Kalau tidak salah, pada akhir tahun 1967 aku masih ingat betul, dari pinggir pagar pemandian Karang Setra, apabila tatapan mata menyapu ke arah barat, sampai ujung kaki langit, kita akan disuguhi pemandangan hamparan sawah dan kebun menghijau. Kadang diselingi rumpun bambu gombong yang pucuknya berlomba menuding langit. Lamat-lamat kita bisa menghitung satu-dua rumah kampung mengintip dari balik rimbunan pepohonan.
Dari hamparan hijau itu, ada dua anak sungai melintas dari arah utara ke selatan. Satu anak sungai Cikadal Meteng, dan lainnya anak sungai Cibeureum. Kedua anak sungai itu tentu saja airnya sangat jernih. Aliran air dari kedua anak sungai itu, berfungsi sebagai sumber irigasi bagi sawah-sawah penduduk yang berada di kiri dan kanannya. Anak sungai itu tak pernah limpas, airnya tenang, walau pada musim penghujan sekalipun.
Acapkali anak-anak kampung berenang di badan anak sungai yang dibendung menggunakan potongan gedebog pisang atau tumpukan batu-batu. Lain waktu, anak-anak juga memancing ikan di cerukan yang penuh tumbuhan perdu. Ikan lele, bogo atau beunteur masih dengan mudah dijumpai di sana.
Awal pemerintahan Orde Baru, ditandai dengan menggeliatnya perekonomian nasional. Tak terkecuali, semakin melonjaknya kebutuhan properti, di sektor perumahan. Dimulai pada penggalan tahun 1980-an, pembangunan rumah-rumah elit memperlihatkan animo yang cukup besar. Pengembang berlomba mencari lokasi lahan yang akan digunakan untuk pembangunan kawasan perumahan, dengan berbagai pertimbangan. Terutama harga lahan yang tergolong murah.
Kawasan Blok Bojonagara, daerah yang diungkap di atas, tidak luput dari incaran para pengembang.
Saat ini, kawasan itu sudah berubah. Sudah tidak dapat dijumpai hamparan sawah dan kebun. Jembatan bambu yang melintasi anak sungai Cikadal Meteng, sudah diganti dengan konstruksi beton. Di atasnya melintas jalan Sindang Sirna, yang menjadi urat nadi pergerakan manusia dari arah Timur menuju Barat Kota Bandung.
Perubahan formasi tata letak kawasan, sebagaimana terjadi di atas, tidak terlepas dari peran saling berkelindan antara pengembang, calo tanah, penyandang dana dan tentu saja aparat pemerintah. Apakah di dalam prosesnya terjadi kolusi dan manipulasi? Saya tidak memiliki kewenangan untuk mengungkapkannya. []




