Catatan Kelam dan Kemenangan di Balik Lomba

Nyanyian Arief

Kala mata membaca, atau telinga mendengarkan sebuah nyanyian itu: Sampai saat ini, kenangan itu masih melekat sebagai catatan kelam di masa kecilku. Aku tidak suka, bahkan tidak pernah ingin menyukainya lagi, meski kenyataan berkata lain. Di momen ini, aku berada di posisi sebagai seorang fasilitator pendidikan, di mana anak didikku membutuhkan dukungan lebih daripada yang pernah aku rasakan dulu.

Aku masih ingat jelas, setiap malam sehabis belajar, aku selalu minta mama untuk mengajarkanku berlatih baris berbaris. Aku sangat bersemangat, bahkan hingga mama bosan mendengarnya. Tetapi, aku tidak pernah patah semangat. Aku berlatih dengan gigih, membayangkan diriku berada di posisi barisan dalam lomba tingkat, rasanya sudah tidak sabar ingin segera.

Namun, impian itu hancur ketika pengumuman regu untuk lomba di luar sekolah. Namaku yang tadinya ada di daftar, ternyata telah digantikan oleh orang lain, orang baru yang mungkin lebih diinginkan oleh guru. Hatiku hancur saat itu. Aku pulang ke rumah dengan mata berkaca-kaca, lalu mengadukan semuanya kepada mama. “Ma, aku tidak masuk lomba tingkat, sebab ada orang yang menggantikan,” ucapku dengan rasa kecewa.

Mama, yang selalu tenang, hanya berkata, “Lah kok gitu.” Aku tak bisa menjelaskan lebih jauh. “Ya gatau, itu bapak anu yang ngumumin,” jawabku dengan nada lemas. Mama dengan tenangnya menanggapi, “Ya sudah, nanti mama bilang lagi ke gurunya.”

Mama, dengan segala kebijaksanaannya, berbicara dengan guruku itu. Entah apa yang dikatakan, tapi keesokan harinya aku dipanggil kembali; dipanggil masuk ke regu sekolah. Tidak hanya itu, aku bahkan dipercaya untuk memegang bagian peta pita bersama kawanku, dan kami berdua mencoba berlatih. Saat itu pula, rasanya seperti dunia memberikan kesempatan kedua.

Pada hari lomba tiba, aku bersama kawanku mencoba melakukan yang terbaik, dan semangat yang aku kumpulkan selama latihan semuanya terbayar, regu kami berhasil meraih juara 3. Ya, meskipun juara 3, aku merasa sangat bangga saat itu. 

Kini, posisiku sebagai seorang fasilitator pendidikan, setiap kali aku melihat anak didikku melaksanakan kegiatan ini, aku tidak pernah ingin melihat mereka kecewa, tidak ingin mereka merasakan apa yang pernah aku alami saat itu. Aku sadar, betapa sakitnya dikecewakan, betapa pahitnya disisihkan. Aku akan berusaha memberi dukungan dan menjadi sumber kekuatan bagi mereka, sebagaimana mama pernah menjadi kekuatanku.

Sampai saat ini, kenangan itu masih melekat sebagai catatan kelam dari masa sekolah dasarku. Aku tidak suka, bahkan tidak pernah ingin menyukainya lagi, meski kenyataan berkata lain. Dan musik nyanyian itulah yang semakin menyadarkanku:

Di momen ini, lebih kepada sebuah pengabdian, di mana anak didikku membutuhkan dukungan lebih daripada yang pernah aku rasakan dulu. Setiap kali aku melihat anak didikku melaksanakan kegiatan ini, aku tidak pernah ingin melihat mereka kecewa, bahkan tidak ingin mereka merasakan apa yang pernah aku alami saat itu. Padahal semuanya sangat sederhana: tekad dalam keseriusan kitalah yang bisa menghantarkan mereka sampai bisa. Konsekuen pada ikrar kala bersedia jadi tenaga pendidik.

Ya! Aku sadar, betapa sakitnya dikecewakan, betapa pahitnya disisihkan. Sebagai fasilitator pendidikan, aku akan berusaha memberi dukungan dan menjadi sumber kekuatan bagi mereka, sebagaimana mama pernah menjadi kekuatanku saat aku diremehkan. Pelajaran mahal dari mama yang kusadari hingga detik ini kala menemui pak anu; jangan sampai kekuasaan dibungkus dengan kata-kata yang seolah netral, tapi sebenarnya penuh intrik. []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *