KUBUR-KUBUR TERBUKA

kuburkuburterbuka

Duduk di dahan pohon yang tumbang tepi danau sambil melarungkan apa yang bisa dihanyutkan. Adakah ini tempat yang selama ini aku impikan. Sementara aku semakin tua dan butuh sesuatu untuk bersandar. Meski benar harapan itu senantiasa ada, sebelum bunga rampai menghias tanah merah. Nayanika, engkau kini entah ada di mana.

Kenapa kita tidak seperti anak-anak yang bebas bermain hujan-hujanan. Ya, kenapa kita tidak seperti mereka yang bergandeng tangan dan bermain kejaran di tanah lapang terbuka. Padahal kita pernah hidup di satu ruang yang sama. Pernah saling bertukar warna. Pernah saling membaca peta tubuh. Pernah menata galaksi yang ingin kita wujudkan.

Kenapa cipta kondisi itu sirna, padahal tidak ada rencana untuk hari esok selain mewujudkannya bersama. Apakah dewasa itu menyakitkan. Apakah dewasa itu patuh. Apakah dewasa itu saling membunuh. Apakah dewasa itu tidak akan pernah sama. Apakah ini yang namanya dunia gaib itu. Kenapa kisah kita seperti cerita picisan yang digemari kaum remaja kebanyakan.

Ngomong-ngomong tentang cipta kondisi, siapakah sesungguhnya yang dikondisikan. Di seberang danau itu dia pemilikmu. Dia mendapatkan anak darimu. Apakah dia mendapatkan hatimu. Apakah sudah terlambat untuk berpaling dan mulai dari awal lagi, jika benar dia tak mendapatkan nyaman jiwamu. Tidak dan tak. Kita sudah terlambat, seperti buku catatan yang dibaca menjelang ujian.

Sebaiknya aku mendongeng saja, seperti kau yang suka bercerita. Ya, berkisah apa pun dalam alur hidupmu dan jika tak didengarkan, suka karu-karuan. Begini; di negeri yang merdeka dengan penuh aneka mimpi, tapi sayang—para politisinya pandai mengibuli rakyatnya sendiri. Padahal rakyat itu majikannya. Lamat-lamat jadi republik mafia dan jadi mimpi buruk bagi segenap majikannya.

Berkabut. Ya, seperti asap dari rumah itu, pada punduh menugaskan bahwa ini kerja kolektif warga guna cipta kondisi terjadi dalam notasi kondusif. Namun disebalik itu asap disebar di luar pagar, kala pemilik rumah unjuk gigi bahwa itu semua sekadar atas nama, guna bergulirnya bola panas saja. Ya, seperti yang sering kau bilang: “Ekstra koboi mainnya miky mouse!”

Aku juga masih ingat bahwa kau penggemar sepak bola; masihkah tim favoritmu itu. Sepertihalnya aku yang suka pada pasukan pangeran biru dan tak pernah berubah sampai kini. Penanda setia. Adakah kaupun setia dalam mendukung tim kebanggaanmu itu sejak remaja. Ups, bolehkan kalau aku punya prediksi bahwa kau sudah pindah dalam mendukung, seperti kau yang pergi dari impian. Lupakan.

Apa kabarnya politik hari ini. Katanya disamping gelarnya palsu, aktornya pun sama palsu. Teringat boneka miky mouse dengan saputangan kotak-kotak, apakah kau masih menyimpannya sebagai kenangan yang tak terlupakan. Sementara, bulir-bulir air mata dalam tabung hijau-ungu itu masih tersimpan dengan baik di sini, jadi pintu rahasia dan tersia dalam tangga usia.

Di suatu tempat yang hanya kita tahu itu bisa jadi akhir dari segalanya. Menari perlahan di ruang kosong sambil membiarkan yang kesepian masuk untuk mengambil hatiku dan melepaskanmu. Namun aku terlalu takut untuk masuk ke dalam untuk rasa sakit dari luka purba. Akan tetapi kesepian akan tetap memeluk hingga kita terlelap di kedalaman tanah. []


Apakah artikel ini membantu?

One thought on “KUBUR-KUBUR TERBUKA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *