MENJELANG LEBARAN
DOA PENGAYUH BECA SEBELUM DIPENJARA
Udara terasa begitu dingin
menyemut ke sekujur badan hingga ke tulang
Sudah malam ke 23 belum pulang ke rumah
Di kontrakan yang cukup hanya sebadan
mata susah dipejamkan
Lebih baik bermalam di atas beca
barangkali ada Malaikat baik hati
yang kesasar ke jalan
Bulan seperti cerulit di tengah langit gelap
Jalan terentang sunyi lewat jam 00
Barangkali ini malam lailatul qadar
Rindu anak dan istri berkarat hingga ke sekujur besi tua
Semakin perih mendekati lebaran
Istriku tercinta, maafkan suamimu ini
Biasanya seminggu sekali pulang
Bahagia seperti keluarga lain sahur
dan buka bersama keluarga di rumah
Tahun ini jalan berbeda dengan Ramadhan
tahun-tahun sebelumnya
Tidak ada lagi musim panen bagi pengayuh beca
Jaman sudah berubah
bekerja tidak lagi mengandalkan tenaga
Sementara bapak miskin tidak paham tekhnologi
lagi pula masa bisa beca memakai aplikasi
Pagi ini tidak ada angin
tapi dingin bagai maut yang akan menjemput
Aku teringat kampung yang bercahaya puasa
gemerlapan masjid-mesjid malam hari
berkilapan tadarus Al-Qur’an di angkasa
Di kota puasa begitu panas dan bising
Berdesakan orang belanja makanan dan pakaian
Tempat dagang bertambah 1000 kali lipat dari biasa
Sampah bertumpukan di jalanan
Spanduk ucapan selamat menjalankan puasa dengan
bergambar politisi terpentang di mana-mana
Kota mulai macet kendaraan
Sebagai orang miskin di pinggiran jalan selalu ditunggu
lemparan sidqah walau sebatas gelas air mineral
dan sebungkus kurma buat tajil
Tukang beca hanyalah kantong plastik bekas
yang tergeletak di bawah papan reklame raksasa
paha perempuan
Bau lebaran sudah tercium menyengat
Teringat anak-anak dan istri di kampung
Dada jadi serasa dipenuhi asap
dan kepala memberat
pening bak ditusuk-tusuk jara
Warna-warni pakain berkibaran
seperti ribuan umbul-umbul pada suatu festival
Nak, maafkan bapakmu ini
tidak terasa air mata mengucur deras
Esoknya di pasar ramadan aku menyelinap
di antara paha orang-orang
Lalu aku digiring ke Polres dengan muka lebam dan
serasa remuk seluruh tulang badan
Tuhan, hamba tidak meminta kembali kepada kesucian
Cukup berilah anak istriku sepasang pakaian
Tasikmalaya, 2020

