Di sebuah lembah yang diberkahi oleh Pencipta, terhamparlah sebuah sungai yang mengalir indah, dengan liuknya yang perkasa, seperti seekor anakonda—oleh penduduknya ia disebut Sungai Kehidupan. Hulunya, ibarat jantung semesta, bersembunyi di balik pegunungan hijau yang permai. Di sana, air lahir dari mata air bening, meresap ke akar-akar pepohonan purba, dan menyuburkan hutan.
Para sesepuh di Desa Mata Air, kampung yang memeluk kaki gunung, selalu berpesan, dengan suara yang berat oleh kearifan: “Jaga hulu, jaga gunung, karena ia adalah denyut nadi bumi kita. Dari sanalah kehidupan mengalir, tanpa jeda, tanpa cela.” Mereka hidup dalam keselarasan yang mendalam, memahami bahwa setiap tetes air yang membasahi bibir mereka adalah anugerah suci, titipan dari kemurnian yang tak berhingga.


AKAL.IMITASI
Jauh di bawah sana, ratusan kilometer dari Desa Mata Air, Sungai Kehidupan merajut takdirnya, membelah daratan luas yang amat subur. Di tepiannya, di Kampung Muara Harapan, Nisa kecil tumbuh besar, dengan tawa secerah mentari yang belum tersentuh awan. Ayahnya adalah seorang petani yang lahannya selalu basah dan gemuk oleh kesuburan, berkat limpahan air sungai yang tak pernah ingkar janji.
Ibunya, seorang nelayan tangguh, selalu pulang dengan jaring yang penuh ikan-ikan segar. Sungai itu bagi mereka bukan sekadar aliran air; ia adalah pasar mereka, sumur mereka, taman bermain mereka, surga mereka, dan bahkan penjaga tradisi leluhur.
Nisa seringkali duduk di tepi sungai, matanya memancarkan kekaguman saat melihat air mengalir deras, seolah membawa pesan dari jauh. Ia tahu, di balik riak dan gelombang, mereka semua terhubung oleh benang yang tak kasat mata dari sungai ini.
Sungai ini, bagi Nisa dan penduduk Kampung Muara Harapan, adalah darah yang mengalir dari jantung gunung, melewati pembuluh-pembuluh kecil, memberi makan setiap sel kehidupan, hingga akhirnya bermuara ke samudra luas, membawa serta harapan dan keberkahan.

Suatu hari, angin perubahan membawa kabar dari kota besar. Para “Pembuat Peradaban”, demikian mereka menyebut diri, dengan gagasan yang diukur oleh angka dan diukir oleh cetak biru, berencana membangun sebuah Bendungan Raksasa di tengah perjalanan Sungai Kehidupan. “Ini adalah langkah maju yang tak terelakkan demi kebaikan kita semua!” seru mereka.
Suara mereka penuh keyakinan dan janji-janji masa depan. “Bendungan ini akan mengendalikan amukan banjir, menghasilkan listrik berlimpah yang tak pernah padam, dan menjamin pasokan air bersih bagi kota dan industri besar yang terus tumbuh!” tandasnya, dengan tidak lupa menyisipi perihal lapangan pekerjaan untuk warga sekitar, seperti penjaga bendungan dan lapangan pekerjaan lainnya.
Di satu sisi, Mbah Aruna di Desa Mata Air hanya terdiam, mengusap jenggot putihnya yang tipis. Ia merasakan getaran halus di bumi, seolah alam sendiri tengah menahan napas. Di Kampung Muara Harapan, warga awalnya menyambut dengan gembira, membayangkan rumah mereka tak lagi terendam banjir, dan lampu-lampu akan menyala lebih terang di malam hari. Nisa kecil pun ikut bersorak, membayangkan tak ada lagi malam gelap.

Bendungan itu akhirnya tegak berdiri, megah dan kokoh, menjadi saksi bisu ambisi manusia. Gemuruh alat berat yang sebelumnya memekakkan telinga berganti dengan keheningan air yang tertahan di balik dinding beton. Di kota, memang, lampu-lampu semakin terang, pabrik-pabrik berdengung tanpa henti, dan banjir tak lagi mengancam jalanan. Bendungan itu tampak berhasil menjalankan tugasnya.
Namun, perlahan tapi pasti, Sungai Kehidupan mulai menunjukkan gejala kelelahan. Di Kampung Muara Harapan, aliran sungai yang dulu gagah itu kini hanya menyerupai seutas benang tipis. Airnya menjadi keruh, terkadang bahkan terasa asin karena air laut masuk lebih jauh ke daratan, menelusup ke sumur-sumur.
Dalam kasus ini, tentu saja tak ada yang bisa disalahkan, toh bendungan bisa berdiri pun hasil dari mufakat warga yang memberikan persetujuan. Disamping itu warga yang dipekerjakan untuk mengelola bendungan pun nyata adanya. Destinasi wisata pun tercipta dengan sendirinya, jadi ladang ekonomi tambahan bagi warga sekitar.

Ya, plus minus itu senantiasa ada. Sepertihalnya kita tidak bisa membaca kehilangan, tetapi hanya bisa merasakan. Sebagaimana ayah Nisa yang tak lagi bisa mengairi sawahnya. Tanah-tanah yang dulu subur kini pecah-pecah, padi-padi mengering sebelum sempat berbuah.
Ibu Nisa, sang nelayan tangguh, pulang dengan jaring kosong. Ikan-ikan tak lagi berdatangan, habitat mereka rusak tak dapat dikenali, jalur migrasi mereka terputus oleh tembok raksasa di tengah sungai. Air sumur penduduk mulai mengering, memaksa ibu-ibu berjalan berkilo-kilometer di bawah terik matahari, mencari air bersih yang layak—untuk sekadar bertahan hidup.
Tawa-riang Nisa di tepi sungai perlahan memudar, digantikan oleh tatapan kosong dan pertanyaan yang menghantuinya: “Kenapa sungai kita sakit, Ayah?” Ayahnya hanya bisa menggeleng, tanpa kata, tanpa jawaban yang bisa menenangkan hati dan pikir putrinya. Ia sendiri merasa begitu banyak kehilangan, yang tersisa hanyalah kenangan kala masa kecilnya, yang masih tersimpan abadi dalam keropak ingatannya.
Linang air mata bukanlah solusi. Gairah selalu ada sebelum hikmah terbaca. Benar kata leluhurnya bahwa keinginan itu, merupakan salah satu sumber dari penderitaan. Gegara ingin terang lampu di rumahnya dan ingin menyaksikan siaran sepak bola luar negeri di kanal-kanal stasiun televisi.

Di Desa Mata Air, Mbah Aruna melihat perubahan pada pohon-pohon di hutan. Beberapa dahan mulai layu, daun-daunnya menguning sebelum waktunya. “Pohon di hulu merasakan apa yang terjadi di hilir,” bisiknya pelan. Ia tahu, sungai ini adalah satu kesatuan, seperti tubuh manusia. Jika satu organ sakit, seluruh tubuh merasakan nyeri.
Jika jantung (hulu) diatur tanpa peduli aliran darah (sungai) ke kaki (hilir), maka seluruh tubuh akan menderita, bahkan lumpuh. Sepertihalnya efek samping dari mengkonsumsi zat psikotropika yang berlebih—bukan hanya sekadar kecanduan, tapi mampu juga merusak seluruh sistem saraf tubuh.
“Air itu bukan sekadar air, Nak,” kata Mbah Aruna kepada cucunya suatu hari. “Ia adalah ingatan bumi, pembawa kehidupan, jembatan antara masa lalu, kini, dan nanti. Sebagaimana digemakan oleh para bijak bestari dalam khazanah kebijaksanaan Islam, segala sesuatu di alam ini diciptakan dengan ‘mizan’ —keseimbangan yang sempurna.
Merusak keseimbangan ini, menghentikannya, mengubahnya tanpa hikmah, berarti merusak bukan hanya aliran air, tapi juga ingatan, kehidupan, dan masa depan. Kezaliman terbesar bukanlah hanya pada manusia lain, tapi juga pada diri sendiri, ketika kita merusak alam yang adalah bagian dari amanah kita.”

Kisah Sungai Kehidupan ini adalah cerminan dari cerita kita semua. Ia mengajarkan filosofi yang sederhana, tapi juga mendalam, menyimpan sebuah pesan yang mestinya mengalir dalam setiap relung-renung sanubari:
Air Adalah Hak Asasi yang Suci: Setiap tetes air adalah kehidupan itu sendiri, dan setiap insan, tanpa terkecuali, memiliki hak atasnya untuk kebutuhan dasar. Undang-undang mungkin menjadi pilar formal, tetapi keadilan sejati terwujud—manakala hak ini benar-benar terpenuhi—mulai dari hulu yang bening hingga hilir yang menanti.
Alam Adalah Satu Kesatuan yang Utuh: Hutan di gunung, air di sungai, tanah di sawah, ikan di muara, dan manusia yang bernapas di atasnya—semua terjalin dalam simpul-simpul kehidupan yang tak terpisahkan. Menjaga hulu bukan hanya soal melestarikan pohon dan gunung; ia adalah tentang menjaga denyut nadi kehidupan bagi seluruh tubuh sungai, yang tiada henti menghidupi jutaan jiwa di bawahnya.

Sebagaimana pesan bijak para ulama: “Jika kita memelihara bumi, bumi akan memelihara kita.” Ya, sejatinya manusia adalah bagian dari alam, bukan entitas yang terpisah atau superior terhadapnya. Dalam pandangan tasawuf, alam bukan sekadar objek, melainkan manifestasi dari keagungan Tuhan yang harus dihormati. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS., Al Baqarah ayat 11-12:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di bumi’, mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang mengadakan perbaikan’. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.” ayat ini menegaskan bahwa kerusakan lingkungan sering kali disebabkan oleh manusia yang mengira sedang berbuat baik, padahal sejatinya menyalahi fitrah keharmonisan alam.
Dalam tasawuf, konsep “insan kamil” atau manusia paripurna itu mengajarkan bahwa manusia harus menjaga keseimbangan spiritual, sosial dan ekologi. Musabab itulah, mengapa manusia dilahirkan ke muka bumi ini dibekali nurani, guna bukan sekadar untuk memperkaya diri oleh materi demi penuhi ragam kebutuhan jasmani saja, yang tak bisa dibawa mati.
Maka; Mendengar Jeritan Hilir adalah Panggilan Nurani: Kemajuan yang hanya dinikmati segelintir pihak, atau yang dibangun di atas air mata dan penderitaan pihak lain, bukanlah kemajuan yang bermartabat. Kita harus memiliki kepekaan untuk mendengarkan jeritan lirih dari mereka yang terpinggirkan, dari tanah yang mengering, dari sungai yang kehilangan napasnya. Keadilan sejati tak bisa hanya berada di atas kertas, ia harus mengalir hingga ke akar-akar penderitaan.
Kebijaksanaan Melampaui Kekuatan: Membangun bendungan raksasa adalah manifestasi kekuatan teknologi dan kecerdasan manusia. Namun, kebijaksanaan sejati adalah mengelola kekuatan itu dengan harmoni, dengan pemahaman mendalam tentang ekosistem yang rapuh, dan dengan empati yang tulus terhadap semua kehidupan yang bergantung padanya. Ini adalah amanah yang harus diemban dengan penuh kesadaran.

Sungai Kehidupan kini menanti. Apakah kita, sebagai insan modern yang dikaruniai akal dan nurani, akan belajar dari kisah Nisa dan Mbah Aruna? Apakah kita akan menyadari bahwa menjaga hulu, menjaga sungai, bukan hanya tugas sekelompok orang atau kewajiban formal, tetapi adalah tanggung jawab moral dan spiritual kita semua untuk menjaga alam?
Bahwa setiap tindakan kita di satu tempat memiliki riak dampak ke tempat lain, dan bahwa keadilan air adalah fondasi dari keadilan sosial yang sesungguhnya?
Ini adalah panggilan bagi kita semua. Mari kita pahami, dengan hati dan akal, bahwa setiap upaya tulus menjaga hutan, setiap tetes air yang kita hemat, setiap kebijakan yang mempertimbangkan dampak hulu-hilir, adalah wujud nyata dari menjaga alam, menjaga kehidupan itu sendiri. Karena di setiap aliran sungai, terhamparlah denyut harapan yang tak pernah padam bagi masa depan kita. []








