PUISI Lintang Ismaya

puisi STILISTIKA

STILISTIKA

Memahat keringat di sekujur tubuh negeri ini
Membaca maklumat dalam ruang-ruang nisbi
Sebutir peluru yang ditembakkan ke angkasa
Paksa mundur para demonstran di jalan raya

Rapat para petinggi itu begitu rapi tersembunyi
Selayaknya kau dan aku yang saling menjengkali
Sepakat tertata dalam daya reka nan raya, seperti
Seorang pedangdut—turut menggoyangkan hari

2025

POETIKA MERDEKA

Ini bukan Paris atau Rotterdam. Inilah Kota Tasikmalaya tempo dulu
Rel Trem yang membelah kota sampai Singaparna, bukan cerita saru
Belanda membangun peradaban begitu tertata penuh pertimbangan
Tak sembarang menanam-tebang. Tak seperti kini dalam perenungan

Yang katanya demi masa depan bangsa menuju puncak tugu Monas
Satu-satu kota karam dari mulai Lapindo sampai pembalakan ganas
Kekasih, Galunggung masih ngadeg tumenggeng, tanda tata buana
Hyang Agung masih adiluhung. Namun kabar dari utara, orang-orang

Linglung kian banyak masuk mengeruk pasirnya tanpa henti, seperti
Menambang pasir besi di bibir pantai yang belum saja bisa berhenti
Meski ancaman abrasi kerap sudah dikumandangkan bak gema azan
Toh, tetap saja masjid sepi dari jamaah. Ke mana falsafah semoyang

Kita diungsikan? Bukankah gotong-royong aplikasi dari kolektif teroka
Ikrar sumpah pemuda? Dari sebuah kelokan yang menurun ke Cimerah
KH. Zaenal Mustofa tinggal nama, tapi gaungnnya tak henti memerah
Keheningan sepanjang ruang gemuruh para pejuang di jalan merdeka

Kekasih, apakah makna merdeka itu, bagimu? Adakah kebebasan tanpa
Batas? Adakah kalkulasi dari perimbangan untung dan rugi? O, benarkah
Merdeka itu hanya cukong yang punya? Di tengah padang rumput tropis
Deras hujan mengguyurkan kegelisahan sekaligus bongkar sisa-sisa utopis

Dari para leluhur yang sudah rela menumpahkan darahnya demi poetika
Merdeka guna regenerasi bangsa tetap jaya di masa mendatang, tapi kini
Angin seolah memaksaku untuk terus berkhayal—jangan berburuk sangka
Sebelum kekalahan benar-benar terlanjur, melumat segenap ruang mimpi

2025

DALAM JALAN SEJARAH

Di lengkung langit malam
Yang mekar oleh ragam warna
Dari kembang api. Sementara
Tabah bumi, masih saja menahan

Tangisnya. Di ruang-ruang kuasa
Angka-angka masih saja bicara
Perihal rugi—disepuh rintih jelata
Dengan doa yang kian terkaca

Semua jadi dokumen, yang memonumen
Seperti sebuah pesawat, yang tertinggal
Di landasan—retak oleh kepentingan ilegal
O, ada banyak segmen, yang tersemen

Ya, ada banyak nama dan peristiwa
Yang dihilangkan, dari mulai nama hutan
Pengajuan dan perundingan. Dari nama
Peneroka, marga dan komplotan. Hewan

Kayu dan rumah hanyut. Gunung Padang
Yang bungkam. Sampai ada yang meradang
Tak kebagian nasi rendang, jadi boomerang
Panjang—menggelandang ke banyak ruang.

Ganti tahun bukan sekadar lepas kalender
Cobalah mendengar bukan melulu minder
Sebagaimana deder—seni berbalas pantun
Hanya laku di ini negeri sebelum ijab kabul

Di hadapan penghulu. Ah, apa kabarnya
Aura Kasih, Inara Rusli, Resbob dan Praratya?
Benar kata Purbaya; kita perlu keberanian
Dalam tangkap buaya, meski kematian

Membayang di ujung napas kegelapan.
Pada jejak telapak yang tersisa, nasib
Menebak arah angin dan cuaca salib
Dalam jalan sejarah—terbenam kiasan

2025

PUISI Ayie S Bukhary
Baca Tulisan Lain

PUISI Ayie S Bukhary


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *