DIARY ANNA

diary anna

Hai, perkenalkan namaku Anna, bisa dipanggil Nana, aku si Tangguh dan baik hati. Aku lahir di Lampung dan sekarang aku merantau ke Bandung setelah lulus dari kuliah. Aku adalah pecinta hewan, termasuk kucing. Aku tinggal di kosan yang tidak terlalu besar tapi cukup untuk sendiri, aku bekerja sebagai asisten pribadi dari pemilik butik terkenal di Kota Kembang tersebut : Rumah Butik Milenia.

Setelah menghabiskan waktu untuk bekerja disana sudah 3 tahun lamanya, aku memeutuskan keluar dari pekerjaan tersebuti dikarenakan telah bertemu dengan duda anak satu yang sudah menjadi pacarku. Menurutku dia baik dan memiliki sifat yang bertanggung jawab.

Pada tahun ke-2 di butik, aku diajak untuk kejenjang serius olehnya. Singkatnya, kami mempersiapkan semuanya selama satu tahun. Satu bulan sebelum aku menikah, aku memutuskan untuk resign, karna ingin fokus ke keluarga kecilku nanti. Kini aku sudah melewati lima bulan menjadi istri.

Tak terasa, pernikahan pun sudah sampai lima bulan berjalan. Aku sangat bersyukur ternyata keluarga kecilku semua mencintai hewan. Bahkan suami mengizinkanku untuk memelihara hewan yang aku rescue dari pinggir jalan. Aku memiliki satu kucing yang kuberi nama Molly, dia baik, manja, dan hobi makan. Awal aku melihat Molly rasanya tersentuh, karena badannya yang mungil, diperkirakan umur 2 minggu dan sangat kurus.

Suamiku dan anak sambungku sangat menyayanginya. Mereka memberikan Molly beberapa hadiah kecil seperti cemilan dan tempat tidur mungil. Seiring berjalannya waktu, saat aku sudah melewati umur pernikahan yang ke dua tahun, sifat asli kami kian menampakkan roman aslinya, yang pada akhirnya keluarga kecil yang kami bangun hancur, adanya kdrt gegara berbeda pendapat, termasuk aku dibiarkan jauh dari keluarga kandungku dan tidak bisa bertemu dengan keluargaku lagi.

Aku memilih keputusan yang sangat berat, aku memilih untuk bercerai, banyak sekali omongan yang tidak mengenakan, meski sebenarnya aku amat menyayangi anak sambungku. Tiga bulan setelah aku mengurus perceraian, aku hanya membawa satu yang paling berharga: Ya, si kucing Molly. Aku Kembali ke kosan yang sederhana itu bersama Molly, aku hanya bisa mencari pekerjaan serabutan dan untuk selebihnya untuk menucukupi semua kebutuhan lainnya dengan sisa uang tabunganku.

Dua bulan berlalu, aku tidak mempunyai uang sepeserpun karena biaya sana-sini terlalu banyak, aku sudah berusaha untuk menjual jajanan seperti donat dan dimsum pada saat itu, tapi semuanya tidak bisa menutupi kebutuhanku. Aku sudah berusaha, yang akhirnya aku pasrahkan semuanya pada Tuhan. Aku dan Molly benar benar tidak makan selama dua hari, hanya meminum air putih yang sudah disediakan oleh pemilik kosan. Molly selalu pulang membawa serangga dan membiarkannya di dekat aku menaruh piring-piring,

Aku berpikir mungkin Molly ingin aku memakannya tanpa dia tahu aku tidak akan bisa memakan bangkai serangga yang telah ia buru. Aku bermalam untuk berdoa sambil menangis memeluk Molly, ia tidak berisik, tidak mengeluh hanya menatapku diam, sampai aku tertidur. Aku terbangun saat adzan subuh berkumandang, ketika aku ingin beranjak dari Kasur, suara gawaiku terdengar, adanya telefon dari teman lamaku di butik, ia mengatakan bahwa aku diminta untuk bekerja lagi di situ.

Aku sangat bahagia dan tidak bisa berkata apa-apa lagi, aku hanya bisa bersyukur dan berterima kasih pada diri. Karena ternyata bisa langsung bekerja di hari itu juga, aku tidak sempat untuk mematikan telefon itu, langsung memeluk Molly dan bergegas untuk siap-siap bekerja. Sesampainya di butik, ternyata aku langsung berhadapan langsung dengan pemilik butik, dan yap, aku ditunjuk sebagai manager.

Kaget, bagaimana bisa langsung secepat ini?. Kana teman lamaku ini semua hasil dari penilaian tiga tahun yang lalu. Mengetahui hal itu, maka aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan ini. Setelah satu bulan aku bekerja di butik lagi, aku bisa memiliki teve, kasur yang nyaman, dan makanan yang banyak; termasuk Molly memiliki kendang, makanan dan cemilannya sendiri. Aku bekerja keras bukan hanya untuk aku sendiri, tetapi Molly; kucingku yang sangat mengerti di setiap keadaan yang sudah kita berdua lewati.

Molly tidak bisa berbicara, tapi dia tau cara berterima kasih, menundukan kepala adalah “terima kasih” dan mengibaskan ekornya ke atas bawah adalah “iya” dan ke kanan kiri adalah “tidak”, itu semua selalu dialakukannya. Singkat kisahnya, setelah aku bekerja selama 4 tahun, aku bisa membeli rumah sederhana, meski dipinggiran kota, tapi akses angkot masih lewat ke sana, meski lebar jalannya masih terbilang kecil.

Disamping membeli rumah yang sangat sederhana, dua tahun berikutnya aku pun bisa membeli kendaraan pribadi. Kini kehidupanku sangat lebih dari cukup dibandingkan dengan sebelumnya. Ya, aku tidak menyangka bisa berhasil melewati semuanya.

Dan aku juga tidak menyangka bahwa Molly jatuh sakit. Segera kumembawanya ke rumah sakit hewan. Aku tidak bisa berpikir jernih pada kondisi seperti itu; aku hanya memiliki Molly di sini. Dan Molly harus dirawat berminggu-minggu. Setelah kondisi membaik, aku merawatnya di rumah. Molly hanya diam menatapku. Terlihat dari sorot matanya, Molly memiliki tekad hidup yang tinggi, ia berusaha untuk sehat.

Tetapi hari demi hari kondisi Molly tidak membaik, sejenak aku mengingat umur Molly yang sudah tua dan mungkin memang sudah waktunya? Aku memilih untuk ikhlas dan membisikkan kepada Molly: “Molly, Nana tidak akan menahan kamu untuk pergi, jika kamu tidak kuat menahannya, tidak apa-apa, Nana ikhlas, asal Molly udah ga sakit lagi, makasih Molly udah menamani Nana sepanjang hidup Molly”, aku menangis hingga tertidur.

Pagi datang, ada pantulan cahaya dari jendela, aku terbangun dan melihat Molly sudah tenang dan tidak merasakan sakit lagi. Tuhan memang Maha Designer yang tak tertandingi. Satu hal yang aku ingat bahwa hilang satu tumbuh seribu. Aku menguburnya di beranda rumah dengan kain putih menghadap kiblat, dengan ikhlas aku doakan dan aku tidak menyesal sedikit pun, aku telah memaksimalkan usahaku untuknya.

Pastinya aku tetap mencintai hewan apapun, meski aku tau, akan adanya hidup dan mati. Paska penguburan, aku bertukar pandang lebih dari satu menit berjalan dengan seorang anak perempuan berseragam putih-biru, yang tengah menunggu angkot, persis di seberang rumahku. Wajahnya mirip sekali dengan mantan suami. []

RIAK
Baca Tulisan Lain

RIAK


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *