NURANI

Inur

Apakah harus ada kata menyerah dalam menjalani alur hidup dan kehidupan? Sebuah tanya yang mungkin semua orang akan mempertanyakannya. Hidup tak ubahnya berita dalam ragam perspektif narasi. Hari ini aku dikabarkan begini, begitu, sebenarnya, faktanya, nyatanya, mungkin, barangkali dan narasi lainnya yang kesemuanya itu sudah dipastikan mencuat ke permukaan.

Namanya juga berita. Sebagaimana cerita yang memiliki ribuan alur dalam satu tema. Siapa yang menulis paparkannya bergantung dari sudut mana kala ujung pandang pengamatannya dalam inti sari narasinya itu. Seperti lirik cinta tak selamanya bahagia. Seperti lagu rindu tak selamanya pilu.

Di batas giris, aku meringis tiris, tapi terbakar. Bukan karena udara yang menabur zamharir. Bukan karena udara yang menyebar jahim. Tidak dan tak. Barangkali dalam hal ini Jean Paul Sarte benar bahwa neraka adalah orang lain, tapi Iwan Fals berkata bahwa keinginan adalah sumber penderitaan.

Kenapa pula membawa-bawa pendapat orang? Bukankah aku tengah berkisah tentang diriku? Begini: aku mendadak jadi buruan. Ah, bukankah buruan itu beranda? Masa jadi benda mati? Revisi. Begini: aku mendadak horor. Ah, masa jadi hantu, mati juga belum? Revisi. Begini: aku jadi pusat informasi. Bukankah Kementrian Penerangan sudah bubar, masa harus mundur ke Zaman Orba, sementara waktu tak bisa diputar ulang? Lupakan.

Sulit juga untuk memaparkannya, sebab tak semua pengalaman hidup bisa dibahasakan. Tidak semua apa yang kita rasa dalam hidangan yang ditelan itu tak bisa cukup diungkapkan dengan diksi hambar, pait, nikmat atau lezat saja. Jadi, apa yang ingin aku utarakan ini sulit untuk dibahasakan. Bukan berarti tak ada pula padanannya. Sebab tentang rasa, hanya bisa sampai oleh yang merasa.

Tapi bukan itu juga soalnya. Sebab ada banyak soal yang sebenarnya bisa dipecahkan. Kayak mobok celengan saja dipecahkan? Lumayan juga untuk pertahanan, kalau segala sesuatunya sudah habis? Kenapa pula jadi ngomong perihal simpanan? Memangnya aku cowok apaan? Lagi pula, mana ada Tanteu yang mau sama muka Dakocan? Om? Memangnya aku tukang aki, pakai ACDC segala?

Haduh semakin ngawur saja apa yang ingin aku utarakan. Bisa jadi posisi Utara sudah ada di Selatan. Lantas bagaimana dengan Penguasa Laut Selatan, apakah Ratu Kidul tidak marah bertukar tempat? Ngomong-ngomong tentang tempat, adakah tempat yang mampat-merapat, tapi bisa bikin merem-melek? Kayak iklan ratus rebus saja — mampat-merapat — mewangi sepanjang hari.

Ngomong-ngomong tentang hari: ada banyak janji untuk dilunasi di ini hari. Ada banyak agenda untuk diselesaikan tepat hari. Ada banyak hari melipat hari. Hari-hari penuh dengan nyeri. Kayak sumilangen saja. Ya, itu pun kata istri, katanya kalau sumilangen itu rasanya nyeri sampai bisa ke ulu hati. Barangkali isi hati yang ingin aku ungkapkan?

Bukankah isi hati itu darah dan urat nadi? Aku pernah menjulukimu Nadi, sebab tanpa hadirmu di sisi, waktuku terasa begitu sepi. Ngomong-ngomong tentang sepi, siapakah yang bisa menepi dari sanubari? Barangkali inilah yang ingin aku deskripsikan selama ini, yaitu perihal nurani. Nurani itu pengasuh hati dan kalbu.

Adakah kita lebur dalam nur? []

MENGANTAR KYAI ALI
Baca Tulisan Lain

MENGANTAR KYAI ALI


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *