa senyum. Apakah berarti kata-katanya itu bukan gurauan agar aku menghentikan tangisku? Entahlah. Tanpa aba-aba, dia menyeret lenganku, masuk ke dalam kamarnya yang tak terbilang luas itu dan menghadapkan aku pada cermin di lemari kayu. Aku menjerit menatap bayangan diriku di dalam cermin. Ingin aku berbalik, tapi badannya menahan gerakanku, membuatku tetap menghadapi cermin itu.

Sedetik, dua detik, tiga detik… Jeritku diiringi tangis kembali, “aku takut! Itu bukan aku, Lucca!”

“Apa yang kau takutkan? Lihatlah, hanya ada aku dan kamu. Sampai kapan kau takut melihat dirimu sendiri, Lara?” tanya Lucca kemudian memutar tubuh kecilku dan merengkuhnya ke dalam dekapannya. Wajahku yang payah menelungkup di dadanya. Dada yang selalu menjadi tempat air mataku berkubang.

“Lara, kau percaya padaku?”

“Bahkan kau tahu, aku sangat mempercayaimu. Tak ada yang tersembunyi lagi dariku di hadapanmu.”

“Kalau begitu, mari kuajak kau memahami cerita dari cermin.” Lucca memelukku semakin erat, melangkah mendekati cermin yang tiba-tiba retak dengan sendirinya. Tak ada lagi bayangan kami.

Februari 2023

MENGANTAR KYAI ALI
Baca Tulisan Lain

MENGANTAR KYAI ALI

Larut Senja

Langkahku terhenti saat kulihat Bapak berdiri di pinggir jalan, dekat pagar pembatas rel kereta api. Kuurungkan niatku untuk pulang, setelah sesiang tadi bermain bersama anak-anak tetangga di dekat gudang kayu, di seberang jalan tempat Bapak sedang berdiri.

“Desti, ikut Bapak dulu ke kampung sebelah sana, ya. Nanti kita pulang bersama,” ujar Bapak setelah aku mendekat.

“Tapi Desti belum mandi, Pak. Nanti dicari Ibu dan dimarahi. Desti harus bersiap mengaji sebelum maghrib,” kataku pada Bapak. Langit memerah dan senja telah turun. “Ibu pasti marah karena aku terlambat pulang.”

“Ibu tidak akan marah, sebab Desti bersama Bapak,” ucapnya sambil menggamit lenganku untuk melangkah, melewati pagar pembatas dan melintasi jajaran rel kereta. Menuju kampung sebelah memang lebih mudah dengan menyeberangi rel kereta daripada memutar ke jalan dekat makam dan sungai. Tinggal masuk ke jalan besar, lalu berbelok masuk gang kampung sebelah.

Aku mengikuti Bapak tanpa banyak bicara. Hari semakin gelap. Sudah larut senja. Tapi rasanya lama sekali kami melewati tanah berumput di belakang rumah sinyal yang menjadi jalan tembus masuk ke kampung sebelah.

Sebuah sungai kecil dengan bebatuan di sekitarnya, sudah kami lewati tadi. Harusnya kami segera sampai. Sedari tadi Bapak diam dan hanya menggandengku saja.

“Desti….” Kudengar suara Ibu. Jauh sekali.

“Allahu Akbar… Allahu Akbar….” Suara adzan maghrib mulai berkumandang.

Senja semakin tua. Kulihat sekitar, aku tak mengenali tempat kami berdiri. Kulirik Bapak di sampingku, namun bukan lagi seperti Bapakku. Udara terasa begitu dingin, lalu gelap menyergapku. Senja redup. Larut.

Februari 2023

SI MAGRIB
Baca Tulisan Lain

SI MAGRIB


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *