Kau tahu; Kaya itu ketika tidak lagi mengejar lebih. Seperti halnya perbedaan budaya, ia tidak menjadi skat di antara rukun warga yang berbeda keyakinan dan budayanya. Seperti halnya bagaimana cinta hadir tanpa harus menuntut konflik besar, melainkan melalui lapisan-lapisan perenungan dan dialog yang halus. Hingga mampu menyingkap berbagai realitas sosial dan psikologis yang membentuk interaksi mereka, menjadi simbol ketulusan dan keikhlasan.
Realitas ini mengidentifikasikan bagaimana hidup dan kehidupan di ruang dan peristiwa modern, sering kali menjadi simbol dari tantangan yang dihadapi oleh individu, yang sekaligus pelakunya dalam mempertahankan identitas dan nilai-nilai tradisional dari akarnya. Rupa konteks seperti ini mempresentasikan realitas kehidupan secara autentik yang mengandung makna keragaman budaya, yang tak bisa lepas dari tekanan sosial.
Namun satu hal yang harus diingat, bahwa kesunyataanya konflik antara tradisi dan modernitas, serta kompleksitas relasi antarpribadi, hal tersebut tidak menggambarkan dunia dalam hitam-putih, tetapi menghadirkannya dengan penuh nuansa, yang membuat pembaca dapat merasakan keaslian pengalaman di ruang dan peristiwa tersebut, yang tidak hanya berfungsi sebagai representasi manusia yang terus bernegosiasi dengan identitas, cinta, dan sistem sosial yang kompleks.
Dalam hal ini, posisi kita sebagai pembaca atau sebagai figur naratif dari sisi mimetik, yang mana identitas bukan hanya dilahirkan, tetapi bisa dinegosiasikan melalui hubungan antar personal dengan adanya tekanan eksternal. Gambaran seperti ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat yang majemuk. Di mana dalam pandangan kita menjadi kritik sosial yang tajam dan reflektif. Di sisi lain, realitas ini sangat dekat dengan pengalaman kaum urban, yang mana hal tersebut memperkaya lapisan makna tanpa mengurangi kredibilitas realistiknya.
Di sisi lain, gaya kaum urban ini membuat realitas lebih menyentuh secara emosional. Secara lebih luas, representasi ini, meski pun mendalam, tetap bersifat selektif dan sebagainya, sebab tidak semua kaum urban bisa merasakannya, ada juga kaum urban yang termarginalkan oleh sistem, sebagaimana kaum masyarakat bawah; meski pun tetap menggambarkan kenyataan hidup yang penuh tantangan dengan kompleksitas kemanusiaan yang universal dalam tekanan jarak geografis, serta dinamika batin tiap individunya.
Musabab itulah banyak orang kewalahan secara mental di tengah dunia yang semakin kompleks dan serba cepat, baik dari tekanan pekerjaan, hubungan asmara, ketidakpastian ekonomi, hubungan sosial yang penuh dengan dinamika, hingga ekspektasi diri yang kerap tak realistis dalam menghadapi tantangan hidup yang datang silih berganti. Maka sangatlah wajar adanya jika dalam situasi seperti ini, ketahanan mental menjadi aset penting. Namun sayangnya, tidak semua individu tahu bagaimana cara membangunnya.
Meski demikian, Epictetus, salah satu Filsuf Stoik yang paling berpengaruh di zamannya, justru telah membahas tentang ketahanan mental jauh sebelum istilah tersebut populer. Meski Epictetus hidup lebih dari 2000 tahun lalu, tetapi ajaran-ajarannya tetap relevan hingga kini. Uniknya, ada satu kunci perihal ketahanan mental dari pemikirannya tersebut, yang jarang dibahas, yaitu: “Penguasaan terhadap opini pribadi”. Ia pun pernah berkata: “Bukan hal-hal yang mengganggu kita, tetapi opini kita tentang hal-hal itulah yang mengganggu kita.”
Selintas-pintas, ungkapannya tersebut senada dengan Khalil Gibran: “Bukan makanan yang masuk ke tubuh kita yang membuat kita sakit, tetapi ada pikiran-pikiran lain yang menggerogoti tubuh kita”. Jelas sudah, letak kunci penting benang merahnya itu ada pada ketahanan mental yang sering terabaikan. Sebagaimana yang sudah kita ketahui bahwa ketahanan mental bukan ditentukan oleh beratnya masalah, tapi oleh cara kita menafsirkan masalah tersebut. Misalkan, ada dua individu bisa menghadapi situasi yang sama, tetapi reaksi mental mereka bisa sangat berbeda, hal itu disebabkan karena cara berpikirnya tidak sama.
Lantas apa hubungannya dengan kalimat: kaya itu ketika tidak lagi mengejar lebih? Kalimat tersebut merupakan rambu dalam kehidupan sehari-hari, katakanlah; dalam percakapan yang memancing emosi, dalam pekerjaan yang menantang, dalam pailit yang datang tak terduga, yang harus diingat pertama kali itu adalah pikiran. Pikiran yang harus bisa mengendalikan badan, bukan badan yang mengendalikan pikiran. Artinya gunakan logika dan tampilkan karakter terbaik kita. Dan satu hal yang harus tetap di ingat itu adalah; selamanya kita tidak bisa memilih keadaan, tetapi kita bisa memilih sikap dalam menghadapi ragam kesulitan.
Simpulnya; kesulitan itu tiada lain hanyalah sekadar jalan menuju kekuatan batin yang lebih besar. Dengan kepala dingin dan hati yang tabah, manusia bukan hanya sekadar mampu bertahan, tetapi juga bisa berkembang dalam badai kehidupan. Jika hal itu terjadi, niscaya buah ikhlas-lah yang senantiasa dipetiknya. Musabab itulah mengapa makna dari kaya itu ketika tidak lagi mengejar lebih? []









