KOMUNIKASI VIRTUAL 

eko

foto: Dr. Eko Wahyuanto, pada saat mewakili Indonesia dalam kongres UPU  (Universal Postal Union) yang diselenggarakan di Ethiopia.

Di balik layar virtual, peserta duduk diam, sebagian antusias, penuh perhatian. Kamera menyala, sebagian nampak gelap, pasif, dan senyap, terkesan tidak serius.

Narasumber berbicara penuh semangat, tapi disambut keheningan mutlak, isu penting seakan lenyap dalam void pixel.

Digitalisasi memang menjanjikan kemudahan, tak perlu berpakaian rapi, tak perlu ke lokasi seminar, cukup klik dari mana saja.

Tapi efisiensi itu membunuh esensi. Silaturahmi menjadi semu, semangat kolektif berubah menjadi notifikasi. Kehadiran fisik diganti absensi virtual; tingkat login tinggi, tapi jiwa absen dari ruangan.

Narasumber bukan lagi pemateri, melainkan aktor tunggal melawan layar ruang bisu. Mereka berjuang membaca ekspresi dibalik layar, menghidupkan diskusi dengan susah payah.

Sementara peserta? Dari sisi efisiensi, komunikasi virtual memberi benefit, Multitasking, orang bisa sambil mengemudi, makan di resto atau selesaikan pekerjaan lain, tetapi yang terjadi hanya transfer ilmu tanpa dialog, satu arah.

Pakar komunikasi Prof. Dr. Alois A. Nugroho, bilang: “Komunikasi digital mengerdilkan empati, tanpa tatapan, tanpa bahasa tubuh, kita kehilangan 70% makna.” Teknologi memang mempercepat akses, tapi memperlambat pemahaman. Joke narasumber tak disambut tawa; insight mendalam tenggelam dalam distraksi.

Komunikasi modern bukan soal koneksi internet, melainkan koneksi hati. Mesin tak mampu menangkap getar semangat, tak bisa membangun ikatan kemanusiaan. Jadi jangan biarkan digital menggantikan manusia, ia hanya alat, bukan jiwa yang bernyawa. Bayangkan saja, dalam seminar tatap muka, ada senyum yang saling bertaut, gemuruh tepuk tangan, dan diskusi yang mengalir atraktif memacu adrenalin untuk tahu. Peserta tak hanya mendengar, tapi merasakan energi ruangan, bertukar pandang, dan membangun jaringan autentik. 

Di sana, ide-ide bertabrakan, lahir inovasi baru dari perdebatan hangat, bukan dari chat box yang dingin. Maka kita tak boleh bergantung pada virtual, sehingga menjadi kebiasaan melekat. Banyak yang lupa betapa berharganya sentuhan manusiawi. Studi dari Universitas Harvard menunjukkan bahwa interaksi langsung meningkatkan retensi pengetahuan hingga 40%, karena otak kita berevolusi untuk membaca isyarat nonverbal. Tanpa itu, pembelajaran menjadi superfisial, seperti membaca buku tanpa merasakan emosi nyata.

Lalu, bagaimana menyiasatinya? Mungkin hybrid menjadi jalan tengah, menggabungkan kemudahan digital dengan esensi fisik. Dorong peserta menyalakan kamera, gunakan breakout room untuk diskusi kecil, atau tambahkan elemen gamifikasi agar interaksi lebih hidup. Narasumber bisa memanfaatkan polling interaktif, bukan monolog panjang. Tapi intinya, ingatlah: teknologi harus melayani manusia, bukan sebaliknya.

Di era pasca transformasi digital, saat dunia semakin terbuka, mari kita renungkan. Apakah kita mau terus terjebak dalam kotak layar, atau kembali ke ruang nyata di mana hati bertemu hati? Aktivitas melalui layar virtual bukan sekadar transfer data, tapi pembentukan jiwa kolektif. Jangan sampai kemudahan membuat kita kehilangan apa yang membuat kita manusia utuh, dengan rasa empati, koneksi, dan semangat bersama. Komunikasi virtual yang terlalu sering, dapat membunuh “inner humanity” tersebut.


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *