Tabir
“Sami’na wa atho’na”
Hidup hanyalah sebuah lelucon
Yang dikisahkan para lakon
Terkadang tawa, kadang duka
Takdir bagaikan surup irama
Manusia diberkahi indera
Lahir maupun batinnya
Meniti takdir yang tak terbaca
Bagai pohon merapal sunyi di dada
Tasik, 2025

PUISI Ayie S Bukhary
Tumbuh
Lelaki itu, tumbuh dari batang-batang kayu
Yang rindang memeluk sunyi
Akar-akarnya kokoh mencengkeram bumi
Dari luka, ia belajar menjadi diri sendiri
Tasik, 2025

SAJAK Hasbi Afifi
Lenyap
Aku hanyalah sebatas pikir
Yang dirumuskan dari sepanjang dzikir
Melebur akal diantara fana dan baqa
Hingga tiada makna yang nyata
Tasik, 2025

SAJAK-SAJAK Ayie S Bukhary
Tabir
“Sami’na wa ‘ashaina”
Sepertinya, aku baru menyadari kisahnya
Sepanjang sujud dan doa-doa menumpuk di kedalaman dada
Entah sudah sampai ke arah yang mana
Sementara, aku masih membangkang dan melanjutkan jejaknya
Selayaknya kaum penerima manfaat dan mukjizat
yang tak tunduk dari perintah-Nya
Tasik, 2025

PUISI Diro Aritonang
Senandika Waktu
Memasuki risalah waktu yang semakin candu
Ini bukan cerita buku, melainkan fase di babak baru
Meski resah dan risih dalam keadaan buntu
Kiranya kutuliskan saja dengan bahasa kalbu
Biar tak seorang pun tahu, aku sedang diburu waktu
Tasik, 2025









