Tuan yang Meminjam Nama

nayanika TUAN YANG MEMEINJAM nAMA kosapoin.com

Sore merayap lambat dengan langit yang mulai kehilangan binar jingganya, tertutup gumpalan awan kelabu yang menggantung rendah di atas Kota Yogyakarta. Sejak museum ini memperpanjang napas operasionalnya hingga pukul delapan malam, Nayanika tak lagi harus terburu-buru; ia membiarkan dirinya terserap dalam atmosfer benteng yang kini menyambut transisi menuju wisata malam. Udara basah membawa aroma tanah dan pembusukan dedaunan yang dihumuskan oleh putaran waktu, merayap masuk ke hidung serta menusuk pori-pori kulitnya sebagai sentuhan yang tak bisa terelakkan. Rasa dingin itu merambat hingga ke sumsum, menyebabkan sensasi gemetar aneh pada sekujur tubuhnya sejak pertama kali ia menjejakkan kaki di pelataran Benteng Vredeburg. Halaman depan benteng masih lengang, hanya menyisakan bayangan pepohonan tua yang bergoyang lamban diterpa angin yang semakin kencang membawa uap lembap. Pohon-pohon itu seolah menertawakan langkah ragu Nayanika di tengah perpaduan aroma lumut, kapur tua, dan debu yang membeku pada setiap susunan bata kusam—saksi bisu dari keangkuhan Indische Empire Style [1] yang memadukan neoklasik Eropa dengan adaptasi tropis yang dipaksakan.

Suara sapu lidi yang diayun-sapukan sepasang tangan petugas kebersihan di akhir paruh sore itu memecah keheningan di sudut pelataran; menyisir dedaunan kering sisa siang sebelum pendar lampu-lampu sorot museum mengambil alih suasana. Gesekannya bergema di antara tembok bata tebal, serupa ritme detak jantung yang tertahan di bawah tekanan sejarah yang amat berat. Meski deru motor dari arah Malioboro sesekali menyusup, suara itu segera lumat oleh keangkuhan benteng tua yang seolah menjaga rahasia tetap terkunci rapat dalam kebisuan. Nayanika berhenti sejenak, membiarkan paru-parunya berdamai dengan udara berat yang membawa aroma kertas lama. Di sana, sisa cahaya matahari yang kian redup tertelan mendung mencoba menembus jendela tinggi, menciptakan pantulan cahaya yang menari di atas lantai dalam garis-garis panjang. Pola prismatik itu tampak seperti jeruji imajiner yang mengingatkannya pada stratifikasi sosial rasial masa lalu; sebuah garis pemisah kaku antara bangsa Eropa, Timur Jauh, dan pribumi yang ditempatkan di kasta terendah.

Di bawah bayang-bayang cahaya jeruji itulah, Nayanika mengeratkan genggaman pada buku harian cokelatnya yang sudah lusuh. Buku-buku jarinya menelusuri permukaan kertas yang kusut dan sebagian kertasnya sudah ada yang bernoktah kuning; sebuah gerakan refleks yang terasa menyakitkan, meski sudah sangat akrab bagi batinnya yang sunyi. Di salah satu halaman yang hampir lepas, jemari Nayanika berhenti pada sebuah nama yang ditulisnya dengan tekanan pena yang dalam: Dom Janardana. Sebuah nama yang merangkum dualisme luka dalam sejarah hidupnya. Ia teringat bagaimana pria itu dengan getir bercerita bahwa nama Dom adalah pemberian dari seorang guru kelahiran Negeri Kincir Angin yang merupakan sahabat kakek pria itu. Nama tersebut diambil dari kata Dominus atau Dominicus[2]—sebuah gelar Latin bagi “Tuan” atau “Penguasa”. Namun, Janardana yang berarti “penggerak rakyat” justru terjebak dalam ironi namanya sendiri. Di sekolah birokrasi dan mimbar akademik, ia dididik untuk menjadi penguasa opini bagi bangsanya, padahal kenyataannya ia hanyalah instrumen administratif yang tak berdaya di bawah telunjuk birokrasi modern.

Menulis telah menjadi satu-satunya cara bagi Nayanika untuk bicara tanpa harus menatap mata orang lain secara langsung—terutama mata Dom yang selalu tampak menuntut jawaban cerdas dari setiap keraguannya. Baginya, tinta adalah topeng paling aman untuk menyuarakan apa yang tersimpan di kedalaman hati yang paling sunyi, termasuk rasa tidak percaya diri yang akut—sebuah warisan psikologis inlander mentality[3] yang membuatnya merasa selalu lebih kecil dibanding dunia luar. Sebagai mahasiswa Arkeologi, Nayanika sering kali merasa sedang melakukan ekskavasi terhadap jiwanya sendiri. Di kampusnya, ia diajarkan untuk menggali kebenaran dari sisa-sisa reruntuhan, tetapi di sini, di hadapan keangkuhan Vredeburg yang membisu, ia menyadari bahwa kurikulum tidak pernah memberitahunya cara merekonstruksi jati diri yang hancur akibat inferioritas turun-temurun. Ia adalah calon arkeolog yang merasa asing di tanahnya sendiri; seorang pencatat masa lalu yang masih gagap memaknai masa depan karena setiap teori yang ia pelajari selalu berbenturan dengan kenyataan pahit tentang penjarahan identitas yang belum tuntas.

Langkah kaki Nayanika membawanya melewati diorama masa kerja rodi tanpa benar-benar menatap figur-figur kayu tersebut. Baginya, patung-patung itu bukan sekadar pajangan museum, melainkan representasi dari ekskavasi batin yang baru saja ia renungkan. Ia hanya merasakan ketegangan yang merambat dari lantai dingin ke telapak kakinya sebagai pantulan rasa sakit masa lalu, di mana hukum adat ulayat dihancurkan oleh doktrin Domein Verklaring[4] yang merampas tanah rakyat atas nama legalisme kaku Belanda. Baginya, penindasan paling kejam bukan hanya dilakukan dengan senapan, melainkan melalui teks tertulis yang meminggirkan hukum lisan nenek moyangnya. Di tengah keheningan itu, pikirannya mulai merambah pada rongrongan pascakemerdekaan yang tak kalah pelik; tentang bagaimana teori konflik Marxisme kini mulai bersalin rupa dalam wajah neokolonialisme. Nayanika teringat diskusi-diskusi panas di kantin kampus, di mana teman-teman sekuliahnya menyuarakan Marhaenisme [5] sebagai jawaban atas realitas Indonesia—sebuah sistem yang menjanjikan kemandirian bagi rakyat kecil yang tetap miskin meski memiliki alat produksi sendiri. Kegelisahan ini membawanya untuk mempertanyakan hal tersebut kepada Dom; ia berharap pria itu bisa memberikan jalan terang. Namun, sebagai pembaca netral yang terbiasa melihat sejarah dari jarak aman, Dom justru menunjukkan keterasingan yang serupa. Nayanika merasa terjepit dalam kegamangan intelektual; ia dan Dom sesungguhnya tidak benar-benar menyatu dengan esensi Marhaenisme itu di luar teks, dan ironisnya, mereka justru merasa terancam jika sistem itu benar-benar menggoncang kemapanan identitas baru yang sedang mereka bangun sebagai elit intelektual.

Batu-batu di ruangan itu seolah menyerap jeritan sejarah dan kehilangan yang menempel permanen di udara. Nayanika mencoba menulis satu kalimat, menghapusnya, lalu menulisnya kembali hingga kertas itu hampir koyak oleh ujung pena—sebuah agresi sunyi terhadap ketidakmampuannya sendiri untuk bersuara. Ia menyadari bahwa menghidupkan sejarah bangsa jauh lebih mudah daripada membangkitkan keberanian di dalam dadanya sendiri yang telah lama mati suri. Di luar sana, langit benar-benar telah berubah menjadi kanvas kelabu yang berat, seolah mendukung kemuraman yang sedang ia gali dalam batinnya. Ingatan masa kecil muncul menyerupai hantu yang tidak diundang saat ia menatap diorama yang membeku. Nayanika teringat ketika ia selalu berjalan tiga langkah di belakang Dom yang tampak kokoh dan jauh. Dom adalah cahaya yang memimpin jalan, sedangkan ia hanyalah bayangan yang terus mengekor tanpa memiliki tujuan sendiri—persis seperti para bupati zaman dulu yang kehilangan wibawa tradisionalnya, berubah dari pemimpin berdaulat menjadi sekadar pegawai Binnenlands Bestuur [6] yang digaji dan tunduk sepenuhnya pada kendali asing.

Ujung kukunya menekan tepi buku harian cokelatnya; sebuah kebiasaan lama yang muncul setiap kali rasa cemas menguasai logikanya—seolah ia sedang mencari pegangan pada sisa-sisa sejarah pribadinya agar tidak hanyut oleh keangkuhan benteng ini. Di tengah kesunyian sejarah ini, ia memahami satu hal pahit: ia tidak sedang melihat masa lalu bangsa, melainkan menatap biasan masa lalunya sendiri yang penuh penindasan batin. Konflik percintaannya dengan Dom bukan sekadar urusan hati, melainkan benturan kasta intelektual yang diciptakan oleh pendidikan kolonial; sebuah jarak sosial yang tetap ada meskipun proklamasi telah lama dibacakan. Nayanika menyadari bahwa kemerdekaan fisik ternyata tidak otomatis membebaskan jiwa yang sudah terbiasa mengekor di bawah bayang-bayang kasta.

Suara langkah kaki yang mantap tetapi tenang mendadak memantul di dinding lorong, memutus rantai lamunan Nayanika. Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang; aroma parfum maskulin yang tajam—campuran kayu cendana dan sedikit aroma tembakau mahal—segera memenuhi ruang udara di sekitarnya, beradu dengan bau tanah basah yang mulai menguap dari pelataran. Itu adalah aroma dominasi yang selalu berhasil menciutkan nyalinya. Dom berdiri di sana, beberapa langkah di belakangnya, terbungkus kemeja flanel gelap yang rapi, tampak begitu selaras dengan kekakuan benteng ini. Pria itu tidak segera menyapa, seolah membiarkan keheningan dan uap hujan yang mulai turun di luar jendela menjadi perantara kehadiran mereka. Nayanika merasakan punggungnya menegang. Pertemuan ini adalah babak baru dari sejarah yang selama ini hanya ia tuliskan di atas kertas kusutnya, dan kini, sosok sang ‘Penguasa’ itu benar-benar menuntut kehadirannya secara nyata.

“Vredeburg selalu tahu cara membuat seseorang merasa kecil, bukan?” Suara Dom memecah keheningan, berat dan berwibawa. Namun, suaranya membawa nada pengamatan yang tajam seolah ia sedang membaca catatan kaki dari sebuah artefak. Nayanika tidak segera menjawab; ia hanya menatap ujung sepatunya yang kini bergerak menyisir lantai dingin. Mereka mulai berjalan perlahan tanpa memerlukan kesepakatan kata-kata, mencoba menyelaraskan ritme langkah di atas lantai yang menyimpan jutaan jejak sejarah. Keheningan yang mereka bagi saat ini tidak terasa kosong, melainkan sarat akan pemahaman yang melampaui ucapan. Nayanika akhirnya memecah kesunyian dengan suara lembut, menyuarakan apa yang sedari tadi mengusik batinnya. Ia percaya bahwa sistem sejarah boleh saja merombak label pada dinding benteng ini. Namun, manusia di dalamnya akan tetap membawa luka jati diri yang sama. Sambil terus melangkah, ia merenungkan bagaimana bahasa Belanda telah meminggirkan bahasa lokal di ranah formal, meninggalkan kasta bahasa ‘intelek’ yang penuh kata serapan seperti kantor atau gratis, dan bahasa ‘rakyat’ yang hingga kini masih menciptakan jarak sosial di antara mereka berdua. Di samping Dom, Nayanika merasa bahwa mereka adalah dua kutub yang dipertemukan oleh teori, akan tetapi tetap dipisahkan oleh sejarah panjang tentang siapa yang menguasai kata-kata dan siapa yang hanya mampu menyimpannya dalam diam.

Langkah mereka terhenti tepat di bawah lengkungan gerbang keluar, tepat saat langit Yogyakarta akhirnya tumpah dalam hujan yang menderu. Bau aspal basah dan tanah yang haus seketika menyerbu indra penciuman, menciptakan tirai air yang seolah memutus dunia di dalam benteng dengan keriuhan Malioboro di luar sana. Dom berdiri menyandar pada pilar batu yang dingin, menunduk sambil menatap debu yang mulai lumat oleh rintik air. Ia mengaku merasa iri kepada tokoh sejarah yang penderitaannya memiliki nama dan pengakuan resmi, tidak seperti artefak yang dijarah dan dipenggal kepalanya untuk dijual ke kolektor Barat. Sebaliknya, ia merasa mereka berdua hanyalah angka yang terjepit dalam murbaisme[7]—sebuah perjuangan kelas pascakemerdekaan yang melihat sejarah sebagai dialektika yang menuntut kemenangan mutlak kaum proletar. Dialektika tersebut bagi Dom justru merongrong ketenangan jiwa manusia secara individu. Sebagai seorang abdi negara, Dom memikul beban moral dan konstitusional untuk menjaga tegaknya marwah negara; setiap langkahnya dibatasi oleh sumpah setia pada Pancasila dan UUD 1945 yang menjadi kompas dalam setiap kebijakan yang ia susun sebagai tenaga ahli. Ketidaksetujuannya terhadap gagasan Marhaenisme yang sering dibawa Nayanika sebagai bahan konsultasi seolah menjadi tembok baru. Sebagai pembaca netral, Dom hafal setiap baris kalimatnya. Namun, ia merasa ngeri membayangkan jika stabilitas Pancasila yang ia jaga—dan yang selama ini menjamin tatanan hidupnya—harus lumat oleh radikalisme sistem yang ia anggap belum matang secara batin.

Pria itu terdiam sejenak, mengeluarkan kekehan rendah yang terdengar pahit. “Kamu benar, Naya. Kita menyebut diri kita merdeka, tapi kita masih bertengkar menggunakan istilah warisan kolonial untuk mendefinisikan siapa yang lebih pintar,” ucapnya sambil menoleh perlahan, menatap Nayanika dengan intensitas yang membuat gadis itu ingin berpaling. “Tapi bukankah ironis? Kita berdiri di sini, mencemaskan jarak sosial dan luka jati diri, sementara kita sendiri enggan basah oleh hujan yang sama dengan rakyat di luar sana.” Kata-kata itu dilemparkan Dom seperti sebuah tantangan; sebuah provokasi yang meruntuhkan benteng pertahanan intelektual Nayanika. Ia menyadari bahwa mereka hanyalah produk sistem pendidikan yang mencetak klerk yang patuh, bukan inovator yang kritis. Suara Dom terdengar berat, tetapi getaran sinar matanya menembus sampai ke ulu hati, Nayanika tidak mampu membalas tatapan itu; ia hanya membiarkan pandangannya hanyut pada tirai hujan yang kini mengisolasi mereka dalam ruang kedap yang sarat akan aroma kecemasan. Tantangan Dom terasa seperti tamparan yang membuktikan bahwa intensitas percakapan perihal bangsa itu telah mampu membuka kembali pintu rasa yang selama ini mereka kunci rapat-rapat di dalam hati masing-masing

Ketegangan itu akhirnya melunak saat Dom membuka sebuah payung hitam yang lebar, seolah menawarkan gencatan senjata di tengah kepungan tirai air. Tanpa kata-kata, ia mengisyaratkan Nayanika untuk merapat, membawa kebisuan yang sarat makna itu menyeberang menuju kedalaman Gedung Sonobudoyo. Mereka melanjutkan perjalanan di bawah perlindungan satu payung yang lebar, di mana hujan yang turun semakin deras mulai membasahi jaket dan ujung sepatu mereka. Namun, keduanya memilih untuk mengabaikan hal tersebut. Tantangan Dom tadi masih terasa seperti tamparan yang menyadarkan Nayanika bahwa selama ini ia pun hanya bersembunyi di balik tumpukan literatur demi menghindari realitas yang kasar. Perlahan, ia mengendurkan dekapan pada buku hariannya—sebuah gestur penyerahan diri yang halus terhadap dominasi keberadaan Dom di sisinya. Setiap langkah di atas tanah Yogyakarta yang basah terasa seperti pijakan di atas lapisan kenangan yang pernah mereka kubur dalam-dalam, di sela-sela sisa penjarahan prasasti dan perhiasan yang baru sebagian kecil direstitusi[8] dari Leiden. Nayanika menyadari bahwa tembok yang memisahkan mereka bukan hanya Pancasila atau Marhaenisme, melainkan rasa takut akan kerentanan jika mereka benar-benar menanggalkan atribut identitas masing-masing. Setibanya di dalam gedung, cahaya lampu yang redup memantul di permukaan kayu tua, menciptakan bayangan panjang yang seolah mengikuti langkah sunyi mereka. Nayanika mendadak berhenti di depan sebuah keris tua—mungkin sejenis Kiai Nogo Siluman[9] yang pernah hilang—menelusuri ukiran halus pada bilahnya yang tampak sengaja dibuat untuk mengingatkannya pada luka batin yang tak kunjung sembuh. Di sana, ia akhirnya memberanikan diri untuk bersuara, bukan untuk berdebat soal dialektika sejarah, melainkan untuk mengakui satu hal yang paling sulit ia ekskavasi: ketakutannya akan kehilangan Dom dalam labirin perbedaan yang mereka ciptakan sendiri.

Dom terdiam, membiarkan keheningan Sonobudoyo membungkus pengakuan Nayanika selama beberapa detik yang terasa abadi. Ia melangkah maju hingga berdiri tepat di samping Nayanika, menatap lekat pada bilah keris yang membeku di balik kaca. Dalam jarak sedekat itu, Dom berbisik pelan, menanyakan apakah pembuat keris tersebut pernah merasa dicintai sebelum hilang ditelan waktu, ataukah ia hanya pekerja seni yang terpaksa menghamba pada selera Mooi Indie[10] demi bertahan hidup

Nayanika menjawab singkat bahwa ia pernah merasakan kekosongan serupa melalui perannya sebagai penonton sejarah; merasa seperti subjek dalam lukisan Hindia Molek yang dikritik Sudjojono sebagai keindahan semu yang menutup-nutupi realitas pahit di baliknya. Di tengah keintiman aneh di antara benda-benda kuno, napas mereka terasa semakin berat. Dom memecah jarak, suaranya nyaris berbisik, tapi tetap tajam. “Naya, apakah kau masih melihatku sebagai ‘Tuan’ yang asing, atau sebagai pria yang ketakutan kehilangan arah di dalam seragamnya sendiri?”

Nayanika tidak langsung menjawab. Ia menatap pantulan dirinya di kaca etalase yang buram. “Aku melihatmu sebagai nama yang kau pinjam, Dom. Masalahnya, kau begitu mencintai pinjaman itu hingga lupa cara menjadi dirimu yang dulu—yang melukis pohon sederhana bersamaku.”

Dom tersenyum pahit, tangannya bergerak ragu seolah ingin menyentuh buku harian cokelat di genggaman Nayanika. Namun, ia berhenti tepat satu inci sebelum kulit mereka bersentuhan. “Mungkin kita memang ditakdirkan untuk menjadi arkeolog bagi satu sama lain; terus menggali, meski yang kita temukan hanyalah sisa-sisa kehancuran yang tak mungkin utuh kembali.” Nayanika menyadari bahwa berada dekat dengan Dom jauh lebih melelahkan daripada berlari menjauh darinya. Namun, kelelahan itu terasa manis karena ia merasa hidupnya menjadi nyata, melampaui segala ekspektasi status yang dipaksakan zaman.

Mereka akhirnya meninggalkan keheningan museum Sonobudoyo saat waktu seolah terhisap dalam percakapan yang tak kunjung usai. Semburat jingga di ufuk barat perlahan luruh, berganti dengan temaram lampu jalan yang menandai datangnya malam. Hujan deras yang tadi mengguyur kini mulai mereda—meninggalkan rintik, menyisakan genangan air yang memantulkan cahaya neon kota. Langkah mereka melambat, kembali melewati binar lampu kafe di sudut benteng yang mulai dipenuhi pengunjung, tetapi keduanya memilih untuk terus melangkah menuju kesunyian serambi kayu yang terasa hangat sekaligus lembap.

Di sana, Dom mulai membedah isi kepalanya tentang kehilangan dan topeng kekuatan yang selama ini ia pakai—sebuah bentuk pertahanan diri dari mentalitas terjajah yang menuntut kepatuhan buta pada aturan. Ia berbicara tentang bagaimana rongrongan ideologi sosialis yang ia pelajari dari Marxisme sering kali berbenturan dengan realitas feodal yang masih mengakar kuat di pundaknya sebagai bagian dari mesin pemerintah. Kegagapan mereka berdua dalam meraba esensi Marhaenisme menciptakan konflik yang melingkar; mereka terjebak antara membenci kapitalisme secara teoritis dan ketakutan terhadap pemberlakuan sistem yang membela kaum Marhaen secara praktis. Kalimatnya terdengar putus-putus seperti gelombang radio yang kehilangan sinyal. Namun, Nayanika tetap mendengarkan dengan seluruh perhatiannya. Baginya, mendengarkan adalah satu-satunya cara mencintai yang masih tersisa.

Keheningan di serambi kayu itu semakin pekat saat percakapan mereka beralih dari dialektika ideologi menuju ketakutan yang paling nyata. Ketika Dom akhirnya menyatakan ketakutannya akan kehilangan Nayanika, wanita itu tidak lagi berpaling; ia hanya menatap tetesan air yang pecah di genangan jalan sebagai simbol kepasrahan yang tenang terhadap takdir yang tak lagi bisa didikte oleh Kanjeng Tuan [11] mana pun. Sebuah pertanyaan tajam muncul dari bibir Dom mengenai kemampuan Nayanika untuk berjalan sendiri jika suatu saat ia benar-benar pergi. Pertanyaan itu menghantam jantung Nayanika seperti martil yang memecahkan kaca. Dengan nada pelan tetapi tegas, Nayanika menjawab bahwa ia akan tetap berada di sana meski Dom memutuskan untuk melangkah pergi. Ia memilih untuk percaya dan tetap hadir, bukan karena ia merasa kuat, melainkan karena ia sedang melakukan dekolonisasi pikiran—memilih untuk setia pada eksistensi dirinya sendiri tanpa bergantung pada pengakuan pihak luar, termasuk pengakuan dari Dom.

Di bawah sisa temaram yang memisahkan mereka dari hiruk-pikuk dunia luar, buku-buku jari mereka bersentuhan secara tidak sengaja. Sentuhan itu terasa begitu tipis, nyaris tak kentara. Namun, di balik persinggungan singkat itu, hadir sebuah penguatan batin yang meski rapuh, mulai menemukan kemandiriannya. Mereka berdiri sebagai dua subjek yang utuh; tidak lagi saling menjajah secara emosional, melainkan sedang belajar untuk sekadar ada di samping satu sama lain tanpa pretensi kasta. Langkah kaki mereka akhirnya membawa keduanya keluar dari batas-batas kaku batu benteng, menyusuri trotoar yang masih basah hingga malam di Yogyakarta menjelma menjadi sebuah lukisan melankolis yang belum selesai. Di sebuah sudut yang sepi, mereka menemukan kembali bangku kayu di taman yang dulu sering mereka duduki saat masih mengenakan seragam sekolah menengah—sebuah artefak personal yang tidak tercatat dalam kronik negara, tapi tersimpan rapat dalam memori mereka.

Nayanika duduk sambil menatap langit yang perlahan cerah ditinggal jejak hujan, membiarkan tawa kecilnya memecah kecanggungan yang telah mengendap bertahun-tahun. Di bangku itu, kasta intelektual dan beban konstitusi seolah menguap bersama sisa uap dari hembusan napasnya. Nayanika menoleh, menatap lelaki di sampingnya itu bukan lagi dengan mata seorang tenaga ahli yang menghakimi, melainkan sebagai lelaki yang lelah bersandiwara di balik seragamnya. Lelaki itu menyatakan keinginannya untuk tetap terjaga di sisinya setiap saat; menolak menjadi sekadar angka dalam catatan birokrasi atau penghuni sunyi dalam kenangan yang usang. Nayanika tersenyum, menyetujui keinginan tersebut dengan batin yang akhirnya menemukan ketenangan. Ia berharap ia akan tetap menjadi sosok perempuan yang ditemui Dom setiap hari, tanpa embel-embel gelar atau kasta sosial yang selama ini menciptakan tembok pemisah di antara mereka. Di bangku tua itu, mereka bukan lagi arkeolog atau abdi negara, melainkan lelaki dan perempuan yang akhirnya pulang ke rumah yang sama. Selebihnya hening kembali merayap pelan di rambut umur mereka.

Keheningan di bangku taman itu akhirnya pecah oleh desau angin malam yang mulai dingin, seolah mengisyaratkan bahwa pertemuan ini harus menemui titik jedanya. Sambil menghela napas panjang yang terasa lebih ringan, Nayanika menutup buku harian cokelatnya dengan pelan, menyudahi ekskavasi batin [12] yang melelahkan itu. Ia membiarkan jemarinya tetap berada di atas sampul lusuh tersebut sembari pikirannya terbang kembali ke memori masa lalu—tentang perpustakaan tempat mereka mencuri waktu dan lapangan sekolah tempat mereka bermain basket. Ketika itu Nayanika kelas tiga SMP dan Dom kelas tiga SMA. Meski mereka beda tingkat, tapi tetap satu kompleks persekolahan yang sama di bawah naungan sebuah yayasan milik swasta. Ia teringat bagaimana Dom selalu menggambar subjek yang kompleks dengan perspektif Barat[13] yang sempurna, sementara ia hanya mampu melukis pohon sederhana yang meneteskan embun pagi sesuai filosofi Timur yang bersahaja. Kini, saat mereka mulai beranjak meninggalkan keheningan taman di balik Benteng Vredeburg menuju sapaan lampu-lampu Malioboro, Nayanika menyadari bahwa keindahan yang selama ini ia sangka sebagai kekuatan Dom hanyalah dekorasi pinjaman yang menyesakkan. Dom kemudian mengambil alih payung di tangannya—meringankan beban jemari Nayanika sembari menghalau sisa rintik yang jatuh dari dahan-dahan tua—sementara mereka melangkah bersama keluar dari bayang-bayang tembok benteng feodal semoyang yang kaku menuju malam yang menjadi saksi; bahwa cinta bukanlah soal siapa yang paling cepat sampai di garis finis, melainkan tentang keberanian untuk mengembalikan nama yang dipinjamkan dunia, menanggalkan jubah Tuan yang membebani bahu, dan memilih untuk tetap hadir sebagai manusia merdeka[14] di tengah badai ideologi yang perlahan menyembuhkan luka sejarah mereka. []


Catatan Kaki :

[1] Indische Empire Style: Gaya arsitektur kolonial yang berkembang di Hindia Belanda antara abad ke-18 dan ke-19. Gaya ini mengadaptasi gaya Neoklasik Eropa (terutama Prancis dan Belanda) yang disesuaikan dengan kondisi iklim tropis Indonesia, seperti penggunaan teras lebar dan plafon tinggi.

[2] Dominus / Dominicus: Berasal dari bahasa Latin yang berarti “Tuan” atau “Milik Tuhan”. Dalam konteks feodal dan kolonial, istilah ini sering diasosiasikan dengan posisi otoritas atau penguasa tanah.

[3] Inlander Mentality: Istilah sosiologis yang merujuk pada mentalitas “pribumi” yang merasa inferior atau rendah diri akibat penjajahan ratusan tahun. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan hambatan psikologis bangsa Indonesia dalam bersaing di dunia internasional.

[4] Domein Verklaring: Deklarasi atau pernyataan kepemilikan tanah oleh negara yang tertuang dalam Agrarische Wet 1870. Aturan ini menyatakan bahwa semua tanah yang tidak dapat dibuktikan kepemilikannya oleh rakyat (secara legalitas Barat) adalah milik negara (landsdomein).

[5] Marhaenisme: Ideologi politik yang dicetuskan oleh Soekarno, yang berfokus pada perjuangan rakyat kecil (Petani, buruh, pedagang kecil) yang memiliki alat produksi sendiri namun tetap tertindas oleh sistem kapitalisme dan kolonialisme.

[6] Binnenlands Bestuur: Korps pegawai negeri sipil pada masa Hindia Belanda yang terdiri dari pejabat-pejabat berkebangsaan Eropa (Belanda) untuk menjalankan roda administrasi pemerintahan kolonial di tingkat daerah.

[7] Murbaisme: Paham yang berkaitan dengan Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak), didirikan oleh Tan Malaka dkk. Paham ini menekankan pada kedaulatan rakyat penuh dan perjuangan revolusioner yang lebih radikal dibanding diplomaasi.

[8] Restitusi: Proses pengembalian benda-benda bersejarah, artefak, atau kekayaan budaya yang diambil secara ilegal atau melalui kekerasan (jarah) dari negara asal ke negara pemilik sah.

[9] Kiai Nogo Siluman: Salah satu keris pusaka milik Pangeran Diponegoro yang sempat hilang dan dibawa ke Belanda setelah Perang Jawa, namun telah dikembalikan ke Indonesia pada tahun 2020.

[10] Mooi Indie: Secara harfiah berarti “Hindia yang Molek”. Sebuah aliran lukisan pada masa kolonial yang hanya menggambarkan sisi-sisi indah pemandangan alam Indonesia (gunung, sawah, gadis desa) untuk kepentingan pariwisata kolonial, yang kemudian dikritik tajam oleh pelukis S. Sudjojono karena mengabaikan penderitaan rakyat yang nyata.

[11] Kanjeng Tuan: Gelar kehormatan untuk pejabat tinggi Belanda atau penguasa pribumi; melambangkan jarak kasta dan kepatuhan mutlak.

[12] Ekskavasi Batin: Metafora penggalian memori dan jati diri layaknya ekskavasi arkeologi.

[13] Perspektif Barat: Nilai estetika seni yang mengutamakan akurasi matematis dan realisme fisik.

[14] Manusia Merdeka: Individu yang bebas secara mental dari pengaruh luar dan mandiri secara eksistensi.

NEED NOT TO KNOW
Baca Tulisan Lain

NEED NOT TO KNOW


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *