UPS!

UPS e1750181946421

Membaca adamu di sisi, seperti puisi panjang yang indah dan mengesankan, yang sulit disampaikan dengan cara lain pun lewat bahasa lain. Sebab setiap kata dalam sebuah bahasa punya makna dan nuansa, yang sering kali tak tertangkap oleh padanannya dalam bahasa lain. Mengulang-ulang mendaur jejak ingatan dalam laku dirimu untuk adaku, setiap itu pula aku temukan pelangi lain. Oh, adakah ini yang bernama jatuh cinta? Tidak dan tak! Sebab kita tak pernah saling menyatakan perasaan. Namun setiap kali kita berpisah, mengapa selalu merasa ada yang hilang dalam ruang dan peristiwa yang aku masuki?

Adakah sama? Terlalu porno memang jika aku bertanya langsung kepadamu. Ah, justru karena itu ceritanya menjadi melodius. Seolah aku tengah menikmati alur roman yang penuh kejutan dalam jejak baca. Padahal sejatinya sosok kita bukanlah tokoh fiksi. Astaga, apa yang tengah terjadi sebenarnya dalam laku diri? Adakah ini yang bernama bertepuk sebelah tangan? Haruskah aku merawat dan memupuknya sampai aku menemukan jawabannya dengan tepat? Lalu, bagaimana dengan waktu? Bukankah aku harus bisa menghindar dari waktu yang merugikan diri?

**

Betapa indah hadirmu di sisi, seperti sebuah puisi yang menyimpan makna ganda. Betapa luluh egoku di hadapanmu, seperti tengah berada di Padang Sabana. Ya, siapa yang tak luluh dengan aura hijau? Padang rumput yang dipenuhi oleh semak atau perdu dan diselingi oleh beberapa jenis pohon yang tumbuh menyebar, seperti palem dan akasia. Sistem biotik ini biasanya terbentuk di antara daerah tropis dan subtropis dan kau adalah mataharinya. Ah, adakah terlalu berlebihan aku memuja hadirmu? Bisa jadi, tapi kau bukan hiperbola dalam kisah hidup dan kehidupanku.

Dalam keadaan seperti ini, ingin aku menemui ahli bahasa. Ya, siapa tahu ia bisa menerjemahkan segenap rasa yang bergemuruh di sebalik dadaku. Namun di sisi lain aku teringat kepada Umberto Eco yang mengutip pepatah Italia; “setiap penerjemah adalah pengkhianat”. Mengerikan bukan? Ya, bagaimana tidak, toh dalam bahasa Indonesia, pepatah ini seperti sebuah kutukan, karena seolah-olah para penerjemah adalah para penjahat. Dalam kosakata mafia, pengkhianat adalah dosa yang setara dengan murtad. Tak berampun. Astaga, mengapa pula aku teringat pada kisah mak comblang yang berhasil mengusir sang pangeran, sehingga sang putri berhasil dibawa lari olehnya?

Ah, rasanya terlalu jauh ini kembara pikirku. Bukankah aku sendiri tak tahu apakah ini yang bernama jatuh cinta itu? Terkadang ada syahwat dalam memandangi peta tubuhnya? Dalam ketidak mengertianku ini haruskah aku bertanya pada gowok? Ah, bukankah kata pujangga; “cinta tanpa birahi itu omong kosong. Birahi tanpa cinta itu hal yang biasa”. Pusing sudah jadinya. Binasalah aku dalam mencari makna rasa yang bergolak bak kawah candradimuka. Tidak dan tak! Ya, sebab harapan itu ada, sebelum bunga rampai menghiasi tanah merah. Kini soalnya adalah, ke mana aku harus melangkah?

Timur ke Barat. Selatan ke Utara. Ah, seperti lagu saja, yang pada akhirnya tak juga aku temukan. Lupakan. Bilamana aku seorang nabi, tentu aku akan bertanya pada iblis. Mengapa? Ya, sebabnya adalah iblis selalu memberikan jawaban yang pasti ketika ditanya oleh seorang nabi. Disamping itu, meski iblis laknatullah, tapi hanya satu-satunya makhluk Tuhan yang konsekuen, sejak Adam dan Hawa diturunkan ke bumi. Ya, konsekuen dalam menggoda manusia. Ups, jangan-jangan segenap gejolak rasa yang bergemuruh di sebalik dada ini datangnya dari bisikan iblis?

Jika memang demikian adanya, lantas bagaimana dengan fitrah atau anugrah? Sepertinya aku harus menemui Mbah Google, sebab ini masalahnya krusial, perihal definisi. Gawaiku di mana ya? Ah itu dia. Sebentar. Berdasarkan hasil dari searching; pernyataan “cinta itu fitrah” memiliki makna bahwa perasaan cinta, baik mencintai maupun dicintai, adalah kodrat alami manusia, sesuatu yang sudah ada sejak manusia diciptakan. Ini bukan sesuatu yang dipelajari atau dibuat-buat, melainkan bawaan alami yang dimiliki setiap individu.

Sedangkan kalimat “cinta itu anugrah” adalah ungkapan yang umum dan luas digunakan untuk menyatakan bahwa cinta adalah suatu keistimewaan atau karunia yang diberikan kepada manusia. Cinta dianggap sebagai sesuatu yang sangat berharga dan tak ternilai harganya. Ah, kenapa pula selalu ada diksi cinta, dalam pencarian makna fitrah dan anugrah; bukankah makna dari cinta itu sendiri yang selama ini aku cari? Lama-lama aku bisa gila. Ya, ini semua disebabkan kau yang hadir di sisi. Datang tak di undang. Pulang tak di antar.

Meski kau bukan Jailangkung, tapi laku dirimu lama-lama menghantuiku sudah. Kenapa pula aku harus bisa menemukan jawaban dari pertanyaan diriku sendiri; adakah ini yang bernama cinta, ketika aku menemukan nyaman jiwa di sisimu? Bukankah aku ini sejak kecil haus oleh kasih sayang? Ya, sebab aku tumbuh dan besar di rumah yatim piatu sejak bayi. Dewasalah aku kini dan kau hadir di sisi tanpa sebuah undangan resmi dariku. Namun aku membukakan pintu untukmu, tanpa ragu.

Ya, Tuhan! Betapa bodohnya aku ini, ternyata yang selama ini aku cari itu perihal pintu yang dibuka tanpa ragu, adakah itu yang bernama jatuh cinta? Tidak dan tak! Bukankah sewajarnya laku hidup itu harus membuang segenap rasa curiga pada sesama? Musabab itulah kau dan aku bisa saling melelang bahasa. Bisa bercanda. Bisa saling percaya. Bisa makan sepiring berdua. Bisa saling membaca peta. Bisa tidur berdua. Ups! [Li]

Teater Dewala
Baca Tulisan Lain

Teater Dewala


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *