Belajar berkata-kata dari sebuah makna kata, akankah bisa melahirkan sebuah tulisan yang kaya akan makna? Tentu saja sangat bisa, akan tetapi hal itu akan bisa dipaparkan dengan baik, kala jejak baca dari makna kata itu sendiri sudah bisa dipahami dengan sempurna. Bagaimanakah caranya, agar bisa memamah makna kata dengan sempurna?
Tentu saja hal itu bukan sekadar mencari padanan kata dari kata itu sendiri. Sebab yang tak tersirat pun harus bisa ditemukan. Sebagaimana makna kata bagaimana yang bukan bermakna bagai. Bukan pula bermakna mana. Bagaimana adalah kata tanya, yang digunakan untuk menanyakan keadaan, cara, atau proses terjadinya sesuatu. Kata ini digunakan untuk memperoleh penjelasan yang lebih rinci tentang suatu hal.
Misalkan: Bagaimana sebuah Menara bisa jadi monumental kalau hanya sekadar berdiri? Bagaimana sebuah keputusan bisa menentukan segenap langkah kalau tak rampung dalam jejak baca? Bagaimana dan bagaimana itu akan melahirkan bagaimana, yang bagaimana-kah rupa bagaimana-nya itu? Sampai tanya itu menemukan titik dalam langkah eksekusi.
Meski kedepannya akan kembali bertemu dengan bagaimana, akan tetapi dan tentu saja hal itu terjadi dengan peta konflik yang baru, yang harus ditemukan titik koordinat bagaimana-nya? Bagaiamana? Bagaimana dari berbagai-bagai jawaban akan menemukan buah putusan hasil dari bagaimana itu sendiri.
Rumit memang. Seperti halnya berbicara sebab akan melahirkan sebab laju ber-sebab kemudian musabab sampai menemu musabab dari kesunyataanya sebab, dan meski pada akhirnya akan balik lagi pada sebab itu sendiri. Ruang-ruang tercipta, tentu saja tak lepas dari ragam peristiwanya itu sendiri. Peristiwa bisa tercipta karena ada laku hidup yang melatarinya.
Hidup yang bukan sekadar hidup. Hidup dalam meng-hidup-i yang hidup. Hidup yang hidup itu hidup dari hidup. Hidup-lah hidup. Pada akhirnya jatuh pada tanya hidup sendiri: Ke-hidup-an untuk hidup atau hidup untuk ke-hidup-an? Semua itu balik lagi pada makna bagaimana yang jadi sebab dalam laku hidup. Lahirlah resiko dalam laku aksi yang dipilih dari ragam putusan, hingga jadi satu putusan untuk dijalankan.
Sebagaimana di balik latar putusan itu adalah putusan beradu putusan jadi putusan yang disepakati dalam laku putusan pun dalam laku aksi. Aksi dan aksi berkolaborasi jadi notasi aksi yang bisa diprediksi kala menjalankan laku aksi yang melahirkan reaksi. Dalam aksi yang melahirkan reaksi, senantiasa menyimpan laku seksi, sebab disitulah titik tolaknya kala ada pikat. Pikat demi pikat saling mengikat dalam langkah komitmen.
Sebagaiman rampak para nabi dalam pola petuahnya itu hanya satu saja, yaitu; komitmen dalam laku konsekuen adalah jalan mutlak keabadian. Keabadian apa pun itu nama-nya. Ngomong-ngomong tentang nama? Di situlah letak pondasi komitmen berada dengan atapnya konsekuen.
Namun manusia selalu lupa pada siapa atas siapa dan untuk siapa itu berlaku siapa? Sementara untuk laku dirinya luput dari makna siapa dia dalam alur lakunya itu sendiri? Sebagaimana pepatah tak pernah salah: semut di pulau terlihat, gajah di pelupuk mata tak tampak. Cermin mutlak ini bukanlah tentang ironis dan satir lagi, akan tetapi ada makna lain yang lebih.
Di manakah makna lebih-nya itu? Adakah di lubuk bahasa? Ke lubuk bahasa pun tak bisa menemukan padanannya. Sebab tentang rasa hanya bisa te-rasa dalam benar-benar me-rasa-kan mutlak rasa-nya itu dengan sempurna tercicipi rasa-nya itu bagi yang sudah sampai di titik koordinat rumasa.
Simpulnya, apa pun capaian Anda, termasuk merangkai kata-kata sekalipun itu harus bisa sampai pada titik koordinat rumasa. Sebab dalam harfiah rumasa itu sudah tersimpan ruang dan waktu, serta peristiwa-nya itu sendiri dari makna kata bagaimana, yang tadi dipilih dari titik tolaknya belajar berkata-kata, misalkan. Selamat mencoba!
Bagaimana? []









