“Jika tak paham sastra, tolong jangan coba menafsir dalam kudeta.” Begitu yang pernah aku dengar dari seorang kritikus sekaligus sastrawan ternama. Kala itu aku kurang begitu paham pada alur pernyataannya tersebut, meski verbal. Namun waktu yang terus bergulir tanpa bisa dihentikan, yang terus membentuk segenap adanya aku hingga kini: Lama-lama benar juga pernyataannya tersebut.
Apa yang dituliskan seorang belum tentu bisa ditafsir sama arah tulisannya itu ke mana. Sebagaimana tulisan-tulisan Afrizal Malna yang kaya dengan diksi-diksi benda. Kata bukan lagi kata. Meski Sutardji bilang bahwa kursi itu kursi. Dan itulah realita dalam momok fakta. Mendaur ulang bahasa terkadang selalu ada yang di luar makna kata itu sendiri.
Jalan-jalan terbuka lebar dalam tafsir yang kian menggelandang ke banyak ruang hingga segudang tanya menebar jala dalam petik buah makna. Keselarasan ini bukti konkret adanya alur pikir. Akan tetapi adakalanya ruang pikir itu jauh dari makna yang sebenarnya dan itu fakta yang tak bisa dibantah dalam panggung realita. Siapa membaca siapa pada akhirnya tak bisa lepas dari jebakan pikirannya sendiri.
Di sisi lain, dinding-dinding hati tak pernah bisa lepas dari nurani. Musabab itulah dalam perjalanan membaca tak bisa sama dengan penglihatan kasat mata itu sebabnya kenapa Tuhan memberi perangkat mata batin yang harus bisa dibuka guna tak salah dalam membaca dan melangkah. Satu hal yang harus di ingat, bahwa patahan-patahan itu bukanlah utuh sudut pandang. Namun jangan pernah berhenti dalam kumandang, sebab itu fitrah dari Yang Maha Terang.
Apa yang aku tuliskan ini pada kesunyataanya itu adalah bicara karya sastra itu berbicara prihal rumusan dalam ruang-ruang kemungkinan dengan ragam tafsir yang beragam. Sebagaimana satu ayat kalamNya yang bisa bermakna ganda. Di situlah kebesaranNya itu berada. Jadi, boleh. Kau boleh menafsirkan apa pun dari ragam tulisan karya sastra yang tengah dan sudah kau baca dalam menarik simpulkannya.
Akan tetapi tujuan dari makna yang sebenarnya itu mutlak milik penulis. Sebagaimana Sitor Situmorang yang menulis puisi Malam Lebaran : bulan di atas kuburan. Hingga banyak tafsir yang ditulis oleh pembaca mengenai isi, makna, atau pesan puisi tersebut. Mereka mendasarkannya atas teks puisi tersebut semata. Entah dengan pendekatan struktural ataupun semiotik. Misalkan, bisa juga seseorang menafsir bahwa diksi bulan yang dipilihnya itu adalah nama seorang perempuan, sehingga logis untuk diterjemahkan. Namun pada kesunyataanya apa yang dimaksudkan Sitor dalam diksi bulan itu adalah? []









