DIALEKTIKA ICUN

warna 2

Berbicara dilaektika tentu saja secara harfiah kita sudah mengetahuinya, yaitu cara berpikir dan bernalar yang melibatkan dialog dan debat untuk mencapai pemahaman atau kebenaran tentang suatu masalah. Namun dalam bentuk filsafat, dialektika sering kali merujuk pada proses menemukan kebenaran melalui perdebatan antara ide-ide yang berlawanan.

Sebagaimana tulisan Ihsan Farhanuddin (Icun) yang berjudul MUDAH-MUDAHAN [lihat] yang dimuat pada hari senin di Rubrik Hiburan pada Kolom Celoteh. Dalam hal ini tentu saja Icun tak serta-merta memberi judulnya seperti itu. Padahal isinya tentang perihal warna. Adakah yang janggal?

Selintas pintas memanglah mengganjal. Akan tetapi ketika ditelisik dengan seksama, ternyata judul itu sebuah jawaban dari dua pertanyaan. Pertanyaan di paraghraph pembuka dan paraghrap terakhir. Mengapa sebuah jawaban? Sebab dalam narasi pemaparan awalnya dalam menjawab pertanyaan tersebut dengan kalimat pembuka: “Saya tak tahu pasti warna itu apa.”

Jelas, logika dalam permainan bahasa mulai terasa. Soalnya adalah, Icun begitu impresif dalam memaparkan perihal warna, sampai melampaui di luar padanannya, termasuk warna lain dari warna yang bisa dijabarkan sebagai berikut:

“Konvensi yang menentukan keberagaman jenis ini warna dengan sub subnya itulah inovasi emosional manusia.” Paparnya dalam pembuka paraghrap ke lima atau ke empat dari pertanyaan di paraghraph pertama. Hal inilah yang menjadi suatu formasi kekonyolan cerdas.

Di sisi lain berujar: “saya tidak tahu pasti warn itu apa.” Laju melanjutkan dengan symbol atawa lambang: “Ada madzhab merah putih biru dan lainnya.” Kemudian dilanjutkkan dengan kalimat: “Faktanya ragam warna itu semakin mengecilkan empati jiwa yang seharusnya besar, malah menyempitkan kesadaran yang seharusnya luas.”

Jelas, pilihan diksi yang dirakit oleh Icun merupakan hasil riset dalam alur hidup dan kehidupan di keseharian serta hasil belajar di ruang kelas. Jika saja tulisannya itu diberi judul BUTA WARNA, maka hal itu tidak akan masuk logika, toh yang dipaparkannya itu merupakan hasil dari konvensi perihal warna yang sudah disepakati oleh masyarakat literat.

Hal ini dipertegas dengan susunan kalimatnya yang berbunyi: “Untuk saat ini, saya hanya bisa ikut saja menerima – mengapresiasi hasil konvensi sebagian orang di dunia, sebagaimana kata indah itu muncul bagi keintiman pribadi yang berlaku “mungkin” bagi orang lain.”

Maka sudah dipastikan judul mudah-mudahan itu guna menjawab dua pertanyaan di paraghraph pertama dan paraghraph akhir: “Apakah matahari itu biangnya warna, sebab bisa melahirkan ragam warna kala membias di air bahkan dalam bayang-bayang fatamorgana?” laju: “Bisakah disebut warna?” maka jawabannya itu mudah-mudahan.

Mengapa tidak menjawab ya? Disinilah teks-konteks dan interteks-nya berada, Icun tengah memberikan pemahaman dengan si objek bisa menyimpulkannya sendiri. Sebagaimana dalam paraghraph sebelumnya memapar kalimat: “Ya hanya sebatas mudah-mudahan. Sebab banyak manusia berperang soal warna, soal selera. Sebagaimana kecintaannya terhadap warna favoritnya bisa membuat suami dan istri gagal berhubungan intim,” []

PELAJARAN DARI PENGAKUAN
Baca Tulisan Lain

PELAJARAN DARI PENGAKUAN


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *