Aku suka suara air. Debur ombak. Riak air telaga. Ricik air terjun dan kecipak air sungai. Bagiku, air sumber energi inti guna bisa menjalankan roda hidup dan kehidupan. Jika tubuh pohon, tubuh manusia, dan tubuh hewan tanpa mengandung air, mampukah beraktifitas? Di tepi danau adamu kini dalam merampungkan tangga makna dan berumah.
Memoir yang merayapi alir usia, tak semuanya bisa terkubur. Sebab hidup ada yang tersia dan ada yang tetap jadi rahasia. Seperti itulah catatan hidup manusia yang abadi dalam keropak ingatannya. Terkadang yang kekal bukan semata hal yang menyenangkan. Bahkan luka lebih dominan. Dan yang terkuburkan, bukan sebab setiap lapisan ingatan manusia terlalu tebal dengan data.
Dari rambut hingga dada itulah gerbang utama segaligus enigma pertama. Dapat pula dengan jelas kelihatan gerak dan geriknya. Dari pusar hingga ke bawah kunci utama dalam membuka enigma. Kemurnian jiwanya itulah taruhan utamanya.
Bicara memoir itu bicara jurnalis itu bicara empiris yang tak bisa genap diungkapkan dengan kata-kata. Sebagaimana bicara imaji itu bicara kesintingan dan itu kompleks. Seperti kisah di ruang biru itu pada suatu hari yang mendung, ada yang berkata, disertai dengan sumpah segala, yang disaksikan dua malaikat pencatat dan makhluk halus lainnya, perihal akan pergi sebentar.
Seperti pujangga bilang: Air mata bukan penanda kelemahan jiwa, melainkan murni inti rasa yang terkubur lama sebagaimana magma yang mencuat kepermukaan; mendedahkan segenap cinta. Air matamu yang jatuh di depan kompleks pekuburan itu penanda kemurnian rasa dalam kesungguhan jiwa yang masih menyimpan bara asmara di ruang inti rahasia hati. Di situlah adaku kini dalam ruang kreatif dan istirah. []









