SALES DI SALESI SAMPAI SELESAI

Salesman

Keberangkatanku kali ini bertujuan untuk menemani temanku yang bukan sahabatku tetapi salah satu partnerku, saudara senasib yang jauh dari keluarga persisnya sadulur perantau yang ditakdirkan satu kantor.

Namanya Mas Iq sarjana S1 Pertanian lulusan UPN Yogyakarta Istimewa. Saking istimewanya, ia kuliah jurusan Pertanian tapi bekerja di bidang Marketing. Dan sepertinya banyak juga orang-orang yang punya kesamaan, termasuk aku yang lulusan MAK jurusan Elektronik tapi malah bekerja di Marketing, alias Sales. Bedanya aku lulus di Kota kecil Kebumen, yang waktu itu slogane “Kebumen Beriman”, kalau sekarang tak tahu apa, soalnya ganti bupati ya ganti slogan dan Mas Iq lulus di Yogyakarta yang akan selalu “Istimewa” karena ada keraton dan tidak gonta-ganti Pimpinannya.

“Bisa nyopir ga Mas bro?”

“Bisa sich Pak cuma maju mundur dan itu pun ga berani jauh”

Ya, aku simpulkan saja bahwa jelas aku yang harus pegang pengendali berbentuk bulat yang ada di sebelah kanan bagian depan mobil Alphard Generik warna putih itu. Kunaiki mobil tersebut di susul mas Iq masuk. Kustarter mobil itu sambil kuputar alat pemutar on off AC di mobil.

“Pak Pake AC ya Pak ? ga bisa ngrokok atau boleh ngrokok, pak?”

“Boleh donk, mas, ini bukan POM Kok, bro, buka saja kaca mobilnya dikit, wong aku juga ngrokok, kok!”

“Kemana dulu kita, Mas?”

“Eeeu.. sebentar, Pak, saya lihat data,” katanya sambil mengambil gawai berbalut solasi yang dipotong sedikit kurang rapi.

“Ke Ketua MKKS dulu, Pak.”

“Siap, Pake Google Maps, ya, dan tolong nyalakan voice-nya biar gak kelewat belokannya, saya juga belum faham jalurnya karena masih baru di sini, mas, jangan sampai kaya temanku ngerem mendadak dan hampir celaka gegara kelewat dikit belok masuk gangnya, bahaya emang lho sebenernya nek kita nurut-nurut banget sama G-Maps ini lho. Mestinya kita harus tahu patokan agar tidak tersesat dan akhirnya ripuh sendiri”

“Apa itu ripuh Pak? Saya ga ngerti Pak”

“Ripuh itu bahasa Indonesianya ya Sengsara dan sengsara itu bikin rapuh manusia..he he he”

“Wadaaah masuuuk, Pak,” teriaknya

“Pak nanti bapak yang membuka omongan ya Pak, saya belum ngerti cara mengawali obrolan untuk ke relasi”

Ternyata ada mindernya juga dia, mau bertemu seorang yang disebut Ketua, padahal ya sebenarnya sama-sama makan nasi tho, kecuali makannya beras hitam alias pasir baru mungkin kita harus cari cara baru. Padahal satahuku untuk diterima kita tinggal nyetting tampilan saja. Rapih, wangi, baju mahal, celana branded, jam tangan mahal, sepatu KW cukuplah diinjek ini, kan dan jangan lupa mobil Pajero Sport nyewa perjam itu cukup untuk kita dianggap layak diterima mereka bahkan dipuja.

“Ya siap ,inget ya tolong Mas perhatikan caranya dan itu boleh dipake boleh tidak di setiap mau nemuin relasi, karena situasi dan kondisi bisa merubah rencana yang kita susun. Kuncinya salam, salim, sungkem sun tangan ya karena beliau orang yang mau kita sowan ini sudah pasti lebih sepuh dari sampean.”

“Ya, Pak, itu bagian dar Adab to, Pak “

“Betul, tapi terkadang adab, etika, toto kromo itu dianggap bentuk yang tidak manusiawi, terlalu bertele-tele dan teatrikal, salaman ya salaman saja, berjalan ya berjalan saja, gak usah mbungkukin badan rada miring dikit, tangan di turunin kebawah sambil bilang punteun. Dawuhe Simbah itu, budaya dengan agama itu mesti jangkep ibarat ‘tutup ketemu tumbu’,”

“Yaa Alloh… Sang Hyang Murbeng Dumadi!!”

“Pak, kok pake buntutan itu, sampean kejawen, to?”

“Ya saya Kejawen! Kejawen syar’i!!” Teriakku. Terlihat Mas Iq menggeserkan tubuhnya ke kiri nempel ke pintu mobil yang kami naiki.

Sambil kuinjak pedal Gas sembari membaca Bismillah Laa haula Wala Quwwata Illa Billahiil ‘Aliyyil ‘Adziim. Pandanganku sekilas aku arahkan ke orang yang duduk sebelah kiriku ini dari ujung kaki yang berbalut sepatu casual warna abu yang sudah mulai kusam minus kaos kaki, celana hitamnya yang sudah mulai berubah kecoklatan, baju motif bergaris mengingatkanku baju khas mantan calon presiden berambut putih seperti rambut di kepalaku, bedanya warnanya kemejanya ini biru putih, bukan hitam putih dan gara-gara baju itu bisa ada manusia yang tadinya kawan “kenthel” menjadi lawan.

Sambil kutekan 2 kali klakson kuat kuat tanda aku berangkat aku mbathin Semestinya aku harus melihat ada gesper di antara baju dan celananya di bawah pusar, SOP nya sekarang harus seperti itu, Aku tancap gasku lagi dan kutambahkan gigi kopling ke level berikutnya untuk memudarkan mbathinku agar tak aku keluarkan ucapan yang gak enak, karena dari pertama dia ikut meeting bajunya tidak berubah model dan warnanya.

Di sepanjang jalan aku pasang signal kesalesanku yang mulai melemah oleh kemalasan yang sering datang dan meniupkan angin sepoi-sepoi mengajakku ke rasa kantuk yang mengantarkanku ke hamparan mimpi-mimpi yang selalu menjanjikan keindahan yang entah kapan akan terwujud.

Selepas tikungan di depan aku melihat mobil-mobil muatan, Truk-truk dan motor-motor yang searah denganku terparkir berjajar tak rapi di bahu jalan Nasional Cileunyi-Cirebon.

“Mas Iq sepertinya ada operasi gabungan, nih,”

Kulihat sabuk pengaman punyanya dan punyaku sudah terpasang, aman.

“Wah banyak banget, Pak itu Polisinya, jarang-jarang pemandangan seperti ini, Pak di daerahku,”

Terhenyak aku, wah, SIM-ku sudah diperpanjang belum, ya, Oh Alhamdulillah aku teringat waktu itu aku Izin kerja 2 hari untuk memperpanjangnya. Kenapa juga harus libur untuk membuat kartu seukuran bungkus rokok bahkan lebih kecil dan mahal itu.

“Awas, Pak !!” Teriak mas Iq.

Spontan aku injak kuat rem agar tidak menabrak truk muatan di depanku yang ngerem mendadak, tapi langsung tancap gas lagi kerena salah satu Polisi nunjuk-nunjuk ke sopir truk di depanku. Muka mengkilat karena panas terik matahari, juga keringat sedikit berminyak becampur debu jalanan menjadikan kesan serem, sangar yang tampak olehku kala melihat Bapak berseragam yang sudah berumur kisaran 47 tahunan.

“Weh weh weh kabur dia padahal sudah di semprot lho sama Pak Polisi,”

“Dikejar gak Mas Iq ya kira-kira,” coba main tebak-tebakan sambil berharap cemas dan sedikit kuselipkan do’a semoga tidak dikejar. Karena bisa jadi hasil kerja supir berkurang bahkan bisa juga nombok buat bayar tilangan.

“Nggak di kejar tuh, Pak sama Bapak Polisi yang nunjuk- nunjuk tadi, tapi itu di depan ada lagi segerombol orang yang pake seragam coklat rompi hijau pupus gedang, Pak,” dengan bahasa medoknya sambil tertawa nunjuk ke depan.

“Tapi kayaknya nggak, Mas, gak di-stop kayaknya”

“Iya, Pak gak di berhintiin, tuh,”

“Syukurlah,” ucapku lega.

Pikiranku seketika teringat motor hitam berpolet merah berlambang sayap punyae Mas Iq dan sempat kulihat, Platnya bulan 5 2024.

“Mas Iq ini bahaya buat kamu nanti kalau ke lapangan sendiri pakai motor mu yang di kantor itu, bisa-bisa jadi makanan empuk buat beliau-beliau”

“Iya, Pak bahaya ini, gimana ya?,” Sambil melakukan ritual menggaruk-garuk kepalanya.

“Tapi tenang, Pak, saya rencananya pas Cuti Natal saya ta ambil motor saya yang satunya lagi di Jakarta”

“Lha kok di Jakarta ? kok ga di Tegal?”

“Dulu saya kan pernah kerja di Jakarta pernah kerja di bagian Konstruksi”

Wis sis wis , istimewa lagi nih jurusan pertanian malah nanduri bumi pakai besi dan semen.

“Di perusahaan mana emang, Mas?”

“Di PT. Wika, Pak,”

“Wah Perusahaan bukan ecek-ecek itu Mas, berapa lama kerja disana dan kenapa keluar, kan gajinya gede toh?”

“Iya Pak perusahaan besar dan proyeknya besar-besar dimana-mana, 2 tahun saya Pak kerja di Wika, saya gak betahnya susah libur dan pindah-pindah Pak meski gajinya besar ya gimana lagi, Pak capek dari kota satu ke kota lain.”

“Itu mati pajak berapa tahun, Mas?”

“3 Tahun Pak sama ganti kaleng,”

“Wah lumayan itu mas dan rada merepotkan , Gesek mesin dan proses lainya yang ribet dan ga bisa online tuh antar provinsi, padahal ya sudah jaman online to,”

“Mahal juga, Pak.”

“Apalagi nanti Pajak naik 12% to, yaa?”

“Gak Pak kan motorku bukan motor mewah, yang mewah Cuma rumahku, Pak.”

“Hiyaa.. mepet sawah to maksudmu,”

“Aman, donk kalau begitu nggak kena kenaikan Pajak,”

“Gak aman juga to, Pak, di negara kita biasanya yang dinaikin apa yang kena imbasnya siapa, pasti rakyat kecil juga kan yang merasakanya.”

“Kan dikasih banyak kompensasi juga lho, Mas.”

“Iya, Pak tapi kan itu juga terbatas dan pastinya ga selamanya, paling hitungan bulanan.”

Mau bagaimanapun aku yakin Rakyat Indonesia tetep “Bakoh” dan bisa “ngiguhke” kehidupannya dengan kemandirian.Terus berprasangka baik terhadap pemerintahnya.

“Eh ngomong-ngomong masih jauhkah mas itu lokasinya?”

“Eeeuummh… 25 Menitan lagi, Pak.”

Aku mengerenyitkan dahiku, sudah mulai siang ini tapi kami belum ada laporan ke Group yang pasti sudah banyak yang meng-upload foto buat laporan visit hari ini, meskipun sudah biasa aku terlambat upload hal seperti itu ke group.

“Mas Iq coba lihat di Maps ada sekolah terdekat ga yang bisa kita kunjungi?”

“Sebentar saya Chek”, Krik krik krik, suasana hening sejenak.

“Ada ini Pak namanya Yayasan Al-Mizan.”

“Oh boleh hayuu kita ke situ dulu.”

“Iya, Pak siap, sudah dekat 200 meteran lagi sampai,” terlihat sederet spanduk terpampang menggambarkan Yayasan yang akan kami kunjungi.

“Itu, Pak sebelah kiri jalan masuknya.”

Begitu Masuk ini kok kaya rumah makan ya, eh tapi ada jalan sebelahnya, dan mulai terlihat bangunan beberapa rumah megah berdiri kokoh, aku masuk ke dalam dan luas juga ini Yayasan, dominan warna hijau beberapa bangunan di dalam kompleks yayasan ini, tapi yang bangunan megah di depan tadi tidak berwarna hijau, agak kontras sih tapi kalau di-cat sama juga mungkin takut dikira gedung AULA sekolahan nantinya.

“Setahu saya, Pak, ini yang punya anggota DPR RI lho Pak dari partai berlambang Bola dunia dan 9 bintang itu lho, Pak.”

“Oh partai itu to, Mas Iq, Kok sepi ya, Mas? tak cari parkiran dulu, ya, nanti kalau ada orang tanyakan kantornya mana.”

“Di depan saja, Pak, parkirnya, tuh ada orang, Pak, tapi kaya tukang cilok di depan tadi Pak saya perhatikan”

“Ah kamu, mas, masa sih, coba turun dulu dan tanyakan, mas.”

Dia pun turun lalu mendatangi yang katanya Mang Cilok tadi di depan, terlihat ia menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak tahu sepertinya. Lalu aku pun turun Nimbrung obrolan mereka.

“Gimana, Mas Iq?”

“Nggak tau, Pak ngomong apa nih Bapaknya, saya belum paham bahasanya,” bisiknya kepadaku

“Makanya belajar to, Mas, mas,” selorohku.

“Kumaha, Pak, manawi uninga kantor Kepala sekolah?” aku bertanya.

“Punteun, Pak , Abi mah teu uninga ruang kepala sekolah, mah, ngan pami Bumina mah uningaeun abi mah, ka bumina we atuh Pak ku abi di jajap da eta di payun percis Payuneun Mushola.”

“Oh, Muhun, Pak Wios sanes waktos wae, hatur nuhun, Pak.”

“Muhun atuh, mangga.”

Lalu aku memutuskan mengajak Mas Iq menuju ke musholla untuk ngadem dan nyebat dulu dan waktu baru menjukan jam 10.00 WIB, okelah cukup untuk kami melanjutkan perjalan lagi dan menyelesaikan pekerjaan hari ini.***


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *