PELUKAN PENGHUJAN
Hujan pun merata membawa ceritera kau dalam pelukan
Hangat tubuh berlabuh membaca hela nafas
Titik keringat sama basahnya dengan jalan di depan
Tertidur lelap di dada terdengar degup ria
Hela nafas hembus mengusap lapis kulit
Sementara damai dari penjara dunia
Erat pelukan bersama menuju lelap
Nyanyian jatuh air hujan sayup perlahan
Dan…
Bandung, 31102016

SAJAK-SAJAK Yanto SN
SEBAB ARAK
Melenggang di gelanggang malam
Tidak ada yang dicari selain menenggelamkan diri hingga lebam
Menyusun potongan puzzle tentang kelam
Beraraknya gumpalan awan mendung menaungi kemana arah langkah
Dengan tenaga kelenturan motorik gagah
Segala etika di belah dengan pesta mewabah
Setelah kendur otot melelah parah datanglah susah
Malam bulan mendekati penuh terang
Terhenti di ujung jalan buntu gelap gang
Mendongakan kepala membaca kerlip bintang
Bergumam desah degup kencang
Sampaikah ke titik hasrat masih juang
Malam bulan mendekati penuh terang
Tersudut perbuatan langgam gersang
Bandung, 31102017

PUISI Yesmil Anwar
KEDUDUKAN PRIBADI
Ketika manusia dilahirkan
Naskah Ilahi disematkan
Sebuah sosok dituliskan
Kerikil tajam
Tebing curam
Jalur pendakian
Tapak pijakan
Tanda kehadiran
Langit ditinggikan
Kedalaman lautan
Diselami ukur batasan
Batasan bumi dalam hitungan
Hutan rimba pegunungan
Daftar bacaan berderet panjang
Tebal kitab beribu halaman berjenjang
Rekam jejak belum jua genap
Perjalanan masih jauh lengkap
Masih sekitar aksesoris
Belum sampai kedalaman lubuk persis
Jauh lebih rumit
Gemuruh sunyi curam bukit
Gelap hening pekat denging
Naskah Ilahi berlembar daun daun di bumi
Masih kurang mumpuni
Tinta seluas sagara akan kering hanya satu kalimat rakhmat
“ Ada Esa “
Kelahiran manusia membaca untuk Ada
Takaran menalar kesadaran
Naskah Ilahi untuk kita manusia pilihan
Sei Menang OKI, 31102025

SAJAK-SAJAK Yesmil Anwar
SEDEKAP
Jangan Engkau jadikan Aku dikala hening saja
Jadikan Aku dikala riuh dan pikuknya dunia
Karena Aku harus utuh satu kesatuan keteraturan
Lupa sedikit atau abai akan ada
Maka Aku tidak ada
Adanya Aku adanya Engkau
Jangan gelapkan tirai barang sekedip lepas dari pandangan
Seperti jelasnya masuk benang pada lubang jarum paling kecil sekalipun
Engkau tidak hanya sedekat urat leher saja
Sekelupas kulit ari pun jangan lepas
Bahkan sehela nafas pun jangan
Aku harus ada sepenanggungan dengan Engkau
Tempatku bersama Engkau
Kemampuanku bukan penanam rente menanam riba
Atau ekonom culas dengan modal sedikit meraup untung sebanyak banyaknya
Jangan hinakan Aku dengan keledai pembawa tumpukan buku
Atau dengan teori teori usang yang tertimbun teori teori terbarukan
Adanya Aku adanya Engkau cukup untuk ada
Kelindan ini jangan jauhkan dari sekedar riuh pikuk sibuk siang semata
Sertakan seperti bercengkrama pada hening yang sunyi
Jangan libatkan lengah meskipun datang tetiba
Walau lupa kerap pula serta
Jangan
Garut, 1672025

PUISI Harris Priade Bah
SIRR
Ada dalam diam
Tidak datang dari teori teori penuh janji
Tidak datang dari seribu pengetahuan dengan relativitasnya
Falsafi pun tidak
Melainkan datang dari ruang sunyi
Tempat perjamuan sidik jari
Dimana kata kata mati makna
Seribu metafora hilang guna
Tempat begawan dengan tuan
Bertabur cahaya para spiritualis
Hanya didapat dari diamnya dalam
Kaula tuan rahasia cahaya padang arash
SEI MENANG OKI, 30102025

SAJAK-SAJAK Muhammad Ilham Kholik Siswadi
PERADUAN
Jampi-jampi malam
Tidurlah kelam
Besok kembali baca kalam
Bila ada waktu menyulam
Mata pun harus di pejam
Bandung, 29102015

SAJAK-SAJAK Lintang Ismaya
CANGKUL RANGKUL
Kerlap kerlip mata garang kunang
Bintang binar biru rangsang terbang
Jauh berenang meruang batas senang
Juntai lunglai rebah pasai setelah usai
Terkuras petualangan ngarai landai
Gairah lepas menyusur taman belai
Istirah rebah gairah sementara usai
Kelak bila kembali pada permukaan
Candu dupa mengepul pedupaan
Napak tilas bersama susur berbukaan
Sampai hilang bilang terang
Kelu kaku regang gerayangan
Tak perlu lagi heroik perjuangan
Mari sudahan pertempuran
Besok lihat hasil kesuburan
Buah apa dari gerusan
Bandung, 29102011

SAJAK Dody Satya Ekagustdiman
MELEMPAR LANGIT
Menyapa-Mu seluas hamparan
Dalam kabut ada takut yang turut
Seperti batu hitam gulita malam
Melemparmu dengan rajuk bujuk
Adakah setitik pencar dian
Untuk sekadar jalar benak berontak
Degup gemuruh dada di labirin-MU
Mengingat tubuh tak mau simpuh
Bandung, 29102016

SAJAK Dody Satya Ekagustdiman
Terima Kasih 28 Oktober 1928
Tidak tiba-tiba identitas kita datang tanpa bahasa untuk mengungkap isi kepala di sepanjang Khatulistiwa ini. Dan kecerdasan anak Bangsa tersirat dari jenialnya pendahulu kita yang menangkap isyarat/pesan Singkat Pencipta jagat. Lalu bersumpah dilantangkan ke beribu pulau sebagai pemersatu. Tidak dimiliki negara tetangga, dan mereka lebih memilih bahasa kolonial, lain dengan kita. Bahasa Indonesia mulai dilirik negeri-negeri tetangga dan dipelajarinya. Dan banyak dari kita merasa bangga berbicara gaya yang asing. Nian bahasa kita/ Indonesia itu indah daya ungkap
Semoga










Alhamdulillah…semakin bertambah bacaan puisiku. Nuhun, Kang🤝🙏