MELAWAN BABI BABI INTOLERANSI
seperti menjadi babi
kenyataan yang memilukan itu
terbuka di hadapan langit
– yang tak sekalipun menutup mata –
bagaimana orang-orang di kemudian hari
melihatnya memakan kotorannya sendiri
orang-orang sholeh
memakluminya sebagai pelajaran bagi kemanusiaannya yang tak dirawatnya dengan waspada
para bajingan
memang cuma tahu
bagaimana menjadi babi
yang membuang kotorannya
di tempat di mana dia makan dan berada
sebagai ciptaan yang paling dimuliakan
para bajingan kerap kali lupa
atau boleh jadi memang itu maunya
agar mereka dapat berbuat seenaknya
begitulah kisahnya
selepas dikeluarkannya keputusan gila itu
udara seketika berbau petaka
bagi kedamaian negeri setengah sorga di dunia
negeri
tanah air beta
yang amat kucinta
langit meneteskan airmata akibat dari pedihnya luka
Tuhan memalingkan wajahnya
untuk yang kesekian kalinya
huru hara
telah dibakar otak jelaga
seorang walikota tak berjiwa
kegaduhan
telah diciptakan oleh tangan
penguasa gila
yang tak bisa memimpin kota
aku berteriak murka
dan kukutuk sang walikota
menjadi pohon cemara
yang kering daun-daunnya
medsos esok paginya
diramaikan dengan kabar
matinya kewibawaan
seorang walikota celaka
yang dibunuh oleh kebebalannya yang paling sempurna
dalam hitungan tak lama
tahun baru akan tiba
tutup semua pintu dan jendela
babi-babi intoleransi akan kembali masuk kota
kita jaga
sepenuh jiwa
ini musuh
bukan tak bertenaga
lebih bahaya dari belanda
aku hadang mereka di muka
dengan kata-kata yang kupunya
kalian melawannya
sekuat daya
dengan kesadaran
dan cinta
kita anak bangsa ini
mesti menangkan ini negeri
melawan babi-babi intoleransi
sekali biar pun mati
atau negeri ini
mereka kencingi
30 Desember 2025



