Membaca banyak jalan. Membaca banyak kemungkinan. Membaca nama-nama. Membaca ragam watak. Namun membacamu? Aku seperti membaca sebuah kehilangan yang tak ketemu-temu. Seperti sebuah buku filosofi yang tipis, tapi menyimpan banyak makna ganda.
Keselarasan kata itu tak bisa dimaknakan sama. Terkadang ada makna di luar padanannya itu sendiri. Seperti adamu di sampingku. Terkadang laku tak selaras dengan rasa. Terkadang rasa tak sesuai dengan langkah. Aku memahamimu sesuai kemampuanku.
Semua itu terjadi disebabkan kau menganggabku sahabat. Ya, seperti kau yang pernah berkata, bahwa sahabat itu seperti sebuah puisi yang familiar, tapi maknanya masih tersembunyi—menunggu untuk diungkap. Namun yang terjadi? Kau sendiri yang mengungkap; bukan adaku yang membacamu?
Seperti di anak tangga itu; ada ribuan alur yang ingin kau ceritakan, tapi bagiku itu sama saja. Nyatanya, semua berujung pada sunyi, meski jalan kisahnya berbeda. Ruang demi ruang itu tercipta dari banyaknya peristiwa yang kau lalui. Siapakah aku?
Ya, siapakah adaku di sisimu, hingga semua kisah lampau kau dedahkan begitu rupa? Sementara aku sendiri tak pernah punya kesempatan untuk bercerita kepadamu. Padahal aku pun sama—ingin menumpahkan segenap perjalanan hidupku, tapi kepada siapa? Bukankah kita sahabat? Picik?
Ah, adakah di matamu aku tak ubahnya tong sampah dari segenap ragam kisah yang kau tumpahkan? Entahlah. Terang dan jelasnya itu aku jadi ketagihan kala kau tak datang berkunjung. Ya, meski kisah-kisah itu sekadar epik, tapi tidak denganmu. Kisah-kisah itu jadi sejarah utuh adamu kini?
Mengulang-ulang; mendaur bahasamu di pucuk malam. Ada bayang wajahmu di secangkir kopi. Kepulan-kepulan asap rokok yang kuhisap semburkan ke udara; menjelma pentas layar kehidupan. Engkau di mana? Adakah ruang yang kerap kau ceritakan itu sebagai satu-satunya tempat nyaman di mana kau beraktifitas dan berumah?
Entahlah. Ingin kujumpai engkau di ini waktu. Namun aku tak pernah tahu di mana alamat pastinya—hanya sebuah gambar detail tentang ruang itu. Seperti kisah surga yang sering aku dengar sejak kecil, sebelum tidur. Kisah yang membuatku begitu takut untuk sekadar menyentuhmu dalam berjabat tangan sekali pun?
Ya, mendiang ibuku sering berkisah tentang surga dan neraka. Adakah kau neraka itu? Ya? Kata ibuku, neraka itu candu; candu yang membuat lupa segalanya, hingga mampu menahan segenap aktifitas ritual kepada-Nya. Jika engkau neraka, dimanakah jalan ke surga? Buntu? Jelasnya; neraka atau surga, kau telah mengisi ruang kosongku dengan sempurna.
Haruskah aku kembali mengosongkan ruang sepiku, tapi dengan apa? Haruskah ada yang lain hadir di sisi, tapi dengan siapa? Sementara, kata ibuku; segenap laku diri yang sudah dilalui tak pernah bisa dihapus. Jika pun bisa; hanya Acintya yang bisa menghapuskannya.
Ini kisah apa yang kutulis? Adakah kisah diriku yang jadi ketagihan atas hadirmu di sisi? Entahlah. Kenapa pula di itu waktu, aku begitu telaten dalam simak? Dan kau yang inten berkunjung, tak pernah selesai dalam berkisah. Delapan belas purnama lebih kita tak bertemu. Adakah kau sudah menemukan tong sampah baru?
Barangkali kau telah mati? Ya, sebab kau datang dan pergi sesuka hati, tanpa kutahu di mana kau tinggal dengan pasti. Anganku kini hanya satu, ingin mencari tong sampah baru untuk menceritakan segenap kisahmu dan kisahku pada ruang kosong yang benar-benar kosong?
Tepat. Kropak ingatanku perlu dibersihkan dengan sempurna; tak cukup dengan secangkir kopi dan berbatang rokok saja. Benar. Aku memang perempuan. Pecandu kopi dan rokok. Tuan. Kenapa pula aku ingat Acintya? Tapi aku harus ke luar mencari tong sampah baru dengan siasah jadi sahabat?
Ya! Seperti yang pernah Tuan lakukan. Apakah ada Acintya sebagai Tuan kala menguji imanku? []










Endingnya mengejutkan.
Sufistik
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹